BEI Catat 7 Calon Perusahaan IPO Awal 2026, Mayoritas Berskala Besar dan Menarik Bagi Investor Institusi maupun Ritel

Senin, 19 Januari 2026 | 12:00:44 WIB
BEI Catat 7 Calon Perusahaan IPO Awal 2026, Mayoritas Berskala Besar dan Menarik Bagi Investor Institusi maupun Ritel

JAKARTA - Investor pasar saham kembali bersiap menyambut hajatan IPO di Bursa Efek Indonesia pada awal tahun 2026. Sejumlah perusahaan diperkirakan akan melantai dalam waktu dekat, memicu antusiasme para pemburu saham perdana.

Sepanjang tahun 2025, IPO saham menunjukkan tren positif dan mendatangkan keuntungan bagi investor. Manajemen PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat terdapat tujuh perusahaan yang tengah mempersiapkan pencatatan saham.

Mayoritas perusahaan dalam antrean IPO merupakan entitas dengan aset besar. Hal ini menandakan bahwa perusahaan skala besar tetap menjadi primadona dalam pasar modal Indonesia.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengungkapkan, hingga saat ini terdapat tujuh perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI. “Hingga saat ini, terdapat 7 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” ujarnya pada Jumat, 16 Januari 2026.

Dari tujuh calon emiten tersebut, lima perusahaan memiliki total aset di atas Rp250 miliar. Sementara itu, satu perusahaan masuk kategori menengah dengan aset antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar.

Satu perusahaan lainnya tercatat berskala kecil dengan aset di bawah Rp50 miliar. Kondisi ini menunjukkan keberagaman skala perusahaan yang siap melantai di bursa pada awal 2026.

Sektor Usaha Calon Perusahaan IPO

Antrean IPO BEI menunjukkan keberagaman sektor usaha calon emiten. Terdapat satu perusahaan dari sektor basic materials dan dua perusahaan dari sektor finansial yang siap mencatatkan sahamnya.

Selain itu, ada satu perusahaan dari sektor energi, satu dari sektor industri, satu dari sektor teknologi, dan satu perusahaan dari sektor transportasi serta logistik. Hal ini mencerminkan distribusi sektor usaha yang merata di pipeline IPO BEI.

Meski pipeline IPO sudah terisi, hingga 15 Januari 2026 belum ada perusahaan yang resmi melantai di bursa. Aktivitas pasar modal pada awal tahun ini masih didominasi oleh penerbitan Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS).

BEI mencatat, pada periode yang sama, terdapat sembilan emisi dari tujuh penerbit EBUS yang telah terbit. Total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp5,85 triliun, menunjukkan bahwa aktivitas pendanaan tetap berjalan meski IPO belum dimulai.

Selain itu, masih terdapat sepuluh emisi dari lima penerbit EBUS yang sedang menunggu proses penerbitan. Hal ini menegaskan bahwa pasar modal Indonesia tetap aktif melalui instrumen pendanaan alternatif.

Aktivitas Korporasi Selain IPO

Di luar IPO, aksi korporasi lain juga berjalan secara konsisten. Hingga pertengahan Januari 2026, tiga perusahaan telah menyelesaikan aksi rights issue dengan total nilai Rp2,90 triliun.

Sementara itu, satu perusahaan dari sektor properti dan real estate masih berada dalam antrean untuk melaksanakan rights issue. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar modal tetap menyediakan jalur pendanaan bagi perusahaan meski IPO belum ramai.

Rights issue menjadi salah satu instrumen penting dalam memperkuat struktur modal perusahaan. Aktivitas ini juga menunjukkan bahwa perusahaan tetap aktif memanfaatkan pasar modal untuk mendukung ekspansi dan pengembangan usaha.

Meski IPO awal 2026 belum mulai bergeliat, aktivitas pendanaan melalui EBUS dan rights issue memberikan dinamika positif bagi investor. Pasar modal tetap menarik bagi pihak yang ingin menanamkan modal dalam berbagai instrumen keuangan.

Prospek dan Strategi Investor Menyambut IPO

Investor perlu mempersiapkan strategi sebelum IPO dimulai. Mengetahui pipeline calon emiten dan sektor usahanya menjadi kunci untuk menentukan pilihan saham perdana yang potensial.

Keberagaman sektor dan skala perusahaan menunjukkan peluang investasi yang berbeda-beda. Investor dapat menyesuaikan portofolio berdasarkan profil risiko dan target imbal hasil yang diinginkan.

Pipeline IPO yang mayoritas terdiri dari perusahaan besar menunjukkan potensi likuiditas yang tinggi. Hal ini menarik bagi investor institusi maupun ritel yang mencari stabilitas dalam saham perdana.

Sementara itu, perusahaan menengah dan kecil memberikan peluang pertumbuhan yang lebih agresif. Investor yang bersedia mengambil risiko lebih tinggi bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk potensi keuntungan di masa depan.

Kesiapan tujuh perusahaan untuk melantai di bursa juga menjadi indikator positif bagi pertumbuhan pasar modal. Investor bisa memantau perkembangan pipeline untuk menentukan waktu yang tepat dalam berinvestasi.

Aktivitas pendanaan melalui EBUS dan rights issue juga menambah likuiditas pasar. Hal ini menjaga pasar modal tetap hidup dan memberikan opsi diversifikasi bagi investor.

Dengan antisipasi IPO dan aksi korporasi lainnya, investor memiliki banyak pilihan untuk menyesuaikan strategi keuangan. Keberagaman instrumen ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pelaku pasar di awal 2026.

Meski IPO awal tahun belum ramai, aktivitas pasar modal tetap menunjukkan optimisme. Investor dan perusahaan sama-sama bersiap menyambut peluang baru yang akan muncul di bulan-bulan mendatang.

Pipeline IPO yang solid dan aktivitas korporasi yang berjalan konsisten menegaskan kesehatan pasar modal Indonesia. Hal ini menjadi sinyal positif bagi ekonomi nasional dan kepercayaan investor.

Investor diimbau untuk tetap memantau perkembangan pipeline dan aksi korporasi lain secara berkala. Dengan informasi yang tepat, peluang investasi bisa dimaksimalkan sejak awal tahun 2026.

Hingga pertengahan Januari 2026, aktivitas IPO memang belum dimulai, tetapi prospek pasar modal tetap cerah. Investor dapat mempersiapkan strategi jangka pendek maupun panjang berdasarkan informasi pipeline calon emiten.

Kondisi ini menegaskan bahwa pasar modal Indonesia tetap dinamis dan memiliki beragam instrumen untuk mendukung pertumbuhan perusahaan. Investor pun memiliki kesempatan menilai berbagai opsi investasi secara matang.

Terkini