JAKARTA - Industri kendaraan listrik nasional kembali mencatat perkembangan penting di awal tahun 2026. Produsen otomotif asal China, Geely, resmi memulai perakitan lokal mobil listrik terbarunya, EX2, di Indonesia.
Langkah ini menandai keseriusan Geely dalam memperluas pasar kendaraan listrik di Tanah Air. Produksi lokal juga menjadi sinyal kuat komitmen jangka panjang perusahaan.
Mobil listrik EX2 sebelumnya telah diperkenalkan kepada publik pada November 2025. Kehadirannya langsung menarik perhatian karena berada di segmen harga Rp200 jutaan.
Perakitan lokal EX2 dilakukan di fasilitas milik Handal Indonesia Motor. Pabrik ini menjadi mitra strategis Geely untuk produksi kendaraan di Indonesia.
Dengan dimulainya perakitan EX2, Geely kini memiliki tiga model yang dirakit secara lokal. Sebelumnya, perusahaan telah memproduksi Starray EM-i dan EX5.
Keputusan ini memperkuat posisi Geely sebagai salah satu pemain aktif di industri kendaraan listrik nasional. Indonesia menjadi basis produksi penting bagi ekspansi regional.
Produksi lokal dinilai mampu meningkatkan daya saing harga. Selain itu, langkah ini juga mendukung kebijakan penguatan industri otomotif dalam negeri.
Geely melihat potensi pasar kendaraan listrik Indonesia masih sangat besar. Permintaan konsumen terus tumbuh seiring meningkatnya kesadaran lingkungan.
EX2 hadir sebagai opsi kendaraan listrik terjangkau bagi masyarakat luas. Strategi ini sejalan dengan tren elektrifikasi kendaraan nasional.
Dengan produksi lokal, distribusi unit ke konsumen diharapkan lebih cepat. Proses logistik pun menjadi lebih efisien.
Respons Pasar Positif Sejak Tahap Pre-Booking
Sejak tahap pre-booking dibuka pada November 2025, Geely EX2 mendapat sambutan positif. Antusiasme pasar terlihat dari jumlah pemesanan yang tercatat.
CEO Geely Auto Indonesia, Wu Chuxing, menyampaikan bahwa EX2 telah mengantongi lebih dari 1.000 surat pemesanan kendaraan. Angka ini dinilai cukup signifikan untuk model baru.
Pernyataan tersebut disampaikan Wu Chuxing dalam keterangan tertulis. Informasi itu dikutip pada Senin, 19 Januari 2026.
Respons positif ini menjadi salah satu alasan dimulainya perakitan lokal. Geely ingin segera memenuhi permintaan konsumen di Indonesia.
Wu Chuxing juga menyampaikan bahwa harga resmi EX2 akan diumumkan dalam waktu dekat. Pengumuman tersebut ditunggu oleh calon konsumen.
Sebelumnya, Geely telah menetapkan harga pre-book untuk beberapa varian. Harga tersebut menjadi acuan awal bagi pasar.
Untuk varian EX2 Max, harga pre-book ditetapkan Rp299,9 juta dan Rp273 juta. Sementara varian EX2 Pro dibanderol Rp255,9 juta dan Rp233 juta.
Rentang harga ini menempatkan EX2 di segmen kendaraan listrik terjangkau. Hal ini menjadi daya tarik utama bagi konsumen.
Dengan harga kompetitif, Geely berharap dapat menjangkau pasar yang lebih luas. Strategi ini menyasar konsumen first-time EV buyer.
Produksi lokal juga membantu menjaga stabilitas harga. Biaya impor dapat ditekan melalui perakitan di dalam negeri.
TKDN, Kolaborasi Lokal, dan Penguatan Industri EV
Geely menyebut bahwa EX2 dirakit dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri sebesar 46,5 persen. Angka ini menunjukkan keterlibatan industri lokal dalam proses produksi.
Peningkatan TKDN menjadi bagian penting dari strategi Geely. Perusahaan ingin berkontribusi pada pengembangan industri otomotif nasional.
Wu Chuxing menegaskan bahwa perakitan lokal bukan sekadar memenuhi permintaan pasar. Langkah ini juga bertujuan memperkuat fondasi industri kendaraan listrik.
Geely menggandeng sejumlah mitra lokal dalam rantai pasok. Salah satunya adalah kerja sama dengan Gotion untuk penyediaan battery cell.
Kemitraan dengan Gotion dinilai strategis. Kolaborasi ini mendukung pengembangan industri baterai di Indonesia.
Dengan pasokan baterai lokal, rantai nilai industri kendaraan listrik menjadi lebih kuat. Ketergantungan pada impor dapat dikurangi secara bertahap.
Geely menilai kolaborasi ini menciptakan ekosistem yang berkelanjutan. Industri lokal mendapat transfer pengetahuan dan teknologi.
Selain itu, kemitraan ini memperkuat kesiapan Indonesia sebagai basis produksi EV. Nilai tambah industri di dalam negeri pun meningkat.
Langkah ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah. Penguatan industri baterai menjadi salah satu prioritas nasional.
Dengan keterlibatan manufaktur lokal, Geely berharap dampak ekonomi dapat dirasakan lebih luas. Mulai dari tenaga kerja hingga sektor pendukung lainnya.
Teknologi Keamanan dan Standar Produksi Global
Dari sisi teknologi, Geely EX2 dibekali baterai dengan teknologi Cell-to-Pack. Teknologi ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan keamanan.
Sistem baterai tersebut dilengkapi Geely Battery Safety System. Selain itu, digunakan pula sistem pendingin berbasis cairan.
Seluruh standar keselamatan tetap mengacu pada protokol global Geely. Hal ini dilakukan untuk menjaga kualitas produk.
Geely memastikan bahwa keamanan konsumen menjadi prioritas utama. Setiap unit EX2 harus memenuhi standar sertifikasi internasional.
Di lini produksi, penguatan manufaktur dilakukan secara menyeluruh. Geely menerapkan sistem produksi global yang telah teruji.
Penerapan Geely Manufacturing Enterprise System dilakukan di fasilitas perakitan. Sistem ini memastikan konsistensi kualitas di setiap tahap produksi.
Setiap unit EX2 menjalani serangkaian pengujian ketat. Pengujian tersebut mencakup performa dan sistem bantuan pengemudi.
Advanced Driver Assistance System atau ADAS diuji dalam berbagai skenario berkendara. Tujuannya untuk memastikan sistem bekerja optimal.
Selain teknologi, pengembangan sumber daya manusia juga menjadi fokus. Karyawan lokal mendapatkan pelatihan teknis intensif.
Pelatihan dilakukan melalui knowledge sharing dan pendampingan langsung. Tim global Geely terlibat dalam proses ini.
Transfer teknologi menjadi salah satu manfaat utama perakitan lokal. Kompetensi manufaktur tenaga kerja Indonesia diharapkan meningkat.
Geely menegaskan bahwa komitmen lokalisasi akan terus diperkuat. Transfer teknologi dan peningkatan TKDN menjadi bagian dari strategi jangka panjang.
Dengan produksi massal EX2 di Indonesia, Geely optimistis dapat memperluas penetrasi kendaraan listrik. Pasar domestik menjadi fokus utama di tahap awal.
Langkah ini juga memperlihatkan kesiapan industri nasional menyambut era elektrifikasi. Kolaborasi global dan lokal menjadi kunci keberhasilan.
Produksi EX2 di Indonesia diharapkan mendorong percepatan adopsi EV. Kendaraan listrik kini semakin dekat dengan masyarakat luas.