JAKARTA - Ketika penjualan kendaraan bermotor belum sepenuhnya kembali ke jalur pertumbuhan, perusahaan pembiayaan dituntut untuk lebih adaptif membaca peluang. PT CIMB Niaga Auto Finance atau CNAF memilih memperkuat pembiayaan multiguna sebagai strategi utama menjaga kinerja bisnis.
Langkah ini diambil di tengah kondisi pasar otomotif yang masih menghadapi tantangan. Proyeksi pertumbuhan sektor otomotif yang cenderung stagnan mendorong CNAF untuk tidak hanya bergantung pada pembiayaan kendaraan.
CNAF melihat bahwa kebutuhan pembiayaan masyarakat tidak hanya terbatas pada pembelian kendaraan. Pembiayaan multiguna dinilai memiliki fleksibilitas yang lebih luas dan mampu menjangkau berbagai kebutuhan konsumen.
Presiden Direktur CNAF, Ristiawan Suherman, mengatakan kondisi pasar saat ini memerlukan strategi yang lebih beragam. Perusahaan perlu memperkuat portofolio agar tetap tumbuh di tengah dinamika ekonomi.
“Melihat situasi market yang saat ini cukup menantang ditambah dengan segmen otomotif yang diproyeksi akan tumbuh stagnan, CNAF melihat pembiayaan multiguna masih dapat menjadi penopang pertumbuhan,” kata Ristiawan, Jumat, 23 Januari 2026.
Menurutnya, pembiayaan multiguna memberikan ruang yang lebih besar untuk menyesuaikan produk dengan kebutuhan nasabah. Fleksibilitas tersebut menjadi nilai tambah dalam kondisi pasar yang belum stabil.
CNAF menilai bahwa pembiayaan multiguna dapat menjadi solusi keuangan yang relevan bagi masyarakat. Produk ini tidak hanya mendukung konsumsi, tetapi juga kebutuhan produktif.
Diversifikasi Portofolio di Tengah Tantangan Pasar
Selain mengandalkan pembiayaan multiguna, CNAF juga melakukan diversifikasi ke berbagai segmen pembiayaan lainnya. Strategi ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan portofolio bisnis.
Ristiawan menyebut bahwa CNAF tidak hanya fokus pada satu jenis pembiayaan. Perusahaan juga masuk ke pembiayaan emas, pembiayaan haji, serta sektor komersial.
Diversifikasi ini bertujuan untuk memperluas sumber pendapatan. Dengan begitu, risiko ketergantungan pada satu segmen dapat ditekan.
Pembiayaan emas dipandang memiliki potensi seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap instrumen lindung nilai. Sementara pembiayaan haji menjawab kebutuhan masyarakat yang mempersiapkan ibadah jangka panjang.
Di sisi lain, sektor komersial juga menjadi perhatian CNAF. Segmen ini dinilai memiliki prospek stabil meski kondisi ekonomi berfluktuasi.
Ristiawan menegaskan bahwa strategi diversifikasi merupakan langkah penting dalam menghadapi ketidakpastian pasar. Dengan portofolio yang lebih seimbang, perusahaan dapat lebih adaptif.
Pendekatan ini juga memungkinkan CNAF menjangkau segmen nasabah yang lebih luas. Tidak hanya individu, tetapi juga pelaku usaha dengan kebutuhan pembiayaan tertentu.
CNAF melihat bahwa permintaan pembiayaan akan terus berkembang seiring perubahan pola konsumsi masyarakat. Oleh karena itu, inovasi produk menjadi keharusan.
Perusahaan berupaya menyesuaikan produk pembiayaan dengan kebutuhan aktual nasabah. Fleksibilitas dan kemudahan akses menjadi fokus utama.
Momentum Ramadan Dorong Permintaan Pembiayaan
Menjelang periode Ramadan, CNAF memproyeksikan adanya peningkatan permintaan pembiayaan multiguna. Pola ini dinilai konsisten terjadi setiap tahun.
Ristiawan menjelaskan bahwa Ramadan kerap menjadi momentum meningkatnya kebutuhan masyarakat. Baik untuk kebutuhan konsumsi maupun perencanaan keuangan lainnya.
“Ramadan biasanya menjadi momentum untuk memaksimalkan penyaluran pembiayaan multiguna,” kata Ristiawan. Peningkatan ini dipicu oleh beragam kebutuhan tambahan selama bulan tersebut.
Kebutuhan dana tunai cenderung meningkat menjelang Ramadan. Selain itu, sebagian masyarakat juga memanfaatkan momen ini untuk membeli kendaraan baru atau bekas.
CNAF memandang momen musiman ini sebagai peluang strategis. Perusahaan berupaya mengoptimalkan penyaluran pembiayaan tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian.
Permintaan yang meningkat juga mendorong CNAF untuk memastikan kesiapan layanan. Proses pengajuan pembiayaan harus tetap efisien dan cepat.
CNAF menilai bahwa kecepatan layanan menjadi faktor penentu kepuasan nasabah. Oleh karena itu, strategi operasional disesuaikan dengan lonjakan permintaan.
Di sisi lain, perusahaan tetap menjaga kualitas pembiayaan. Analisis risiko tetap dilakukan secara menyeluruh.
Pendekatan ini bertujuan menjaga kualitas aset di tengah ekspansi pembiayaan. CNAF ingin pertumbuhan tetap berkelanjutan.
Digitalisasi Jadi Kunci Akses Pembiayaan
Untuk menangkap peluang pertumbuhan, CNAF mengedepankan strategi digitalisasi. Fokus utama digitalisasi adalah kecepatan dan simplifikasi proses.
CNAF menyadari bahwa masyarakat semakin menginginkan proses yang praktis. Digitalisasi menjadi jawaban atas kebutuhan tersebut.
Melalui platform digital, pengajuan pembiayaan dapat dilakukan dengan lebih mudah. Nasabah tidak perlu melalui proses yang berbelit.
Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan akses pembiayaan bagi masyarakat. Baik di wilayah perkotaan maupun daerah yang lebih luas.
CNAF terus menyempurnakan sistem digitalnya agar lebih ramah pengguna. Proses pengajuan dirancang agar lebih transparan dan efisien.
Digitalisasi juga memungkinkan CNAF mempercepat proses persetujuan pembiayaan. Hal ini memberikan nilai tambah bagi nasabah yang membutuhkan dana cepat.
Ristiawan menegaskan bahwa digitalisasi bukan sekadar tren. Bagi CNAF, digitalisasi merupakan strategi jangka panjang.
“Dengan digitalisasi, CNAF siap menjadi financial solution bagi masyarakat yang membutuhkan akses pembiayaan,” tutup Ristiawan. Pernyataan ini menegaskan arah transformasi perusahaan.
Melalui pendekatan digital, CNAF berharap dapat menjangkau lebih banyak nasabah. Inovasi teknologi menjadi fondasi pengembangan bisnis ke depan.
CNAF melihat bahwa kombinasi pembiayaan multiguna dan digitalisasi dapat saling menguatkan. Keduanya menjadi pilar utama dalam menghadapi pasar yang menantang.
Dengan strategi tersebut, CNAF optimistis dapat menjaga kinerja bisnis di tengah stagnasi sektor otomotif. Perusahaan terus beradaptasi dengan kebutuhan pasar yang dinamis.