JAKARTA - Pergerakan rupiah di pasar spot menunjukkan penguatan yang stabil hingga perdagangan tengah hari ini. Pada Jumat, 23 Januari 2026, rupiah tercatat berada di level Rp16.834 per dolar Amerika Serikat (AS).
Penguatan ini setara dengan 0,37% dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.896 per dolar AS. Tren positif rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang utama di kawasan Asia.
Mata Uang Asia yang Menguat di Tengah Perdagangan
Hingga pukul 12.00 WIB, ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia, melonjak 0,84%. Posisi ini menempatkan ringgit sebagai salah satu mata uang paling stabil di tengah fluktuasi global.
Dolar Taiwan mencatat penguatan 0,23% terhadap dolar AS pada tengah hari ini. Peso Filipina juga naik 0,17% sementara dolar Singapura meningkat 0,14%, menunjukkan tren positif di Asia Tenggara.
Yuan China mengalami kenaikan tipis 0,08% terhadap dolar AS. Rupee India mengikuti tren penguatan dengan kenaikan 0,03%, menambah daftar mata uang Asia yang bergerak positif.
Mata Uang yang Melemah di Pasar Asia
Di sisi lain, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia pada perdagangan tengah hari ini, turun 0,16%. Koreksi ini menjadi perhatian investor yang menilai risiko di pasar Asia Timur.
Yen Jepang juga terkoreksi sebesar 0,09%, sedangkan baht Thailand turun tipis 0,04%. Dolar Hongkong melemah 0,02%, meski pengaruhnya relatif kecil terhadap perdagangan regional.
Faktor yang Mempengaruhi Penguatan Rupiah
Penguatan rupiah sebagian besar dipengaruhi oleh sentimen positif di pasar Asia. Stabilitas ekonomi regional dan fluktuasi dolar AS menjadi faktor kunci pergerakan mata uang.
Selain itu, aktivitas perdagangan, arus modal asing, dan ekspektasi suku bunga global turut mendukung posisi rupiah di level yang lebih tinggi. Investor pun memantau pergerakan ini untuk mengambil keputusan jual atau beli.
Penguatan mata uang Asia lain seperti ringgit dan peso Filipina menunjukkan adanya optimisme pasar regional. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa sentimen risiko global masih menjadi penggerak utama pergerakan mata uang.
Strategi Investor di Tengah Penguatan Rupiah
Bagi investor, penguatan rupiah dapat menjadi peluang untuk diversifikasi portofolio. Mengikuti tren mata uang regional memungkinkan strategi hedging terhadap dolar AS.
Investor yang memiliki eksposur ke perdagangan internasional juga perlu memperhatikan fluktuasi mata uang Asia lain. Dengan pergerakan yang beragam, pemantauan harian menjadi langkah penting untuk memaksimalkan keuntungan dan meminimalkan risiko.
Rupiah yang menguat di tengah perdagangan Asia menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu mata uang yang stabil. Tren ini memberikan peluang dan optimisme bagi pelaku pasar domestik maupun regional.
Fluktuasi mata uang lainnya, baik yang menguat maupun melemah, menjadi indikator penting bagi pelaku pasar. Dengan memantau pergerakan harian, investor dapat menyesuaikan strategi investasi sesuai kondisi pasar.
Penguatan rupiah hingga Rp16.834 per dolar AS hari ini menunjukkan tren positif yang berpotensi berlanjut. Kondisi ini tetap harus diikuti dengan kewaspadaan terhadap sentimen global yang cepat berubah.