JAKARTA - Menjalani puasa bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga kondisi tubuh agar tetap stabil sepanjang hari. Bagi sebagian orang yang memiliki riwayat vertigo, momen puasa kerap dibayangi rasa khawatir akan munculnya sensasi berputar yang tiba-tiba dan melemahkan.
Kekhawatiran tersebut wajar, karena perubahan jam makan, minum, dan tidur memang dapat memengaruhi keseimbangan tubuh. Namun demikian, puasa tetap dapat dijalani dengan tenang apabila pemicu vertigo dikenali sejak awal dan disiasati dengan kebiasaan yang tepat.
Vertigo sering kali disalahartikan sebagai pusing biasa akibat lapar atau kelelahan. Padahal, kondisi ini memiliki karakteristik yang berbeda dan dapat memengaruhi aktivitas ibadah maupun rutinitas harian secara signifikan.
Dengan pendekatan yang tepat, penderita vertigo tidak perlu merasa ragu untuk menjalankan puasa. Kunci utamanya adalah memahami kondisi tubuh sendiri dan menyesuaikan pola hidup selama bulan puasa.
Mengenal Vertigo dan Dampaknya Saat Puasa
Vertigo bukan sekadar rasa kepala ringan atau lemas, melainkan sensasi palsu seolah-olah tubuh atau lingkungan sekitar sedang berputar. Sensasi ini dapat muncul tiba-tiba dan sering disertai mual, muntah, hingga gangguan keseimbangan.
Kondisi tersebut umumnya berkaitan dengan gangguan pada telinga bagian dalam atau sistem saraf yang mengatur keseimbangan tubuh. Karena itulah, vertigo sering terasa lebih berat dibandingkan pusing biasa yang disebabkan oleh lapar atau kurang tidur.
Salah satu penyebab vertigo yang paling sering dijumpai adalah Benign Paroxysmal Positional Vertigo atau BPPV. Kondisi ini terjadi akibat adanya endapan kalsium kecil di telinga bagian dalam yang mengganggu sistem keseimbangan.
Selain BPPV, penyakit Meniere juga kerap menjadi pemicu vertigo yang berulang. Penyakit ini ditandai dengan penumpukan cairan di telinga bagian dalam yang menyebabkan vertigo, telinga berdenging, serta gangguan pendengaran.
Migrain vestibular juga termasuk penyebab vertigo yang cukup sering dialami. Jenis migrain ini tidak hanya menimbulkan sakit kepala, tetapi juga memengaruhi sistem keseimbangan sehingga memicu rasa berputar.
Memahami jenis vertigo yang dialami menjadi langkah awal yang sangat penting. Setiap jenis vertigo memiliki pemicu dan pola kambuh yang berbeda, sehingga penanganannya pun perlu disesuaikan.
Tanpa pemahaman yang tepat, vertigo berisiko kambuh berulang kali, terutama saat tubuh mengalami perubahan ritme seperti ketika berpuasa. Oleh karena itu, mengenali karakteristik vertigo yang dialami dapat membantu mengurangi risiko kekambuhan.
Penyesuaian Pola Hidup Selama Puasa
Puasa menyebabkan perubahan signifikan pada pola makan dan minum sehari-hari. Perubahan ini dapat memengaruhi keseimbangan cairan dan energi tubuh, yang berperan penting dalam mencegah vertigo.
Salah satu faktor yang paling sering memicu vertigo saat puasa adalah dehidrasi. Kurangnya asupan cairan dapat mengganggu aliran darah dan fungsi telinga bagian dalam.
Untuk mencegah hal tersebut, penting memastikan tubuh tetap terhidrasi dengan baik. Minum air putih secara cukup saat sahur dan berbuka menjadi langkah dasar yang tidak boleh diabaikan.
Pola minum yang teratur dapat membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh. Pembagian minum dua gelas saat sahur, empat gelas saat berbuka, dan dua gelas sebelum tidur dapat menjadi panduan sederhana.
Selain cairan, asupan makanan juga memegang peranan penting. Makanan bergizi membantu menjaga energi dan kestabilan tubuh sepanjang hari.
Konsumsi makanan yang mengandung protein, serat, dan karbohidrat kompleks sangat dianjurkan saat sahur dan berbuka. Kombinasi nutrisi tersebut membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil.
Sebaliknya, konsumsi garam dan kafein sebaiknya dibatasi. Kedua zat ini dapat memengaruhi keseimbangan cairan di telinga bagian dalam dan berpotensi memicu vertigo.
Perubahan posisi tubuh juga perlu diperhatikan selama puasa. Bangun secara tiba-tiba dari posisi tidur atau duduk dapat menyebabkan pusing dan memicu vertigo.
Oleh karena itu, biasakan bergerak secara perlahan saat berpindah posisi. Memberi waktu bagi tubuh untuk beradaptasi dapat membantu mencegah hipotensi ortostatik yang sering memicu rasa pusing.
Saat menjalankan ibadah shalat, jeda singkat sebelum berdiri dari sujud juga sangat dianjurkan. Langkah sederhana ini memberi kesempatan bagi tubuh untuk menyesuaikan aliran darah.
Istirahat, Stres, dan Aktivitas Harian
Kualitas tidur memiliki pengaruh besar terhadap kondisi vertigo. Kurang tidur dapat memperburuk gejala dan membuat tubuh lebih rentan mengalami gangguan keseimbangan.
Selama puasa, pola tidur sering berubah karena harus bangun lebih awal untuk sahur. Oleh karena itu, penting mengatur waktu tidur agar tetap mendapatkan istirahat yang cukup.
Tidur selama enam hingga delapan jam setiap malam dapat membantu menjaga kebugaran tubuh. Mengurangi kebiasaan begadang juga sangat dianjurkan untuk mencegah kelelahan berlebih.
Selain tidur, faktor stres juga tidak boleh diabaikan. Stres yang tidak terkelola dengan baik dapat memperparah gejala vertigo dan membuat tubuh lebih mudah lelah.
Teknik relaksasi sederhana dapat membantu menjaga ketenangan pikiran. Pernapasan dalam, meditasi ringan, atau aktivitas menenangkan lainnya dapat dilakukan secara rutin.
Aktivitas fisik selama puasa juga perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh. Aktivitas berat yang menguras energi sebaiknya dihindari untuk mencegah kelelahan dan kekambuhan vertigo.
Memilih aktivitas ringan hingga sedang dapat membantu menjaga kebugaran tanpa membebani tubuh. Mendengarkan sinyal tubuh menjadi kunci utama dalam menentukan batas aktivitas harian.
Jika berbagai langkah pencegahan telah dilakukan namun vertigo tetap sering kambuh, langkah selanjutnya adalah mencari bantuan medis. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui penyebab pasti vertigo yang dialami.