Kemandirian Alat Kesehatan 2026: Indonesia Dorong Produksi Teknologi Tinggi Lokal

Senin, 26 Januari 2026 | 15:55:09 WIB
Kemandirian Alat Kesehatan 2026: Indonesia Dorong Produksi Teknologi Tinggi Lokal

JAKARTA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan pentingnya transfer teknologi untuk memperkuat kemandirian alat kesehatan (alkes) nasional. Langkah ini dilakukan melalui kerja sama dengan perusahaan seperti Philips, Graha Teknomedika, dan Panasonic Healthcare Indonesia.

Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes, Lucia Rizka Andalusia, menyampaikan bahwa saat ini 80 persen alkes berteknologi tinggi masih bergantung pada impor. Sebaliknya, 80 persen alkes dengan teknologi rendah dan menengah sudah dapat diproduksi secara lokal.

Strategi Memperkuat Produksi Alkes Domestik

Produksi alkes secara menyeluruh di dalam negeri menjadi bagian penting dari rantai suplai nasional. Hal ini memastikan ketersediaan alat kesehatan saat terjadi pembatasan impor, termasuk di masa pandemi.

"Nggak akan ada kekosongan, kekurangan. Dan yang penting juga mendukung program investasi di Indonesia, baik dari segi kuantitas maupun kualitas value added," jelas Rizka.

Selain mengurangi ketergantungan impor, transfer teknologi domestik membuka peluang penyerapan tenaga kerja. Dengan memproduksi alkes di dalam negeri, SDM terlatih dapat ditempatkan langsung di lapangan kerja terkait produksi.

Dua produk utama yang menjadi fokus transfer teknologi saat ini adalah ultrasound dan patient monitor. Harapannya, produksi ini bukan berhenti di dua produk tersebut saja, melainkan juga mencakup alat kesehatan berteknologi tinggi lain.

Potensi Produksi Teknologi Tinggi

Kemenkes menargetkan agar alat kesehatan seperti CT Scan, Cath Lab, dan MRI dapat diproduksi secara lokal. Produksi ini diharapkan memenuhi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang signifikan, mencapai lebih dari 50 persen jika seluruh proses dilakukan end-to-end.

Langkah ini sekaligus mendukung kemandirian alkes nasional sekaligus meningkatkan kualitas layanan kesehatan. Produksi lokal tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik tetapi juga memperkuat posisi Indonesia di pasar regional.

Transfer teknologi diharapkan memacu inovasi dalam sektor kesehatan. Dengan teknologi tinggi yang diproduksi di Indonesia, biaya perawatan dapat ditekan dan akses bagi pasien semakin meningkat.

Dukungan Pemerintah dan Investasi

Kementerian Investasi dan Hilirisasi menegaskan dukungannya terhadap langkah Kemenkes. Mereka mempermudah perizinan, memberikan pendampingan, dan memfasilitasi negosiasi antar pihak yang terlibat dalam kolaborasi.

"Kita mendorong perusahaan yang ingin memenuhi TKDN mereka sehingga resiliency dan sustainability alat-alat berteknologi tinggi bagi pasien Indonesia bisa tersedia," jelas Nurul Ichwan, Deputi Menteri Penanaman Modal Bidang Promosi Penanaman Modal.

Upaya ini diharapkan menumbuhkan kepercayaan publik terhadap layanan kesehatan nasional. Dengan produksi alkes lokal, masyarakat dapat lebih yakin terhadap ketersediaan dan kualitas peralatan medis di rumah sakit dan fasilitas kesehatan.

Selain aspek kesehatan, transfer teknologi ini juga memberi dampak positif pada perekonomian. Investasi perusahaan di sektor alkes berteknologi tinggi membuka lapangan kerja baru dan meningkatkan kapasitas industri lokal.

Kemenkes menekankan pentingnya kesinambungan program ini. Produksi lokal yang konsisten diharapkan dapat menghadirkan stabilitas pasokan alkes, mengurangi ketergantungan impor, dan meningkatkan daya saing industri dalam jangka panjang.

Kolaborasi antara pemerintah dan perusahaan swasta menjadi kunci keberhasilan program ini. Dengan kerja sama yang kuat, Indonesia bisa menjadi pusat produksi alkes berteknologi tinggi di kawasan Asia Tenggara.

Kesimpulannya, transfer teknologi dan produksi alkes domestik menjadi strategi utama memperkuat kemandirian sektor kesehatan Indonesia. Program ini menjanjikan peningkatan kualitas layanan, penyerapan SDM, dan pertumbuhan industri yang berkelanjutan.

Terkini