JAKARTA - Pergerakan harga minyak dunia kembali menjadi sorotan pelaku pasar energi global. Pada perdagangan pertengahan pekan, harga minyak menunjukkan kenaikan yang dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik.
Situasi politik internasional kerap menjadi faktor penentu fluktuasi harga komoditas strategis seperti minyak mentah. Ketika risiko konflik meningkat, pasar biasanya merespons dengan penguatan harga.
Pada Rabu, 28 Januari 2026, harga minyak dunia tercatat bergerak naik. Kenaikan ini berkaitan langsung dengan memburuknya hubungan antara Amerika Serikat dan Iran.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak global. Kawasan Timur Tengah selama ini dikenal sebagai wilayah strategis penghasil energi dunia.
Pergerakan Harga Minyak Mentah di Pasar Global
Seperti dilansir Reuters, harga minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Maret 2026 mengalami penguatan. Minyak acuan Amerika Serikat ini naik 82 sen atau sekitar 1,31 persen.
Di pasar New York Mercantile Exchange, harga WTI ditutup pada level US$63,21 per barel. Posisi ini menunjukkan adanya respons cepat investor terhadap isu geopolitik yang berkembang.
Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada minyak WTI. Harga minyak mentah Brent sebagai acuan global juga mengalami penguatan pada perdagangan yang sama.
Minyak Brent untuk pengiriman Maret 2026 tercatat naik 83 sen atau sekitar 1,23 persen. Harga penutupannya berada di level US$68,4 per barel di London ICE Futures Exchange.
Pergerakan serempak pada kedua jenis minyak ini menandakan sentimen pasar yang cukup kuat. Investor global tampak mengantisipasi risiko yang berpotensi memengaruhi distribusi energi.
Kenaikan harga minyak sering kali dipandang sebagai refleksi dari meningkatnya ketidakpastian. Dalam kondisi seperti ini, pasar cenderung memasukkan faktor risiko ke dalam harga.
Pernyataan Presiden Amerika Serikat Memanaskan Situasi
Pemicu utama penguatan harga minyak kali ini berasal dari pernyataan Presiden Amerika Serikat. Donald Trump pada Rabu menyampaikan desakan keras kepada Iran terkait isu senjata nuklir.
Presiden AS mendesak Iran untuk segera melakukan kesepakatan. Jika tidak, Iran disebut berpotensi menghadapi kekuatan militer Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut mempertegas sikap tegas Washington terhadap Teheran. Nada ancaman dalam pernyataan ini langsung memicu reaksi di pasar global.
Pemerintah Iran tidak tinggal diam menanggapi tekanan tersebut. Iran menyatakan siap menghadapi serangan Amerika Serikat apabila hal itu benar-benar terjadi.
Sikap saling menantang antara kedua negara memperbesar kekhawatiran akan konflik terbuka. Setiap eskalasi di kawasan ini berpotensi berdampak besar pada pasar energi.
Sejarah menunjukkan bahwa ketegangan di Timur Tengah sering kali memicu lonjakan harga minyak. Investor cenderung bersikap waspada terhadap risiko gangguan pasokan.
Kehadiran Armada Militer AS di Timur Tengah
Selain pernyataan politik, pergerakan militer Amerika Serikat turut memperkuat sentimen pasar. Sebuah kapal induk AS dilaporkan telah tiba di kawasan Timur Tengah.
Tidak hanya satu, sejumlah kapal perang lainnya juga berada di wilayah tersebut. Armada ini disebut siap melakukan penyerbuan ke Iran jika situasi memburuk.
Kehadiran kekuatan militer skala besar meningkatkan persepsi risiko konflik. Pasar energi global sangat sensitif terhadap potensi perang di kawasan penghasil minyak.
Langkah militer ini dipandang sebagai sinyal keseriusan Amerika Serikat. Investor kemudian menyesuaikan strategi mereka dengan mempertimbangkan skenario terburuk.
Ketegangan militer sering kali memicu spekulasi mengenai kemungkinan terganggunya jalur distribusi minyak. Selat Hormuz, misalnya, merupakan jalur vital bagi perdagangan minyak dunia.
Jika jalur tersebut terganggu, pasokan minyak global bisa terpengaruh signifikan. Kekhawatiran inilah yang mendorong harga bergerak naik.
Dampak Ketegangan Geopolitik terhadap Pasar Energi
Kenaikan harga minyak pada akhir Januari 2026 mencerminkan peran besar faktor geopolitik. Pasar tidak hanya merespons data pasokan dan permintaan, tetapi juga dinamika politik global.
Ketika konflik berpotensi terjadi, harga minyak sering kali mengalami lonjakan sementara. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya premi risiko dalam perdagangan.
Situasi antara Amerika Serikat dan Iran menjadi perhatian utama pelaku pasar. Kedua negara memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.
Iran merupakan salah satu negara penghasil minyak penting. Setiap ancaman terhadap aktivitas ekspor Iran dapat memengaruhi keseimbangan pasokan global.
Di sisi lain, Amerika Serikat memiliki kekuatan militer dan ekonomi yang signifikan. Langkah-langkah strategis AS kerap menjadi acuan pergerakan pasar internasional.
Kombinasi faktor politik dan militer membuat pasar berada dalam kondisi waspada. Investor cenderung memilih aset yang dianggap aman atau strategis.
Harga minyak yang naik juga dapat berdampak pada sektor lain. Biaya energi yang lebih tinggi berpotensi memengaruhi inflasi dan pertumbuhan ekonomi.
Negara-negara pengimpor minyak biasanya paling merasakan dampaknya. Kenaikan harga minyak mentah dapat meningkatkan beban biaya produksi.
Sebaliknya, negara pengekspor minyak bisa mendapatkan keuntungan dari harga yang lebih tinggi. Namun keuntungan tersebut tetap dibayangi risiko ketidakstabilan global.
Dalam jangka pendek, pasar diperkirakan masih akan mencermati perkembangan hubungan AS dan Iran. Setiap pernyataan atau langkah militer baru dapat memicu volatilitas lanjutan.
Pelaku pasar energi akan terus memantau situasi di Timur Tengah. Kawasan ini tetap menjadi pusat perhatian dalam menentukan arah harga minyak dunia.
Kenaikan harga pada 28 Januari 2026 menjadi contoh nyata bagaimana isu geopolitik memengaruhi pasar. Selama ketegangan belum mereda, fluktuasi harga minyak masih berpotensi berlanjut.