JAKARTA - Pemerintah menekankan pentingnya harga gas dari proyek Blok Masela agar lebih terjangkau bagi industri lokal. Langkah ini dimaksudkan untuk mencegah biaya energi yang tinggi membebani sektor manufaktur dan produksi.
Permintaan Penyesuaian Harga Gas Pipa
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta agar harga gas pipa Blok Masela yang disalurkan ke industri tetap kompetitif. Harga dalam plan of development (PoD) sudah ditetapkan US$6,8 per MMBtu, tetapi risiko industri membeli gas dengan harga lebih tinggi tetap ada.
Dia menekankan PGN tidak boleh mengambil untung berlebihan dari distribusi gas pipa. “Kalau diberikan PGN, jangan-jangan di-markup lagi, jadi sampai ke pasarnya bisa US$12–US$13,” tegas Purbaya pada rapat debottlenecking, Selasa, 24 Februari 2026.
Skema Harga LNG yang Diusulkan
Selain gas pipa, Purbaya meminta harga liquified natural gas (LNG) yang diterima industri dari PGN sekitar US$9 per MMBtu. Harga LNG dalam PoD tercatat 13,5% dikali harga Indonesian Crude Price (ICP).
Menurut Purbaya, harga LNG yang masuk ke pasar industri dapat dikontrol agar tetap wajar. Hal ini diperlukan untuk mencegah biaya regasifikasi dan distribusi yang memberatkan pelaku industri.
Tanggapan SKK Migas dan PGN
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menegaskan harga gas pipa dalam PoD sebesar US$6,8 per MMBtu. Inpex telah menandatangani head of agreement (HoA) dengan PT Pupuk Indonesia, PGN, dan PLN sebagai pembeli awal gas.
Djoko menambahkan sudah ada aturan yang membatasi keuntungan maksimal penyedia pipa. Namun, diskusi lebih lanjut dengan PGN diperlukan untuk memastikan harga gas dan LNG tetap kompetitif bagi industri.
Pertimbangan Biaya dan Keuntungan PGN
Djoko menjelaskan harga LNG di Indonesia relatif tinggi karena ada biaya regasifikasi dan pembangunan pipa gas. “Boleh ambil untung tapi jangan terlalu gede, target keuntungan PGN harus wajar dibanding tahun sebelumnya,” ujarnya.
Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza memastikan arahan Purbaya akan didiskusikan dengan subholding gas, yaitu PGN. Hal ini menunjukkan koordinasi antara pemerintah dan BUMN untuk menjaga harga energi tetap stabil bagi sektor industri.
Proyeksi Produksi dan Partisipasi Blok Masela
Proyek Abadi Masela diperkirakan mampu memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun, setara lebih dari 10% impor tahunan Jepang. Selain LNG, proyek ini menyediakan gas pipa 150 MMSCFD dan 35.000 barel kondensat per hari (BCPD).
Pemegang hak partisipasi di Blok Masela saat ini adalah Inpex Masela Ltd. dengan porsi 65%. Sebelumnya Shell menguasai 35%, yang kemudian dijual ke PHE Masela dan Petronas Masela Berhad masing-masing 20% dan 15% pada Juli 2023.
Dampak Bagi Industri Domestik
Harga gas yang lebih kompetitif diharapkan menurunkan biaya produksi industri, termasuk tekstil dan manufaktur. Pemerintah menekankan skema distribusi yang adil agar keuntungan PGN tetap wajar tanpa membebani konsumen industri.
Upaya ini sejalan dengan strategi nasional untuk meningkatkan kemandirian energi dan efisiensi industri. Proyek Blok Masela juga dianggap sebagai salah satu kunci ketahanan energi dan pasokan gas bagi industri nasional.
Langkah Ke Depan dan Negosiasi Harga
Diskusi antara pemerintah, PGN, dan Pertamina akan menentukan mekanisme final harga gas pipa dan LNG. Skema ini bisa meliputi margin keuntungan yang dikontrol serta harga jual ke industri tetap kompetitif, sesuai arahan Menteri Keuangan.
Keputusan akhir diharapkan dapat memastikan proyek Masela tidak hanya menguntungkan perusahaan, tetapi juga mendorong pertumbuhan industri domestik. Pemerintah terus memantau agar harga energi tidak menjadi kendala investasi dan produksi nasional.