Bapanas Ancam Cabut Izin Usaha Importir yang Naikkan Harga Kedelai

Rabu, 10 Juni 2026 | 23:08:01 WIB
Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman [SUMBER : NET].

Jakarta - Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan kesiapannya mencabut izin usaha jika ditemukan pengusaha yang menaikkan harga kedelai impor secara sepihak.

"Kalau menaikkan, izinnya aku cabut dan aku tidak beri izin rekomendasi lagi, karena ada rekomendasinya di pertanian," kata Amran di Jakarta, Rabu.

Pemerintah menuntut stabilitas harga kedelai demi menjaga keberlangsungan usaha perajin tahu dan tempe, terutama terkait pasokan kedelai impor. Pihak importir diperingatkan agar tidak memainkan harga.

Amran menekankan agar harga kedelai impor harus tetap ramah bagi perajin. Jika aturan dilanggar, pemerintah tidak akan lagi menerbitkan izin impor.

"Yang impor khususnya kedelai, kami minta pada pengusaha, tolong jangan menaikkan harga semena-mena. Kenapa? Anda sudah untung puluhan tahun," tegasnya.

Sebagai bentuk komitmen, Amran memastikan akan melakukan investigasi terhadap importir jika kenaikan harga membebani perajin tahu dan tempe. Opsi kenaikan harga dilarang keras.

"Sekali lagi, kami akan telusuri kalau terdampak pada perajin, pada produsen tahu dan seterusnya. Jangan menaikkan harga semena-mena," ujar Amran.

Berdasarkan data Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) per 8 Juni, rata-rata harga kedelai di tingkat perajin mencapai Rp11.126 per kilogram (kg). 

Di Jawa, harga rata-rata berada di angka Rp10.868 per kg, dengan harga tertinggi menyentuh Rp11.100 per kg. Saat ini, harga tersebut dinilai masih dalam koridor wajar.

Pemerintah telah menetapkan Harga Acuan Penjualan (HAP) kedelai maksimal Rp11.500 per kg di tingkat importir dan maksimal Rp12.000 per kg di tingkat perajin.

Dalam rapat Bapanas Senin (8/6/2026), Gakoptindo menilai kenaikan harga saat ini relatif aman dibandingkan tahun 2022, dengan kisaran harga Rp10.000 hingga Rp11.000 per kg. 

Keresahan perajin saat ini lebih dipicu oleh kenaikan harga komponen produksi lain seperti plastik dan minyak goreng.

Terkait stok, asosiasi importir memastikan ketersediaan kedelai per Juni 2026 mencapai 450 ribu ton. Stok ini dinilai cukup untuk kebutuhan nasional, dan importir berkomitmen menjaga harga tetap stabil.

Terkini