Kemenperin Tegaskan Industri Perhiasan RI Punya Daya Saing Kuat

Senin, 15 Juni 2026 | 00:11:01 WIB
Kemenperin menegaskan industri perhiasan nasional memiliki daya saing yang kuat [FOTO : NET].

JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memberikan penegasan bahwa sektor industri perhiasan dalam negeri mempunyai daya saing yang kokoh di kancah global, selaras dengan melonjaknya performa ekspor serta kian diterimanya komoditas perhiasan asal Indonesia di pasar internasional.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menuturkan bahwa industri perhiasan mempunyai karakteristik yang khas lantaran mengombinasikan kreativitas, keahlian, aspek budaya, serta sentuhan teknologi guna menciptakan komoditas dengan nilai tambah yang tinggi.

“Industri perhiasan menjadi salah satu sektor unggulan yang memiliki nilai tambah tinggi dan kontribusi penting terhadap ekspor manufaktur Indonesia. Tidak hanya berperan sebagai penghasil devisa negara, tetapi juga menjadi wadah pelestarian produk bernilai budaya serta penciptaan lapangan kerja yang tersebar di berbagai daerah,” ujar Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Demi memperkokoh sektor dimaksud, pihaknya konsisten memacu ekspansi industri perhiasan melewati langkah peningkatan kapasitas, transformasi di bidang teknologi, sampai dengan pelebaran akses pasar.

Salah satu program strategis yang digulirkan ialah memberikan sokongan atas terselenggaranya Bandung Jewellery Fair (BJF) 2026 yang berlangsung pada tanggal 11–14 Juni 2026.

Ajang pameran yang menginjak tahun kedua dalam pelaksanaannya ini bertindak sebagai sarana bagi para pelaku industri perhiasan guna mengiklankan komoditas unggulan, melebarkan jejaring bisnis, mengenalkan ragam inovasi termutakhir, sekaligus mempertegas posisi industri perhiasan Indonesia di pangsa pasar global.

Lebih dalam lagi, Menperin memaparkan bahwa capaian industri perhiasan domestik pun memperlihatkan pergerakan tren yang positif. 

Sepanjang masa Januari–Desember 2025, angka nilai ekspor komoditas perhiasan serta barang berharga menyentuh angka 9,1 miliar dolar AS atau melesat sebesar 64,73 persen jika dikomparasikan dengan tahun 2024 yang bertengger di posisi 5,5 miliar dolar AS.

Berdasarkan penjelasan Agus, perolehan tersebut merefleksikan semakin tangguhnya posisi produk perhiasan Indonesia di kancah internasional. 

Oleh karena itu, langkah penguatan mutu produk, kebaruan desain, kontinuitas usaha, serta kapabilitas industri dalam menyikapi pergeseran tren pasar global wajib terus ditingkatkan.

“Peningkatan ekspor ini menjadi bukti bahwa industri perhiasan Indonesia memiliki prospek yang sangat baik. Momentum ini harus terus dijaga melalui penguatan ekosistem industri yang mampu mendorong inovasi, produktivitas, dan daya saing secara berkelanjutan,” tegasnya.

Walau begitu, industri perhiasan dinilai masih berhadapan dengan sederet tantangan, mulai dari fluktuasi ekonomi global yang tidak menentu, naik turunnya harga bahan baku, pergeseran minat konsumen, hingga tuntutan peralihan digital yang bergulir semakin cepat.

Oleh sebab itu, diperlukan jalinan sinergi yang solid di antara pihak pemerintah, asosiasi, serta para pelaku usaha supaya industri perhiasan nasional sanggup menyesuaikan diri dan berkembang secara berkesinambungan.

Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita mempertegas bahwa langkah transformasi digital serta penerapan Industri 4.0 memegang andil krusial dalam memperkokoh daya saing industri perhiasan nasional.

Reni memaparkan bahwa pemanfaatan aspek teknologi mampu menaikkan efisiensi operasional, memicu percepatan inovasi, serta memproduksi komoditas yang lebih bermutu selaras dengan kebutuhan pasar.

“Transformasi digital dan penerapan Industri 4.0 memungkinkan industri perhiasan bekerja lebih efisien, menghasilkan produk yang lebih presisi, serta mampu merespons kebutuhan konsumen secara lebih cepat dan tepat,” ujarnya.

Sebagai bagian dari langkah pembenahan industri, Kemenperin telah melangsungkan tahapan penilaian Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0) kepada sejumlah korporasi di sektor industri aneka, termasuk di dalamnya para pelaku industri logam mulia dan perhiasan.

Terkini