DKPPP Temanggung Catat Luas Tanam Tembakau Turun 5.000 Hektare

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:19:32 WIB
Lahan Tembakau di Temanggung Berkurang Hingga 5.000 Hektare [FOTO : NET].

JAKARTA - Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Kabupaten Temanggung membeberkan adanya penyusutan luas tanam tembakau hingga menyentuh 5.000 hektare terhitung sejak tahun 2021.

"Pada tahun 2021, luas tanaman tembakau di Kabupaten Temanggung masih mencapai sekitar 18.600 hektare. Pada tahun 2025 luasannya tercatat sekitar 13.133 hektare atau berkurang hampir 5.000 hektare," kata Kepala Bidang Hortikultur dan Perkebunan, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Kabupaten Temanggung Sumarno di Magelang, Rabu.

Dalam agenda "Membangun Dialog tentang Masa Depan Petani Tembakau, Kesehatan Masyarakat, dan Kebijakan Pengendalian Tembakau" yang diinisiasi Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC), Sumarno mengutarakan jika pendekatan terhadap para petani tembakau wajib dijalankan secara cermat terkait konversi lahan, mengingat tanaman tembakau sudah menyatu dengan kultur bertani warga Temanggung.

"Kami di bidang pertanian harus hati-hati. Pendekatannya memang berbeda karena di Temanggung budaya petani itu adalah tembakau," katanya.

Menurut penjelasannya, penyusutan itu bukan diakibatkan oleh eksistensi regulasi yang menekan petani agar meninggalkan tembakau, melainkan lantaran perpindahan sebagian area lahan ke sektor hortikultura yang dinilai mempunyai nilai untung lebih tinggi.

Sumarno menguraikan, salah satu komoditas yang memperlihatkan lonjakan tajam ialah cabai. Apabila pada kurun waktu 2021 luas tanam cabai berkisar 4.000 hektare, maka pada tahun 2025 jumlahnya sudah melonjak sampai kisaran 12.000 hektare.

"Harga cabai kemarin relatif tinggi dan mampu bertahan cukup lama. Jadi tanpa disuruh pun petani mulai beralih ke komoditas yang dianggap lebih menguntungkan," katanya.

Walau begitu, ia menambahkan, tanaman tembakau masih terus dipertahankan lewat sistem tanam tumpangsari. 

Di bulan November, petani lazimnya menanam komoditas hortikultura seperti bawang putih, bawang merah, cabai, atau jenis lainnya. Baru kemudian di bulan Maret sampai Mei, lahan tersebut kembali ditanami tembakau.

"Di sejumlah lahan, pola tanam kini semakin beragam dengan kombinasi tembakau, cabai, kacang merah, dan berbagai jenis sayuran lainnya. Model ini dinilai mampu meningkatkan produktivitas lahan sekaligus menjaga keberlanjutan usaha tani," katanya.

Ketua MTCC Universitas Muhammadiyah Magelang Retno Rusdjijati menggarisbawahi bahwa tingkat kesejahteraan para petani tembakau serta proteksi kesehatan bagi publik bukanlah dua buah kepentingan yang mesti dibenturkan.

"Petani perlu menjadi bagian dari solusi pembangunan yang berkelanjutan. Penguatan kesehatan masyarakat dan peningkatan kesejahteraan petani bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya dapat berjalan beriringan apabila didukung oleh kebijakan yang tepat, berbasis bukti, dan dilaksanakan secara kolaboratif," katanya.

Retno menjabarkan, para petani tembakau pada masa sekarang ini masih dihadapkan pada bermacam kendala, seperti fluktuasi harga jual panen, melonjaknya ongkos produksi, pergeseran iklim, keterbatasan interaksi pasar, hingga ketergantungan terhadap komoditas tunggal yang rawan atas pergeseran situasi ekonomi serta lingkungan.

Oleh sebab itu, menurut pandangannya, amat dibutuhkan bermacam tindakan guna memperkokoh ketahanan finansial keluarga petani lewat diversifikasi usaha serta peningkatan komoditas alternatif yang selaras dengan situasi daerah masing-masing.

Terkini