BI Guyur Likuiditas via Lelang Repo dan Beri Insentif Hedging Swap 10%

Kamis, 18 Juni 2026 | 22:16:02 WIB
Jaga Stabilitas, BI Buka Lelang Repo dan Insentif Hedging Swap 10% [FOTO : NET].

JAKARTA  — Bank Indonesia (BI) memperkuat bauran kebijakan moneter melalui pemberian insentif hedging swap bagi investor asing dan membuka kembali jendela lelang repurchase agreement (repo) guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta menjamin kecukupan likuiditas perbankan.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya bank sentral dalam meningkatkan efektivitas implementasi kebijakan moneter, demi menstabilkan rupiah sekaligus menjaga laju inflasi agar tetap berada pada sasaran 2,5±1% pada 2026 dan 2027.

"Bank Indonesia meyakini nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat didukung oleh komitmen Bank Indonesia, imbal hasil yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik," kata Perry dalam pengumuman hasil RDG Juni 2026 pada Kamis (18/6/2026).

Terkait daya tarik investasi, bank sentral memutuskan untuk melanjutkan pemberian insentif penurunan tingkat swap lindung nilai (hedging swap) bagi investor asing sebesar 10%. 

Langkah ini secara khusus diarahkan untuk meningkatkan daya tarik masuknya pemodal asing, sekaligus mengompensasi kewajiban yang selama ini ditanggung oleh para investor.

Di samping memikat aliran modal asing, otoritas moneter juga memastikan ketersediaan likuiditas yang memadai di pasar uang dan perbankan domestik. 

BI menargetkan pertumbuhan uang primer berada di level digit ganda, yakni di atas 10%, yang sejalan dengan langkah ekspansi moneter.

Guna merealisasikan hal tersebut, BI membuka kembali jendela lelang instrumen repo untuk berbagai variasi tenor, mulai dari 3, 6, 9, hingga 12 bulan. 

Melalui fasilitas transaksi ini, perbankan dapat memperoleh suntikan likuiditas tunai dari Bank Indonesia dengan menjaminkan surat berharga berkualitas tinggi sebagai agunan. Jendela lelang repo ini ditetapkan sebagai instrumen utama ekspansi likuiditas moneter BI bagi perbankan.

Lebih lanjut, Perry menegaskan bahwa BI juga terus menjaga struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada seluruh tenor 6, 9, dan 12 bulan. 

Suku bunga instrumen ini dijaga agar tetap sejalan dengan tren kenaikan BI-Rate, sehingga aliran masuk investasi portofolio asing ke aset keuangan domestik tetap kompetitif dan menarik.

Sementara itu, dari sisi intervensi pasar, BI berkomitmen untuk terus meningkatkan intensitas intervensi valuta asing (valas). Langkah stabilisasi nilai tukar rupiah ini dilakukan secara berlapis, baik melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, maupun melalui transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.

Terkini