JAKARTA- Korporasi minyak dan gas (migas) asal Jepang, Inpex Corp., menaruh keyakinan bahwa megaproyek gas alam cair (LNG) senilai 21 miliar dolar AS di kawasan timur Indonesia mempunyai potensi besar untuk tumbuh sebagai salah satu produsen gas alam cair terbesar di wilayah Asia sekaligus menjamin ketersediaan pasokan di masa mendatang.
CEO Inpex, Takayuki Ueda, mendeskripsikan Proyek Strategis Nasional LNG Abadi Masela tersebut memegang peranan yang sangat vital dan menyumbang dampak besar bagi stabilitas keamanan energi di Jepang serta wilayah Indo-Pasifik secara menyeluruh.
Prosesi seremoni peletakan batu pertama untuk Abadi Masela tersebut dilaksanakan pada Kamis (16/7/2026) bertempat di Kepulauan Tanimbar, Maluku, serta dipantau secara virtual oleh Presiden RI Prabowo Subianto dari Jakarta.
Inpex, selaku pemilik porsi 65 persen saham di dalam proyek tersebut, menjalin kemitraan dengan badan usaha energi milik Indonesia, yaitu Pertamina, dan juga korporasi energi asal Malaysia Petronas guna mendirikan fasilitas lepas pantai di wilayah Laut Arafura.
Abadi Masela diproyeksikan bakal mulai menjalankan aktivitas produksi secara komersial pada tahun 2029 dan disiapkan untuk mengantongi kapasitas produksi menyentuh 9,5 juta metrik ton LNG per tahun, serta menyalurkan 150 juta kaki kubik gas pipa per hari demi memenuhi kebutuhan pasar domestik Indonesia.
Merujuk pada data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, proyek yang sempat tertahan selama kurang lebih tiga dekade sejak ikatan kontraknya disepakati pada tahun 1998 itu bakal menerapkan sistem teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon demi mendukung terwujudnya tatanan masyarakat dengan emisi karbon nol bersih.
Presiden Prabowo mengibaratkan megaproyek tersebut sebagai sebuah langkah nyata guna memperkokoh kedaulatan serta kemandirian energi nasional Indonesia, sekaligus menjadi pendorong bagi roda kemajuan bangsa Indonesia.