JAKARTA - Nilai tukar rupiah di pasar spot melemah pada penutupan perdagangan Senin (20/7/2026). Mata uang Garuda terdepresiasi 27 poin atau 0,15 persen ke level Rp17.948 per dollar Amerika Serikat (AS).
Mata uang dollar AS diperkirakan akan terus menguat dalam sepekan ke depan, dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta ekspektasi suku bunga tinggi dari bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
Pergerakan mata uang di kawasan Asia pada perdagangan hari ini berlangsung bervariasi. Peso Filipina mencatat pelemahan terdalam di Asia sebesar 0,16 persen, disusul rupee India yang turun 0,14 persen, dan baht Thailand yang melemah 0,02 persen.
Sementara itu, dollar Hong Kong terkoreksi tipis 0,01 persen. Di sisi lain, won Korea Selatan memimpin penguatan sebesar 0,46 persen, diikuti ringgit Malaysia yang naik 0,22 persen, dollar Taiwan sebesar 0,18 persen, dollar Singapura sebesar 0,12 persen, yuan China sebesar 0,10 persen, serta yen Jepang sebesar 0,02 persen.
Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh kembali memanasnya konflik antara AS dan Iran setelah kedua negara melancarkan serangkaian serangan sepanjang akhir pekan. Komando Pusat AS (CENTCOM) kembali melancarkan serangan terhadap Iran sebagai balasan atas serangan Iran terhadap pangkalan militer AS di Yordania yang menelan korban jiwa.
“Pertempuran masih berpusat pada perebutan kendali Selat Hormuz. CENTCOM menyebut serangan terbarunya bertujuan melemahkan kemampuan militer Iran yang digunakan untuk menyerang kapal-kapal yang melintasi jalur pelayaran strategis tersebut,” ujar Ibrahim.
Eskalasi ini merupakan bentrokan paling serius sejak gencatan senjata April lalu. Upaya perundingan damai saat ini dinilai menemui jalan buntu, sementara gangguan pada aktivitas pelayaran di Selat Hormuz memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia.
Kondisi tersebut mendorong kenaikan premi risiko pada komoditas energi. Selain itu, pasar mencemaskan potensi kenaikan biaya energi yang dapat menghambat upaya The Fed dalam mengendalikan inflasi, sehingga kebijakan moneter ketat berpotensi dipertahankan lebih lama yang kemudian memperkuat posisi dollar AS.