Hadapi Inflasi, Garudafood Jadikan Kenaikan Harga Opsi Terakhir

Senin, 20 Juli 2026 | 01:12:01 WIB
Tekan Inflasi, Garudafood Prioritaskan Efisiensi Biaya Operasional [FOTO: NET].

JAKARTA - PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk. (GOOD) memilih untuk mengutamakan efisiensi dibandingkan menaikkan harga produk saat tekanan inflasi meningkat. Perseroan memandang bahwa penyesuaian harga kepada pelanggan merupakan langkah paling akhir sembari terus menjaga daya beli masyarakat yang sedang berfluktuasi.

Head of Corporate Communication and External Relations Garudafood, Dian Astriana, menuturkan bahwa perusahaan terus mengamati tren inflasi sebagai bagian dari evaluasi berkala terhadap kondisi makroekonomi. 

Menurutnya, inflasi yang tinggi berisiko meningkatkan beban bahan baku serta biaya operasional perusahaan.

"Namun demikian, tantangan ini merupakan bagian dari siklus bisnis yang telah kami antisipasi melalui berbagai langkah mitigasi risiko sejak awal tahun," ujarnya, Senin (20/7/2026).

Dian menerangkan, perseroan secara aktif mengawasi struktur biaya, menggenjot efisiensi operasional, serta mengatur strategi penyesuaian harga secara cermat agar tidak membebani konsumen. 

Menurutnya, upaya tersebut menjadi prioritas mengingat daya beli masyarakat yang masih tidak stabil. Meski inflasi menambah beban pada biaya, GOOD memastikan kinerja operasional perusahaan tetap berada di jalur yang solid.

Dia menambahkan bahwa kinerja operasional perseroan masih didukung oleh permintaan yang stabil dan efisiensi operasional yang terus kami perkuat. "Kami berkomitmen menjaga keseimbangan antara pertumbuhan volume penjualan dan optimalisasi biaya sehingga dampak terhadap profitabilitas dapat kami kelola dengan baik," katanya.

Untuk menekan dampak inflasi, Garudafood menerapkan sejumlah strategi efisiensi internal. Perseroan melakukan optimalisasi rantai pasok, negosiasi ulang harga bahan baku dengan pemasok, peningkatan efisiensi proses produksi dan distribusi, penyesuaian product mix, hingga inovasi kemasan supaya struktur biaya tetap kompetitif.

Dian menegaskan bahwa perusahaan berupaya mempertahankan harga produk tetap terjangkau bagi masyarakat. 

"Kami memahami bahwa daya beli masyarakat menjadi perhatian bersama di tengah kondisi ekonomi saat ini. Karena itu, kami berkomitmen menjaga harga tetap terjangkau bagi konsumen. Penyesuaian harga hanya akan dipertimbangkan sebagai langkah terakhir apabila benar-benar diperlukan demi memastikan keberlangsungan usaha dalam jangka panjang," terangnya.

Memasuki paruh kedua 2026, Garudafood akan tetap berfokus pada efisiensi biaya, inovasi produk, serta memperkuat loyalitas konsumen melalui kualitas produk dan harga yang kompetitif. 

Di sisi komersial, perseroan juga memperkuat eksekusi distribusi dan pemasaran untuk menangkap peluang pertumbuhan yang masih tersedia di pasar.

Kinerja keuangan GOOD pada awal tahun masih menunjukkan pertumbuhan. Perseroan membukukan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp139,68 miliar pada kuartal I/2026, naik 0,89% dibandingkan laba sebesar Rp138,44 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi top line, Garudafood mencatatkan penjualan bersih Rp3,52 triliun pada tiga bulan pertama 2026 atau tumbuh 12,53% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan realisasi kuartal I/2025 sebesar Rp3,13 triliun. 

Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh kenaikan penjualan pada segmen makanan dalam kemasan yang tetap menjadi kontributor terbesar bagi pendapatan perseroan.

 Secara rinci, penjualan makanan dalam kemasan mencapai Rp3,23 triliun, meningkat dari Rp2,84 triliun pada kuartal I/2025. Sementara itu, penjualan segmen minuman tercatat sebesar Rp291,98 miliar, sedikit lebih tinggi dibandingkan Rp287,28 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Terkini