Studi: Makanan Ultra Proses Berisiko Ganggu Fokus dan Kesehatan Otak

Senin, 20 Juli 2026 | 02:17:01 WIB
Waspada, Konsumsi Makanan Ultra Proses Bisa Turunkan Daya Perhatian [FOTO: NET].

JAKARTA - Makanan ultra-proses (ultra-processed food atau UPF) kerap dipilih karena kepraktisan dan kemudahannya untuk dikonsumsi. Namun, sebuah penelitian terbaru menemukan adanya kaitan antara konsumsi makanan ultra-proses dengan kemampuan perhatian yang lebih rendah. 

Studi dari peneliti Australia ini juga mendapati bahwa individu yang lebih banyak mengonsumsi makanan ultra-proses memiliki skor faktor risiko demensia yang dapat diubah lebih tinggi dibandingkan mereka yang mengonsumsinya dalam jumlah sedikit.

Walau demikian, peneliti menegaskan hasil tersebut belum membuktikan bahwa makanan ultra-proses secara langsung menjadi penyebab gangguan kognitif.

Makin banyak makanan ultra-proses, perhatian cenderung menurun

Studi yang melibatkan lebih dari 2.000 peserta berusia 40 hingga 70 tahun ini mengamati pola makan dan kemampuan kognitif partisipan. Mereka menjalani serangkaian tes untuk mengukur perhatian, kecepatan memproses informasi, serta daya ingat.

Hasilnya, peserta dengan konsumsi makanan ultra-proses tertinggi memiliki skor perhatian paling rendah. Bahkan, perubahan kecil pada pola makan tetap terlihat dalam hasil penelitian.

 “Untuk memberikan gambaran mengenai temuan kami, peningkatan 10 persen konsumsi makanan ultra-proses kira-kira setara dengan menambahkan satu bungkus keripik ukuran standar ke dalam pola makan harian,” kata peneliti utama Barbara Cardoso, PhD, seperti dikutip Everyday Health, Sabtu (18/7/2026).

Selain perhatian, konsumsi makanan ultra-proses juga dikaitkan dengan beberapa faktor risiko demensia, seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, minimnya aktivitas fisik, serta obesitas.

Makanan ultra-proses berpotensi memengaruhi kesehatan otak

Makanan ultra-proses umumnya adalah produk industri yang mengandung bahan tambahan yang jarang ditemukan dalam masakan rumahan, seperti minuman bersoda, camilan asin kemasan, makanan manis, sup instan, daging olahan, roti kemasan, makanan siap saji, serta beragam sereal sarapan.

Peneliti menduga makanan tersebut dapat memengaruhi otak melalui beberapa jalur. Salah satunya adalah perubahan mikrobioma usus, yakni kumpulan mikroorganisme yang membantu pencernaan dan mendukung sistem kekebalan tubuh. 

Mengingat usus dan otak saling berkomunikasi, perubahan kondisi usus diduga dapat berdampak pada kesehatan otak. Peneliti juga menyebut makanan ultra-proses berpotensi memengaruhi sistem endokrin yang mengatur hormon dan berkontribusi terhadap dampak neurologis yang kurang baik.

Bukan berarti semua makanan ultra-proses harus dihindari

Profesor madya bidang perkembangan manusia dan ilmu keluarga di Virginia Tech, Benjamin Katz, PhD, mengatakan bahwa dampak makanan ultra-proses terhadap perhatian memang relatif kecil. Namun, kaitannya dengan faktor risiko demensia yang dapat diubah terlihat lebih kuat.

“Penelitian ini menambah bukti yang terus berkembang bahwa konsumsi makanan ultra-proses yang lebih tinggi berkaitan dengan risiko gangguan kognitif dan demensia yang lebih tinggi,” ujar neurolog W. Taylor Kimberly, MD, PhD.

Meski demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan. Data pola makan peserta dikumpulkan lewat laporan pribadi dan penelitian hanya mengamati kondisi pada satu waktu, sehingga belum bisa membuktikan hubungan sebab-akibat. 

Untuk menjaga kesehatan otak, ahli menyarankan pola makan beragam dengan memperbanyak buah, sayur, makanan tinggi serat, serta lemak sehat seperti omega-3. Profesor penyakit dalam, Steven K. Clinton, MD, PhD, juga mengingatkan agar masyarakat tidak hanya terpaku pada tingkat pemrosesan makanan. “Daripada berfokus pada tingkat pemrosesan, saya menyarankan pasien untuk mengikuti pola makan sehat berdasarkan pedoman diet,” katanya.

Terkini