JAKARTA - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Rachmat Pambudy mengutarakan bahwa keanekaragaman hayati (kehati) merupakan sumber masa depan bagi Indonesia.
“Keanekaragaman hayati itu adalah sesuatu yang tampaknya sehari-hari sangat biasa tentang hutan, satwa liar, atau kawasan konservasi. Padahal sadar atau tidak, keanekaragaman hayati ini adalah sumber masa depan kami. Setiap hari kami menikmati sumber pangan, perikanan, rempah, obat-obatan, dan itu semua merupakan sumber hayati yang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kami,” ucapnya dalam agenda Peluncuran Dokumen Status Keanekaragaman Hayati Bali-Nusa Tenggara, Jawa, Maluku, dan Papua di Jakarta, Selasa (21/07/2026).
Di dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) maupun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), keanekaragaman hayati ditempatkan sebagai bagian krusial guna mengimplementasikan lingkungan hidup berkualitas, sekaligus memacu penerapan ekonomi hijau.
Dalam penjelasannya, kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia dinilai menyokong sektor ekonomi, ketahanan ekosistem, serta pembangunan berkelanjutan.
Berdasarkan catatan, terdapat 22 tipe ekosistem yang tersebar di 7 wilayah Indonesia, mengayomi 31.031 spesies flora beserta 744.279 spesies fauna darat maupun laut.
Keanekaragaman hayati itu sendiri hadir dalam tiap relung kehidupan sehari-hari, mencakup sumber pangan (karbohidrat, lemak, buah, rempah), ketahanan energi (biogas, bioetanol, biodiesel), obat-obatan (tanaman obat, jamu, biofarmaka), kebudayaan lokal (identitas kearifan lokal, warisan leluhur), hingga menjadi mata pencaharian bagi warga pedesaan maupun kawasan pesisir.
Tata kelola keanekaragaman hayati secara berkelanjutan sanggup menopang pembangunan menuju Indonesia Emas 2045, mengingat hingga tahun 2025 tercatat ada sejumlah Rp348 miliar Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang bersumber dari pemanfaatan jasa lingkungan beserta tumbuhan dan satwa liar (TSL), Rp8,48 triliun dari nilai ekspor TSL dan bioprospecting, sampai 6,27 miliar dolar AS dari komoditas ekspor perikanan.
Sementara itu, taktik kunci untuk mengelola keanekaragaman hayati yaitu optimalisasi sumber energi baru terbarukan mengingat baru sekitar 0,08 persen yang telah terserap, potensi kredit karbon senilai 17 miliar dolar AS, hingga hilirisasi industri yang sanggup menggaet investasi sebesar 46,4 miliar dolar AS dan membuka 180 ribu lapangan kerja baru.
Di samping itu, langkah mitigasi serta konservasi keanekaragaman hayati dapat menyumbang secara langsung bagi pencapaian target penanganan perubahan iklim Indonesia.
Hal ini mengingat kapasitas penyerapan karbon Indonesia tergolong sangat tinggi, dengan 80 persen wilayah daratan tanah air menyimpan tingkat kehati yang tinggi, 52 persen area daratan mengandung karbon tak tergantikan, serta 17 persen cadangan karbon dunia bersumber dari ekosistem biru Indonesia.
“Di dalam Indonesia Biodiversity Strategic Action Plan (IBSAP) 2025-2045 sebagai dokumen rujukan nasional dalam keanekaragaman Hayati, IBSAP ini akan mendukung implementasi dalam penguatan data yang lebih akurat, mutakhir, dan berbagai bukti ilmiah yang selanjutnya akan menjadi bagian yang tak terpisahkan di dalam pengembangan masa depan kami,” ungkap Kepala Bappenas.
Ia menandaskan bahwasanya pemanfaatan kekayaan keanekaragaman hayati wajib diproses lewat jalur hilirisasi, serta tidak boleh lagi dieksploitasi secara ekstraktif semata.
“Karena itu, kami bekerja sama dengan negara maju, kami bekerja sama dengan pemerintah federal Jerman. Kami ingin keanekaragaman hayati kami suatu saat bisa seperti Mercedes, bisa seperti BMW,” kata Rachmat.