DAMRI Uji Coba Bus Hidrogen, Pangkas Konsumsi Solar hingga 47 Persen

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:48:01 WIB
DAMRI Uji Coba Konversi Bus Hidrogen Pertama di Indonesia [FOTO: NET].

JAKARTA – Perum DAMRI mulai melangsungkan uji coba armada bus berbahan bakar hidrogen atau Hydrogen-Diesel Dual Fuel (H2-DDF) sebagai langkah konkret mendukung transisi energi pada sektor transportasi.

Berbeda dibanding armada bus hidrogen yang dirancang dari awal, unit kendaraan yang tengah diuji coba kali ini merupakan hasil alih teknologi (konversi) dari bus diesel menjadi sistem dual fuel, yang mana memfungsikan solar beserta hidrogen secara berbarengan.

Direktur Teknik dan Fasilitas Perum DAMRI Arifin menyampaikan, langkah ini menjadi proyek percontohan awal di Indonesia dalam ranah konversi bus diesel ke teknologi berbasis hidrogen.

Agenda ini dijalankan melalui kolaborasi DAMRI bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), serta memperoleh pengawalan sertifikasi dari Sucofindo.

Arifin mengutarakan pengembangan bus dual fuel menjadi salah satu terobosan dalam menemukan solusi transisi energi yang lebih realistis di tengah tingginya nilai investasi kendaraan berbasis hidrogen.

"Bus ini awalnya menggunakan 100 persen solar, kemudian kami konversi menjadi dual fuel, yaitu diesel dan hidrogen,” kata Arifin di Jakarta, Selasa (21/7/2026).

“Ini merupakan proyek konversi pertama di Indonesia yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari Kementerian ESDM hingga proses sertifikasinya didampingi Sucofindo," lanjut Arifin.

Menurut penjelasannya, pemanfaatan hidrogen bukan sekadar bertumpu untuk memangkas angka emisi, melainkan juga menggenjot efisiensi konsumsi bahan bakar fosil.

Catatan pengujian awal menunjukkan penambahan hidrogen mampu menekan konsumsi solar hingga berkisar 47 persen dibanding penggunaan diesel murni.

"Dari hasil pengujian sementara, penambahan hidrogen membuat penggunaan solar menjadi lebih efisien. Penghematannya mencapai sekitar 47 persen, sehingga konsumsi diesel bisa berkurang cukup signifikan," katanya.

Pada skema operasional saat ini, unit bus membutuhkan kisaran 4,5 liter setara solar (LSP) hidrogen guna menempuh jarak sejauh 100 kilometer.

Ia menyampaikan, DAMRI masih bakal terus menyempurnakan mekanisme tersebut supaya tingkat konsumsi hidrogen maupun solar dapat dipangkas lebih rendah sehingga biaya operasional menjadi kian kompetitif.

"Kami berharap kebutuhan hidrogen yang saat ini sekitar 4,5 LSP per 100 kilometer bisa terus diturunkan. Semakin efisien penggunaan hidrogen, maka konsumsi dieselnya juga akan semakin kecil," jelas Arifin.

Walau menawarkan manfaat bagi kelestarian lingkungan, DAMRI mengakui nominal harga hidrogen saat ini masih jauh melambung ketimbang solar sehingga belum tergolong ekonomis untuk diterapkan secara masif.

Oleh karena itu, pihak perusahaan belum menentukan tenggat target kapan armada berbahan bakar hidrogen bakal dioperasikan secara komersial.

Saat ini fokus utama masih tertuju pada perampungan uji coba, penyempurnaan sistem teknologi, serta pemenuhan seluruh regulasi sertifikasi beserta perizinan.

"Kami ingin menyelesaikan seluruh tahapan uji coba terlebih dahulu. Setelah sertifikasi selesai dan izin dari Kementerian Perhubungan terbit, baru kami dapat melakukan uji coba pelayanan secara komersial," ujar Arifin.

Jikalau segenap tahapan berjalan selaras dengan rencana, bus hidrogen tersebut bakal dijalankan terlebih dahulu di area Jakarta, mengingat ketersediaan sarana pengisian hidrogen masih terbatas.

Rute yang masuk dalam pertimbangan meliputi trayek angkutan dalam kota hingga angkutan pemandu moda menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Arifin membeberkan tantangan lain pada pengembangan bus hidrogen ialah tingginya biaya konversi, terkhusus bagi armada bermesin diesel.

Berbeda dibanding kendaraan berbahan bakar bensin yang memakai mekanisme pengapian busi sehingga relatif lebih mudah dimodifikasi, mesin diesel membutuhkan perangkat ekstra seperti sistem injeksi hidrogen sehingga nilai investasinya tergolong jauh lebih masif.

"Konversi kendaraan diesel ke hidrogen memang masih cukup mahal karena membutuhkan perangkat tambahan pada sistem injeksi,” ujarnya.

“Kalau kendaraan berbahan bakar bensin, proses konversinya jauh lebih sederhana dan biayanya lebih rendah," tegas dia.

Sebagai informasi, peluncuran tersebut diresmikan secara langsung oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia pada agenda Global Hydrogen Ecosystem Summit (GHES) 2026.

Pengembangan bus tersebut merupakan hasil sinergi antara Perum DAMRI, PT PLN (Persero), serta Kementerian ESDM, dengan tahapan pengujian, pengawasan, hingga sertifikasi diselenggarakan oleh Sucofindo demi menjamin aspek keselamatan dan kelayakan operasional kendaraan.

Terkini

Empat Talenta Persipura Perkuat Indonesia All Stars

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 22:30:01 WIB

Emery dan Mings Kagum Antusiasme Masyarakat Indonesia

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 22:25:31 WIB

Legenda Bulu Tangkis Bersama Lin Dan Gelar Shuttle Open

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 22:20:31 WIB

Pengamat Soroti Kualitas Pemain Pelapis Timnas Indonesia

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 22:12:32 WIB