Bos BRI Sebut Suku Bunga Tinggi Tak Serta-merta Naikkan NPL

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:01:01 WIB
Suku Bunga Tinggi, Bos BRI Sebut Kredit Macet Tak Langsung Naik [FOTO: NET].

JAKARTA — Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) Hery Gunardi berpandangan bahwasanya tren era suku bunga tinggi tak serta-merta mengerek risiko kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL).

Berdasarkan penuturan Hery, imbas lonjakan suku bunga lebih awal bakal menghantam pada meningkatnya beban biaya dana (cost of fund) akibat merambatnya bunga deposito.

“Kan deposito yang memang sensitif terhadap pricing. Jadi pasti ada peningkatan cost of fund,” kata Hery saat ditemui di Kantor BRI, Jakarta Pusat, Selasa (21/7/2026).

Di samping itu, Hery menyampaikan bahwasanya pihak perbankan memerlukan rentang waktu berkisar tiga hingga empat bulan untuk meneruskan kenaikan biaya dana tersebut pada tingkat suku bunga kredit.

Lantaran hal tersebut, lanjutnya, dampaknya terhadap daya bayar para debitur beserta mutu kualitas aset tidak berlangsung seketika.

“Kami kan enggak bisa semerta-merta hari ini naik suku bunga langsung, enggak. Mungkin itu ada lag time. Tiga sampai empat bulan,” ujarnya.

Tatkala dimintai tanggapan perihal proyeksi BI Rate yang hendak dirilis oleh Bank Indonesia pada Rapat Dewan Gubernur bulan Juli 2026, Rabu (22/7/2026), Hery enggan membeberkan banyak hal.

“Kami tunggu aja,” ucapnya singkat.

Sekadar informasi, otoritas bank sentral pada gelaran RDG Mei 2026 sempat mendongkrak suku bunga acuan secara signifikan sebesar 50 basis poin (bps) dari posisi 4,75% menuju 5,25%.

Selepas itu, pada bulan yang sama, bank sentral kembali mengerek suku bunga acuan sebesar 25 bps ke level 5,50%.

Lalu pada penutupan RDG akhir Juni 2026, bank sentral memutuskan untuk kembali menaikkan BI Rate sebesar 25 bps hingga menyentuh angka 5,75%.

Peningkatan bertahap ini merupakan terobosan lanjutan demi makin memperkokoh stabilisasi kurs nilai tukar rupiah di tengah pekatnya ketidakpastian global, sekaligus menjadi langkah antisipatif (pre-emptive) untuk menjaga laju inflasi pada 2026 dan 2027 tetap terjangkau pada rentang sasaran 2,5±1% sebagaimana dipatok pemerintah.

Terkini

Empat Talenta Persipura Perkuat Indonesia All Stars

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 22:30:01 WIB

Emery dan Mings Kagum Antusiasme Masyarakat Indonesia

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 22:25:31 WIB

Legenda Bulu Tangkis Bersama Lin Dan Gelar Shuttle Open

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 22:20:31 WIB

Pengamat Soroti Kualitas Pemain Pelapis Timnas Indonesia

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 22:12:32 WIB