WFH Tingkatkan Tekanan Psikologis Pekerja yang Tinggal Sendiri

Selasa, 21 Juli 2026 | 01:10:01 WIB
Studi: WFH Berpotensi Picu Tekanan Psikologis Pekerja Sendirian [FOTO: NET].

JAKARTA - Kebijakan kerja jarak jauh (remote work) berpotensi memperbesar risiko timbulnya gangguan kesehatan mental dalam rentang jangka panjang, khususnya bagi para pekerja yang tinggal sendirian, merujuk hasil riset terbaru yang dipublikasikan pada jurnal Science.

Disadur dari laman Psychology Today pada Selasa, penelitian tersebut mengukur data lebih dari 500.000 warga dewasa di Amerika Serikat dengan memperbandingkan pekerja pada tipe pekerjaan yang dapat dieksekusi secara jarak jauh serta jenis pekerjaan yang menuntut kehadiran fisik di lokasi kerja.

Temuan penelitian memperlihatkan bahwa pekerja remote rata-rata menghabiskan durasi sekitar satu jam lebih lama seorang diri saban hari ketimbang pekerja non-remote. Situasi tersebut diiringi dengan melonjaknya derajat tekanan psikologis, depresi, rasa cemas, hingga timbulnya rasa kesepian.

Meski demikian, kajian studi tersebut juga mendapati fakta bahwa dampak negatif dari pola kerja jarak jauh tidak melanda seluruh segmen pekerja.

Pekerja remote yang menetap satu atap bersama anggota keluarga tidak merasakan lonjakan tekanan psikologis ataupun penambahan durasi menyendiri yang signifikan. Sebaliknya, pekerja yang bermukim sendirian terdata menghabiskan waktu lebih banyak dalam kesendirian serta merasakan peningkatan tekanan psikologis.

Kajian riset tersebut turut mengindikasikan bahwa pekerja yang baru beradaptasi ke sistem kerja remote belum merasakan lonjakan masalah kesehatan mental. Indikasi ini memperlihatkan bahwa imbas tersebut cenderung baru mengemuka usai pola kerja jarak jauh dilakoni dalam durasi rentang waktu yang lebih lama.

Merosotnya kuantitas interaksi sosial disinyalir bertindak sebagai salah satu elemen yang memicu memburuknya kondisi mental pada pekerja remote yang tinggal seorang diri.

Kendati begitu, skema kerja jarak jauh tidak senantiasa membawa efek yang merugikan. Mengutip laporan Neurobridge, kalangan pekerja neurodivergen, mencakup individu penyandang autisme serta attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD), justru memandang kebijakan instruksi kembali bekerja penuh di area kantor sebagai salah satu pemicu tekanan stres.

Skema kerja yang fleksibel maupun hybrid dapat menjadi alternatif pilihan yang lebih pas bagi sebagian kalangan pekerja neurodivergen lantaran interaksi sosial secara tatap muka tidak senantiasa menghadirkan pengalaman yang menyenangkan.

Riset terhadap sekitar 1.600 pekerja di China menunjukkan bahwa penerapan sistem kerja fleksibel serta hybrid mampu mendongkrak tingkat kepuasan kerja, performa kinerja, hingga taraf kesehatan mental, terkhusus bagi kalangan pekerja dengan jarak tempuh perjalanan yang menyita waktu serta pekerja wanita.

Studi tersebut menilai deretan temuan ini menegaskan bahwa imbas penerapan kerja jarak jauh tidak dapat disaratkan secara umum lantaran dipengaruhi oleh bermacam faktor, mulai dari situasi lingkungan tempat tinggal, karakter personal tiap individu, hingga aspek budaya serta ketersediaan sistem transportasi pada tiap-tiap negara.

Terkini