KESDM: Hidrogen Murah Lewat Pemanfaatan Listrik Berlebih

Rabu, 22 Juli 2026 | 00:53:01 WIB
Kementerian ESDM sebut Listrik Berlebih Bikin Biaya Hidrogen Murah [FOTO: NET].

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa biaya produksi hidrogen, terkhusus green hydrogen, sanggup ditekan hingga lebih terjangkau lewat pemanfaatan pasokan listrik berlebih (excess) yang bersumber dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) serta Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi sewaktu dijumpai di Jakarta, Rabu, menguraikan bahwa pendayagunaan listrik yang gagal terserap oleh jaringan kelistrikan sanggup dialihkan untuk memproses pembuatan hidrogen.

"Hidrogen itu bisa murah jika kami produksi dari excess listrik. Jadi, kalau excess listrik bisa dari PLTA, bisa dari PLTS," ujar Eniya.

Ia menerangkan bahwa peluang tersebut akan makin terbuka seiring dengan akselerasi kapasitas PLTS di tingkat nasional. Menurut pandangannya, bilamana kapasitas PLTS sanggup menembus angka 100 gigawatt (GW), maka pasokan listrik yang tercipta saat kondisi beban rendah dapat dimanfaatkan untuk memproduksi hidrogen tanpa perlu bersandar pada fasilitas penyimpanan energi berbasis baterai.

"PLTS 100 gigawatt yang utilisasinya besar, itu tidak perlu baterai. Dan jika siang hari masuk ke grid dan demand-nya nggak ada, bisa kami alihkan untuk memproduksi hidrogen," katanya.

Sebagai informasi, besaran biaya produksi green hydrogen saat ini berada di kisaran 3–7 dolar AS per kilogram, sedangkan biaya produksi grey hydrogen pada rentang 1–2 dolar AS per kilogram, blue hydrogen berkisar 1,5–3 dolar AS per kilogram, dan natural hydrogen di angka 0,5–1,5 dolar AS per kilogram.

Eniya menuturkan bahwa hidrogen menyimpan potensi besar guna menopang kebutuhan industri nasional, terkhusus pada sektor pupuk maupun kimia, mengingat sebagian kebutuhan bahan baku industri hingga kini masih menggantungkan pada pasokan impor.

Lebih lanjut, Eniya menjelaskan bahwasanya hidrogen berkedudukan sebagai energi sekunder yang diproduksi dari sumber energi primer, sehingga pengembangannya teramat bergantung pada ketersediaan daya energi dasar.

"Kalau hidrogen itu lebih ke secondary energy, dihasilkan dari energi primer lalu dibangkitkan," katanya.

Di samping hidrogen hijau, Kementerian ESDM turut mencermati peluang pemanfaatan hidrogen alami (natural/white hydrogen) yang terakumulasi langsung di perut bumi sebagai salah satu opsi energi primer yang menjanjikan di masa mendatang.

Terkini

Empat Talenta Persipura Perkuat Indonesia All Stars

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 22:30:01 WIB

Emery dan Mings Kagum Antusiasme Masyarakat Indonesia

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 22:25:31 WIB

Legenda Bulu Tangkis Bersama Lin Dan Gelar Shuttle Open

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 22:20:31 WIB

Pengamat Soroti Kualitas Pemain Pelapis Timnas Indonesia

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 22:12:32 WIB