SMF Proyeksi BI-Rate Bisa Sentuh 6,75 Persen di Akhir Tahun 2026

Rabu, 22 Juli 2026 | 03:05:31 WIB
Tekan Tekanan Rupiah, SMF Proyeksikan BI-Rate Capai 6,75 Persen [FOTO: NET].

JAKARTA - Kepala Ekonom PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) Martin Daniel Siyaranamual menyampaikan bahwa pihaknya memprediksi BI-Rate pada penutup tahun 2026 bakal mencapai level 6,75 persen, dan pada batas moderat dapat menyentuh angka 6,25 persen.

“BI-Rate kemungkinan besar, kalau berdasarkan proyeksi kami, di akhir tahun 2026 ini, itu akan mencapai posisi di 6,75 (persen),” ucapnya dalam agenda Konferensi Pers Kinerja Semester 1 2026 PT SMF (Persero) di Jakarta, Rabu (22/07/2026).

Menurut pandangannya, upaya menahan tekanan atas nilai tukar rupiah menuntut BI mengambil langkah agresif lewat menaikkan BI-Rate. 

Melalui skema tersebut, investor mancanegara dapat menilai bahwa berinvestasi di Indonesia terhitung lebih menguntungkan seiring melonjaknya permintaan penukaran dolar AS ke rupiah.

Tingginya beban belanja pemerintah serta cadangan devisa (cadev) yang kurang memadai menyusul tren penurunan pada awal tahun menjadi dorongan mengapa BI mesti bersikap lebih agresif.

Dampak lanjutan dari potensi peningkatan suku bunga tersebut yakni melesatnya rate Kredit Perumahan Rakyat (KPR) hingga pembengkakan cost of fund.

“Implikasinya apa? Implikasinya perjalanan bisnis PT SMF menghadapi tantangan, tapi itu tidak bisa kami hindari. Kenapa? Karena kondisinya memang saat ini, Bank Indonesia harus bersikap lebih agresif,” ungkap dia.

Di satu sisi otoritas moneter dituntut bersikap agresif, lanjutnya, di sisi lain imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) cenderung merangkak naik yang diiringi oleh Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

 Martin menilai opsi paling realistis bagi otoritas moneter yakni menambah utang, yang berarti wajib menawarkan tingkat imbal hasil yang lebih menggiurkan atau semakin agresif.

Lonjakan imbal hasil SUN dinilai bakal berdampak terhadap seluruh lembaga pembiayaan di industri jasa keuangan, mengingat acuan dari tiap penerbitan obligasi merujuk pada SUN, termasuk bagi SMF.

“SMF pada saat menerbitkan obligasi, referensinya adalah Surat Utang Negara. Nggak mungkin kami di bawah mereka, pasti kami akan naik. Kalau mereka ikut naik, yang lain pasti akan lebih naik lagi. Itu implikasinya. Itulah yang menyebabkan tantangan tersendiri,” kata Martin.

Lewat paparannya, dijelaskan bahwa kondisi pasar keuangan domestik masih berada pada tahap penyesuaian di tengah berkecamuknya konflik Timur Tengah serta evaluasi aksesibilitas pasar oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Sepanjang periode Maret hingga 17 Juli 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi dari kisaran 8 ribu menuju posisi 6.176, selaras dengan meningkatnya tekanan jual oleh investor asing dan maraknya sentimen risk-off di pasar global.

Pada tenggat waktu bersamaan, nilai tukar Rupiah (JISDOR) terdepresiasi hingga sempat menembus Rp18.200 per dolar AS sebelum akhirnya menguat kembali ke level Rp17.944 per dolar AS per 17 Juli 2026.

Dinamika pergerakan tersebut mencerminkan pekahnya kondisi pasar terhadap arus modal asing, termasuk respons para pemodal atas hasil peninjauan MSCI yang menyoroti aspek aksesibilitas beserta efisiensi pasar modal tanah air.

Meskipun demikian, stabilisasi rupiah dan rebound IHSG pada Juni mengindikasikan mulai membaiknya persepsi para pelaku pasar seiring makin solidnya respons kebijakan otoritas serta meredanya gejolak eksternal.

Eskalasi serta dinamika tekanan eksternal turut tecermin pada tren penurunan cadangan devisa Indonesia di awal tahun 2026 yang menyusut dari 154,58 miliar dolar AS per Januari 2026 menjadi 145,6 miliar dolar AS per Juni 2026.

Kemerosotan cadev terpengaruh oleh penyelesaian pembayaran utang luar negeri pemerintah beserta agenda stabilisasi nilai tukar rupiah oleh Bank Indonesia (BI) melalui intervensi di pasar valas di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.

Cadev sendiri berperan sebagai jangkar penopang yang memberi ruang gerak bagi BI untuk melangsungkan intervensi pasar guna meredam gejolak nilai tukar dan memastikan kecukupan pembiayaan impor strategis di tengah dinamika pasar.

Sementara itu, arah kebijakan moneter BI mengindikasikan pendekatan yang kian berhati-hati di tengah meningkatnya tekanan eksternal serta tingginya volatilitas pasar keuangan global.

Sebelumnya, BI sempat memangkas BI-Rate ke level 4,75 persen pada akhir 2025, dan mempertahankannya di level 4,75 persen hingga April 2026. Namun, lewat Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Mei dan Juni, bank sentral telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis points (bps), sehingga BI-Rate hingga posisi Juni 2026 berada di kisaran 5,75 persen.

Langkah kebijakan ini mencerminkan fokus BI yang kian intens dalam menjaga nilai tukar rupiah yang tertekan cukup dalam, serta menekan risiko capital outflow dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Divisi Riset Ekonomi (DRE) SMF menaksir bahwa BI-Rate bakal kembali mengalami kenaikan masing-masing sebesar 25 bps maksimal sebanyak empat kali hingga penutupan tahun 2026.

Terkini