KAI Mulai Akuisisi INKA, Butuh 156 Rangkaian KRL hingga 2040

Rabu, 22 Juli 2026 | 05:32:31 WIB
KAI Akuisisi INKA demi Penuhi 156 Rangkaian KRL hingga 2040 [FOTO: NET].

JAKARTA - PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengawali langkah akuisisi terhadap PT INKA, beriringan dengan estimasi kebutuhan awal kereta rel listrik (KRL) yang menembus 156 rangkaian sampai 2040.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin memaparkan bahwa pemenuhan sarana dalam jangka panjang memerlukan perencanaan yang kian solid antara KAI selaku pihak operator dan INKA selaku manufaktur.

 Tahapan integrasi KAI dan INKA ini pun membuka peluang lebar bagi kemajuan industri manufaktur kereta api Tanah Air.

“Integrasi KAI dan INKA merupakan langkah besar untuk membangun ekosistem industri kereta api nasional yang semakin kuat,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip pada Rabu (22/7/2026).

Proyeksi kebutuhan sarana tersebut mesti diterjemahkan ke dalam skema perencanaan desain, daya tampung produksi, pengujian, serta penyerahan unit yang lebih terintegrasi.

Bobby mengutarakan bahwa proyeksi ini memperlihatkan betapa besarnya ruang ekspansi bagi industri manufaktur dalam negeri. 

Proses pemenuhannya menuntut peningkatan kapasitas produksi secara bertahap, penguatan penguasaan teknologi, jaminan mutu kualitas, serta keselarasan antara kebutuhan operator dan kemampuan pihak produsen.

“Kebutuhan sekitar 156 rangkaian KRL hingga 2040 memberikan gambaran besarnya peluang pengembangan industri ini,” kata Bobby.

Apalagi, kalkulasi tersebut belum memasukkan perkiraan kebutuhan Kereta Rel Diesel, armada kereta api jarak jauh, lokomotif, hingga sarana angkutan logistik yang volumenya akan kian melonjak.

Berdasarkan penuturan Bobby, peluang tersebut menjadi salah satu pijakan KAI dalam menyokong proses integrasi bersama INKA.

 Pola hubungan yang makin terkoordinasi antara operator dan produsen diharapkan sanggup mengikis ketidakpastian kebutuhan, memantapkan kesiapan produksi, hingga memacu pengembangan sarana yang sesuai dengan karakteristik pelayanan di Indonesia.

Sejumlah negara dengan sektor perkeretaapian maju pun membangun integrasi erat antara operator dan entitas manufaktur. Formula tersebut membantu menyelaraskan estimasi kebutuhan sarana, inovasi teknologi, standardisasi produk, hingga kapasitas produksi untuk jangka panjang.

“Semakin kuat industri manufaktur nasional, semakin besar kemampuan kami menyediakan sarana yang aman, andal, nyaman, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ujar Bobby.

Bobby mengimbuhi, lini manufaktur bakal menjadi pilar krusial dalam ekspansi ekosistem bisnis KAI. Integrasi ini memberikan ruang bagi kedua entitas untuk merancang proyeksi kebutuhan secara lebih terukur sekaligus mendongkrak daya saing produk kereta api buatan dalam negeri.

Sebelumnya, Bobby meyakini bahwa akselerasi industrialisasi kereta api merupakan salah satu penggerak utama Indonesia dalam mencapai pertumbuhan ekonomi 8%.

“INKA selama ini tidak terintegrasi dengan kami. Tidak ada value chain. Jangan sampai layanannya maju, industrinya tertinggal. Sedangkan yang membuat Indonesia tumbuh 8% itu adalah industrialisasi,” tuturnya beberapa waktu lalu.

Sebagai catatan, akumulasi pelanggan KAI Group pada semester I/2026 menyentuh 258,99 juta orang, atau menguat 7,55% dibandingkan kurun yang sama di tahun lalu. 

Eskalasi mobilitas masyarakat ini perlu dibarengi dengan kesiapan kapasitas sarana demi menjaga standar keselamatan, keandalan, dan kenyamanan layanan.

Terkini