JAKARTA - Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menganggap transformasi badan usaha milik negara (BUMN) lewat alur restrukturisasi dan perampingan bakal memperkokoh kinerja perusahaan pelat merah sekaligus mendongkrak kontribusinya kepada negara.
Mengutip penuturan Esther di Jakarta, Kamis, transformasi BUMN melalui restrukturisasi menghadirkan rangkaian imbas positif, salah satunya membenahi kondisi finansial perusahaan negara.
Ia menguraikan, restrukturisasi finansial sanggup membantu BUMN menuntaskan beban utang serta memperkuat struktur neraca keuangan.
"BUMN yang sehat mampu memberikan dividen yang lebih optimal dan mendukung pendanaan proyek strategis nasional," katanya.
Di samping itu, langkah merger maupun pembentukan holding BUMN dipandang sanggup memacu efisiensi dan daya saing via pemangkasan fungsi yang tumpang tindih.
Menurut analisisnya, lewat struktur yang lebih ramping, BUMN diproyeksikan tampil kian adaptif serta sanggup bersaing di kancah pasar global.
Transisi tersebut juga dianggap mampu memperkokoh tata kelola perusahaan lewat peningkatan transparansi serta pengaplikasian prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG) guna membendung praktik korupsi.
Sebelumnya, Komisi XI DPR RI menganggap transformasi BUMN lini sektor jasa keuangan yang dikomandani Danantara membuahkan hasil positif.
"Kinerja positif Himbara, Pegadaian, dan PNM pada kuartal pertama 2026 menunjukkan transformasi BUMN Himbara dan UMi yang dijalankan Danantara berada pada jalur yang tepat. Yang kami lihat bukan sekadar peningkatan laba, tetapi juga penguatan efisiensi, kualitas pertumbuhan, dan perluasan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Ini adalah indikator penting bahwa transformasi yang dilakukan mampu menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan," kata Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun.
Kinerja positif itu tercermin dari capaian laba bank anggota Himpunan Bank Negara (Himbara) yang terdata menyentuh Rp39,92 triliun pada kuartal I 2026.
Secara rinci, Bank Mandiri menorehkan laba bersih Rp15,4 triliun dengan pertumbuhan kredit menyentuh 17,4 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
BRI membukukan laba bersih sebesar Rp15,5 triliun pada kuartal I 2026 atau tumbuh 13,7 persen (yoy), didukung penyaluran kredit hingga Rp1.562 triliun dan Dana Pihak Ketiga (DPK) Rp1.555 triliun.
Pencapaian tersebut meneruskan rekam jejak positif sepanjang 2025, ketika BRI berhasil meraup laba konsolidasian Rp57,13 triliun serta menggelontorkan dividen tunai sebesar Rp52,1 triliun.
Sementara itu, BNI mencatatkan perolehan laba Rp5,66 triliun disertai lonjakan kredit 20,1 persen menjadi Rp919,3 triliun. Sampai pengujung Mei 2026, total aset BNI berada di angka Rp1.365,36 triliun, DPK senilai Rp1.063,92 triliun, serta ekuitas Rp160,99 triliun.
Lebih lanjut, menurut keterangannya, salah satu PR penting yang wajib dibenahi yaitu menjamurnya jumlah anak hingga cucu perusahaan BUMN yang acap kali tidak memiliki relevansi langsung dengan lini bisnis inti perusahaan induknya.