Harga Air Naik dan Pelanggan Turun, Sopir Tangki Samarinda Terdesak

Kamis, 23 Juli 2026 | 19:38:31 WIB
Sopir Tangki Samarinda Terdesak Usai Harga Air Naik & Pelanggan Turun [FOTO: NET].

JAKARTA - Musim kemarau mulai menyapa Kota Samarinda. Menyusutnya curah hujan memicu kekhawatiran warga akan potensi tersendatnya pasokan air bersih, utamanya bilamana intrusi air asin kembali merangsek ke Sungai Mahakam dan mengganggu produksi air baku Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

Di tengah keresahan tersebut, para pengemudi tangki air swasta justru mengaku tak lagi mengecap lonjakan permintaan layaknya periode tahun-tahun terdahulu. 

Mereka mengaku makin terhimpit akibat melambungnya harga beli air, membengkaknya operasional, hingga tergerusnya jumlah pelanggan sejak Perumdam mengoperasikan armada distribusi air mandiri.

Yanto (65), seorang pengantar air tandon di Samarinda, mengutarakan bahwa kemarau sebenarnya tak mendadak memicu krisis air. Persoalan baru mencuat saat hujan absen dalam kurun panjang hingga debit air Sungai Mahakam melorot.

"Kalau air asin itu sebenarnya tidak ada kaitannya dengan kemarau. Yang jadi masalah bukan kemaraunya, tapi ketika hujan tidak turun dalam waktu lama, debit Sungai Mahakam berkurang sehingga air asin dari muara naik ke hulu," kata Yanto, Kamis (23/7/2026).

Menurut pandangannya, tatkala intrusi air asin terjadi, PDAM tidak dapat mengolah air baku menjadi air bersih.

"Kalau air asin sudah naik, PDAM tidak bisa memproduksi air. Jadi bukan karena kemarau langsung, tapi karena tidak ada dorongan air tawar dari Sungai Mahakam. Itu yang menyebabkan produksi terganggu," ujarnya.

Yanto membeberkan bahwa pesanan air bersih lewat armada tangki terbanyak datang dari area perkotaan Samarinda. Sementara di kawasan pinggiran, sebagian warga masih menggantungkan diri pada sumur bor.

 Bagi rumah tangga berkonsumsi tinggi, satu tangki berkapasitas 5.000 liter umumnya hanya cukup bertahan selama kurun satu minggu sebelum memesan ulang.

Dari Mitra Jadi Saingan PDAM

Tolak belakang dari anggapan umum, musim kemarau kini tak lagi menjadi momen panen rezeki bagi sopir tangki air swasta.

Menurut Yanto, peningkatan pesanan lebih banyak dirasakan oleh armada kepunyaan PDAM dibandingkan lini swasta.

"Permintaan buat PDAM mungkin naik. Tapi buat kami, swasta, tidak juga," katanya.

Ia menilai situasi ini dipicu oleh langkah Perumdam yang kini telah memegang armada pengangkut air sendiri.

"Dulu kami ini mitra PDAM. Sekarang rasanya sudah jadi saingan," ujarnya.

Jika sebelumnya satu unit tangki swasta mampu melayani kurun 10 pelanggan saban hari, saat ini angkanya merosot hingga separuh.

"Kalau dulu kami bisa mengantar ke 10 pelanggan, sekarang mungkin tinggal lima. Mau bertahan bagaimana?" katanya.

Di sisi lain, beban operasional makin berat seiring melambungnya harga pembelian air hingga 100 persen.

Menurut penuturan Yanto, harga air yang semula berada di kisaran Rp 50.000 per tangki lima meter kubik kini melonjak menjadi Rp 100.000.

"Naiknya 100 persen. Sementara harga jual ke masyarakat tidak bisa ikut naik dua kali lipat. Jadi keuntungan kami habis," ujarnya.

Saat ini air dilepas ke masyarakat di kisaran Rp 300.000 per tangki. Namun dari nominal tersebut, Rp 100.000 tersedot untuk membeli air. Sisanya wajib dialokasikan menutupi biaya solar, upah sopir, gaji kenek, sampai perawatan armada.

"Sekarang harga air sudah Rp 100.000 untuk satu tangki lima kubik. Itu baru harga airnya, belum solar, belum gaji sopir, belum kenek," katanya.

Imbasnya, margin yang dahulu menyentuh Rp 100.000 sekali jalan kini cuma tersisa sekitar Rp 50.000, bahkan kerap amblas tergerus operasional.

"Jangan bicara untung. Buat makan saja sudah susah," ucap Yanto.

Merosotnya pendapatan memaksa sebagian pelaku usaha memilih gulung tikar. Yanto mengaku populasi pemilik mobil tangki swasta di Samarinda terus menyusut lantaran tak kuat menutupi operasional.

"Dulu yang punya mobil tangki banyak. Sekarang tinggal sedikit. Mungkin sebentar lagi habis. Kalau ada yang mau beli mobil saya, mungkin saya jual," katanya.

Minta Kemitraan Dibenahi

Ia menaruh harapan agar PDAM kembali membuka skema kemitraan yang lebih proporsional bagi pengusaha tangki swasta.

"Dulu kami benar-benar mitra PDAM. Kalau mereka kesulitan, kami membantu distribusi air. Sekarang mereka sudah mandiri. Tidak perlu kami lagi," ujarnya.

Menurut Yanto, para pengemudi hanya mendambakan adanya keberpihakan, misalnya lewat penyesuaian harga air khusus mitra.

"Harusnya ada solusi. Misalnya kemitraan diperbaiki lagi atau harga air bagi mitra diringankan. Kami tidak minta subsidi. Hidup mati kami tanggung sendiri. Tapi paling tidak ada keberpihakan kepada mitra," katanya.

Ia mengaku usulan tersebut pernah dilayangkan tertulis lewat surat ke PDAM, tetapi hingga kini belum membuahkan tindak lanjut.

Keluhan senada diutarakan Ipul (65), pengantar air tandon lainnya. Ia menilai ekspansi unit armada tangki PDAM membuat ruang gerak swasta makin terdesak.

"Saya dengar kalau ada keluhan masyarakat, nanti malah ditambah unit lagi. Kalau unit ditambah, kami semakin habis. Dulu dengan jumlah unit yang sedikit kami masih bisa melayani. Sekarang unitnya sudah bertambah menjadi tujuh, padahal dulu hanya dua," katanya.

Menurut Ipul, ketimpangan biaya operasional membuat harga jual air milik PDAM terhitung lebih murah.

"Kami menjual air Rp 300.000, sementara mereka bisa Rp 200.000. Bagi ibu-ibu rumah tangga tentu memilih yang Rp 200.000. Selisihnya terlalu jauh," ujarnya.

Tak hanya itu, ia juga menyoroti mekanisme rekrutmen sopir armada PDAM yang dinilai belum merangkul para sopir swasta senior.

"Kami di sini tidak pernah ditawari menjadi sopir. Yang diambil justru orang-orang dari mereka," katanya.

Ipul mengaku para pengemudi sebenarnya berkeinginan menyampaikan aspirasi secara terbuka, namun terhalang rasa takut kehilangan mata pencaharian.

"Kami sebenarnya ingin kompak, tetapi sulit. Kalau melawan, ada potensi kehilangan pekerjaan. Potensi itu pasti ada," ujarnya.

Terkini

Empat Talenta Persipura Perkuat Indonesia All Stars

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 22:30:01 WIB

Emery dan Mings Kagum Antusiasme Masyarakat Indonesia

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 22:25:31 WIB

Legenda Bulu Tangkis Bersama Lin Dan Gelar Shuttle Open

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 22:20:31 WIB

Pengamat Soroti Kualitas Pemain Pelapis Timnas Indonesia

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 22:12:32 WIB