JAKARTA – Langkah Bank Indonesia (BI) dalam mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate pada level 5,75 persen belum membawa pergeseran berarti pada peta investasi di bursa saham. Pengamat menilai saham-saham perbankan berkapitalisasi jumbo masih menjadi opsi favorit pemodal ritel, di tengah bayang-bayang ketimpangan global dan gempuran aksi jual bersih (net sell) oleh investor mancanegara.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengungkapkan, saham bank-bank besar tetap memikat berkat fondasi bisnis yang solid.
“Saham perbankan besar masih menarik karena didukung fundamental yang solid, kualitas aset yang relatif terjaga, permodalan yang kuat, serta kemampuan menghasilkan laba yang stabil,” ujar Nafan, Kamis (23/7/2026).
Menurut pandangannya, penahanan suku bunga acuan oleh BI turut menopang kestabilan margin bunga bersih (net interest margin/NIM).
“Tidak berubahnya BI Rate juga membantu menjaga stabilitas margin bunga bersih (NIM), meskipun ruang ekspansi kredit mungkin tidak seagresif jika suku bunga mulai diturunkan,” paparnya.
Di sisi lain, lini properti dan konstruksi masih minim stimulan baru. Tingginya beban pembiayaan dinilai menghambat akselerasi ekspansi di kedua lini bisnis tersebut. Walau demikian, kebijakan BI dipandang sanggup meredam gejolak di pasar modal sehingga efeknya terhadap bursa cenderung netral.
“Keputusan ini juga mengurangi ketidakpastian sehingga dampaknya (ke bursa) cenderung netral. Apabila BI mulai menurunkan suku bunga pada periode berikutnya, sektor ini berpotensi memperoleh sentimen yang lebih positif,” pungkasnya.
Minat Asing Belum Pulih
Nafan menambahkan, kebijakan BI turut mengokohkan persepsi positif pada ketahanan ekonomi nasional. Kendati begitu, kondisi tersebut belum cukup kuat untuk memicu kembalinya pemodal asing ke pasar saham dalam negeri.
Berdasarkan penjelasannya, aliran modal asing masih sangat bergantung pada rentetan sentimen eksternal. Faktor-faktor tersebut meliputi penentuan arah suku bunga oleh bank sentral AS (The Fed), fluktuasi nilai tukar rupiah, kondisi ekonomi global, hingga perbandingan valuasi saham Indonesia terhadap negara-negara berkembang lainnya.
“Keputusan BI mendukung persepsi positif terhadap stabilitas ekonomi, tetapi belum tentu langsung meningkatkan minat investor asing. Arus dana asing tetap sangat dipengaruhi oleh kondisi global, arah kebijakan The Fed, nilai tukar rupiah, serta daya tarik valuasi saham Indonesia dibandingkan negara emerging markets lainnya,” katanya.
Data internal Mirae Asset Sekuritas mencatat investor asing membukukan net sell senilai Rp1,11 triliun pada transaksi Rabu (22/7/2026). Secara kumulatif sejak awal tahun, total pelepasan bersih oleh investor asing telah menembus angka Rp90,52 triliun.
Pada rentang waktu yang sama, IHSG mencatatkan penurunan sebesar 26,74 persen secara year to date (YTD).
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) turut merekam investor asing melakukan net sell sebesar Rp920,34 miliar di keseluruhan pasar dan Rp1,11 triliun di pasar reguler.
Pemodal asing masih mencatatkan aksi beli bersih (net buy) senilai Rp192,85 miliar di pasar negosiasi dan tunai. Total volume transaksi menyentuh 46,4 miliar lembar saham.
Volume pembelian oleh investor asing tercatat 7,5 miliar saham atau 8,10 persen dari total volume transaksi. Adapun volume penjualan mencapai 8,4 miliar saham atau 9,04 persen.
Dengan demikian, porsi transaksi investor asing menyumbang 17,14 persen dari keseluruhan volume perdagangan. Aktivitas transaksi pasar modal masih didominasi oleh pemodal domestik.
Volume pembelian investor dalam negeri mencapai 38,9 miliar saham atau 41,90 persen. Sedangkan volume penjualan menyentuh 38 miliar saham atau 40,96 persen.
Secara agregat, kontribusi pelaku pasar domestik mendominasi sebesar 82,86 persen dari total volume transaksi. Mengacu pada nilai transaksi, total nilai perdagangan saham menyentuh Rp18,6 triliun.
Investor asing mencatatkan nilai pembelian Rp4,8 triliun atau 13,03 persen dari total nilai transaksi, dengan nilai penjualan Rp5,8 triliun atau 15,51 persen. Sementara itu, investor dalam negeri membukukan nilai pembelian Rp13,7 triliun atau 36,97 persen dan nilai penjualan Rp12,8 triliun atau 34,49 persen.
Strategi untuk Investor Ritel
Nafan menganjurkan pemodal jangka pendek untuk memanfaatkan momen pelemahan IHSG akibat pelepas saham oleh asing dengan melakukan akumulasi secara bertahap pada saham second liner yang likuid atau menerapkan strategi swing trading.
Pelaku pasar juga diimbau menitikberatkan perhatian pada saham berfundamental kokoh yang ditopang oleh katalis laporan keuangan semester I-2026. Penerapan manajemen risiko tetap menjadi poin krusial menyusul masih tingginya dinamika volatilitas di pasar global.
Bagi pemodal jangka panjang, Nafan menyarankan taktik buy on weakness pada saham-saham berfundamental solid, utamanya di sektor perbankan, konsumsi, telekomunikasi, serta perusahaan yang berpotensi memetik benefit dari kucuran belanja infrastruktur dan transformasi ekonomi dalam negeri.
Menurutnya, taktik akumulasi bertahap jauh lebih terukur ketimbang mengejar saham yang harganya telah melambung tinggi