BI Rate Tetap 5,75 Persen, Apa Dampaknya Bagi IHSG dan Rupiah?

Kamis, 23 Juli 2026 | 22:19:31 WIB
BI Tahan BI Rate 5,75 Persen, IHSG & Rupiah Bergerak Positif [FOTO: NET].

JAKARTA – Langkah Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate pada posisi 5,75 persen dipandang sanggup memelihara stabilitas pasar keuangan, termasuk menopang laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), kendati belum cukup perkasa untuk membalikkan aksi jual oleh investor asing.

Bank sentral pada Rabu (22/7/2026) menetapkan suku bunga tetap bertahan di level 5,75 persen. Di samping itu, fondasi stabilitas nilai tukar kian diperkuat lewat pemberian sederet insentif guna memikat arus masuk modal asing.

Langkah ini dinilai sebagai opsi moderat dalam menjaga stabilitas, sekaligus memberi ruang bagi pertumbuhan ekonomi.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menyampaikan bahwa kebijakan moneter BI cenderung disikapi netral hingga positif oleh bursa saham. Keputusan BI dianggap selaras dengan ekspektasi para pelaku pasar sehingga tidak memicu gejolak mengejutkan di pasar modal.

“Respons pasar terkait keputusan BI mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen menurut saya cenderung netral hingga positif karena keputusan tersebut sejalan dengan ekspektasi pelaku pasar,” ujar Nafan, Kamis (23/7/2026).

Absennya gebrakan kebijakan di luar estimasi membuat fokus investor lebih bergeser pada proyeksi fundamental emiten, khususnya rilis kinerja keuangan semester I-2026, hingga dinamika sentimen global.

“Tidak adanya kejutan kebijakan membuat investor lebih fokus pada prospek fundamental emiten dan perkembangan sentimen global. Keputusan ini juga menunjukkan komitmen BI dalam menjaga stabilitas makroekonomi,” paparnya.

Adapun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melaju positif pada perdagangan Kamis. Hingga sekitar pukul 14.15 WIB, Indeks terangkat 73,95 poin atau 1,17 persen menuju posisi 6.408,43. 

IHSG mengawali perdagangan di area 6.346,62 dan bergerak dalam rentang 6.338,24 hingga 6.454,31 sepanjang sesi berjalan. Walau sempat menyentuh level tertinggi di 6.454,31, laju IHSG agak menyusut tergerus aksi profit taking.

Lebih jauh, konsistensi BI menahan suku bunga ikut menyokong kestabilan nilai tukar rupiah lantaran tetap memelihara daya pikat aset keuangan domestik di mata investor.

Mata uang Garuda di pasar spot hingga pukul 14.28 WIB Kamis ini bertengger di kisaran Rp17.931 per dolar AS atau terakselerasi 14 poin, setara 0,08 persen.

Nafan menjelaskan bahwa laju kurs rupiah tidak semata dipengaruhi oleh arah suku bunga acuan BI, melainkan turut terimbas oleh pelbagai faktor eksternal seperti dinamika Dolar AS, pergerakan arus modal asing, serta ekskalasi kondisi geopolitik dunia.

Selagi rentetan variabel eksternal tersebut relatif aman, kebijakan BI mempertahankan BI Rate menjadi sentimen positif yang menopang stabilitas pasar keuangan, termasuk bursa saham nasional saat ini.

“Stabilitas rupiah tidak hanya ditentukan BI Rate, melainkan juga dipengaruhi kondisi eksternal seperti pergerakan dolar AS, arus modal asing, dan perkembangan geopolitik. Selama faktor-faktor tersebut kondusif, keputusan BI dapat menjadi penopang positif bagi pasar saham,” pungkas dia.

Sejak Mei 2026, bank sentral telah menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate secara akumulatif sebesar 100 basis poin hingga berada di posisi 5,75 persen. 

Langkah pengerekkan suku bunga ini dibarengi berbagai program penyeimbang, mulai dari intervensi di pasar valas, peningkatkan imbal hasil instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), sampai kucuran insentif bagi investor asing.

Namun, di tengah gelombang kebijakan ini, pergerakan rupiah tetap berada dalam bayang-bayang tekanan. Hingga pertengahan Juli 2026, mata uang Garuda sempat melemah menuju level Rp18.060 per dolar AS atau terdepresiasi 2,09 persen secara bulanan dan tergerus 7,29 persen sejak awal tahun.

Lantas, apa pemicu di balik belum terangkatnya nilai tukar rupiah secara signifikan meski BI Rate sudah dikerek?

Hasil kajian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menunjukkan bahwa pengerekkan suku bunga memang sanggup mendongkrak daya pikat aset keuangan domestik, tetapi nilainya belum cukup tebal untuk menutup derasnya permintaan valuta asing di dalam negeri.

Dalam teori kebijakan moneter, kenaikan suku bunga acuan bakal menjadikan imbal hasil instrumen keuangan domestik kian menggiurkan ketimbang negara lain. Dampak ini tecermin pada pasar surat utang negara.

LPEM FEB UI mencatat bahwa arus modal masuk pada portofolio asing membaik sepanjang periode 15 Juni hingga 15 Juli 2026 dengan nilai bersih menyentuh 700 juta dolar AS (Rp12,51 triliun). 

Dari jumlah tersebut, kisaran 1,26 miliar dolar AS (Rp22,52 triliun) mengalir masuk ke pasar obligasi pemerintah, kendati sebagiannya terserap oleh arus modal keluar senilai 560 juta dolar AS (Rp10,01 triliun) dari bursa saham.

Eskalasi minat investor pada obligasi Indonesia mengemuka pasca-BI dua kali mengerek BI Rate pada Juni 2026, masing-masing sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen dan berlanjut ke posisi 5,75 persen.

Menurut LPEM FEB UI, pengetatan garis moneter ini ditujukan untuk memperkokoh stabilitas kurs rupiah sekaligus menaikkan daya tarik aset keuangan berdenominasi rupiah bagi pelaku pasar luar negeri.

Penyesuaian suku bunga juga membuat imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) bertahan tinggi. Imbal hasil obligasi tenor satu tahun terangkat tipis dari 7,04 persen menjadi 7,05 persen, sedangkan tenor 10 tahun naik dari 7,15 persen menuju 7,24 persen sepanjang rentang 15 Juni hingga 15 Juli 2026.

Merekahnya yield spread dibanding negara-negara maju menjadi salah satu katalis yang menopang permintaan investor asing terhadap instrumen obligasi Indonesia.

Meski demikian, masuknya modal asing tersebut belum mampu membalikkan arah pergerakan rupiah. LPEM mencatat nilai tukar rupiah justru melemah dari Rp17.690 per dolar AS pada 15 Juni menjadi Rp18.060 per dolar AS pada 15 Juli 2026.

Mengacu pada analisis tersebut, lonjakan BI Rate memang terbukti menaikkan daya pikat obligasi pemerintah dan menyedot masuk dana asing ke pasar pendapatan tetap.

Akan tetapi, lonjakan permintaan terhadap rupiah yang datang dari pemodal asing tersebut tidak memadai untuk mengimbangi tingginya kebutuhan valuta asing di pasar domestik.

Bank sentral mencatat sepanjang kuartal II-2026 terjadi lonjakan permintaan dolar AS akibat pembagian dividen perusahaan kepada pemegang saham asing serta pemenuhan pembayaran utang luar negeri.

Akibatnya, volume permintaan valuta asing di pasar domestik melampaui pasokan tambahan yang berasal dari arus modal masuk, sehingga rupiah tetap berada dalam jepitan depresiasi. 

Dengan kata lain, transmisi pengerekkan suku bunga sejatinya bekerja lewat jalur aliran modal, namun besarnya tekanan kebutuhan valuta asing dalam negeri masih jauh lebih mendominasi.

Terkini