Hari Anak Nasional, Harita Nickel Bangun Rumah Belajar di Pulau Obi

Kamis, 23 Juli 2026 | 23:19:06 WIB
Harita Nickel Perkuat Literasi Anak Pulau Obi Lewat Rumah Belajar [FOTO: NET].

JAKARTA– Menyambut momentum peringatan Hari Anak Nasional setiap 23 Juli, Harita Nickel memperkokoh komitmennya dalam menyokong peningkatan mutu pendidikan anak melalui pendirian deretan rumah belajar di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara.

Program yang menjadi bagian dari Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM) sektor pendidikan ini dirancang untuk memupuk kegemaran membaca, mengasah kemampuan literasi, serta menyediakan ruang belajar yang kondusif bagi tumbuh kembang anak sebagai penerus bangsa.

"Rumah belajar ini merupakan komitmen nyata Harita Nickel dalam mewujudkan Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat pada pilar pendidikan," kata Executive Vice President External Relations Harita Nickel Latif Supriadi.

Terdapat empat unit fasilitas yang didirikan, meliputi Rumah Belajar Taman Ceria di Desa Kawasi, Rumah Belajar Simore di Desa Gambaru, Rumah Belajar Cahaya Ilmu di Desa Ocimaloleo, serta yang paling gres, Rumah Belajar Nyinga Moi di Desa Fluk yang diresmikan pada 2 Mei.

Sarana rumah belajar tersebut dimanfaatkan anak-anak untuk mengantongi bimbingan belajar tambahan terkait literasi dan numerasi dasar di luar jam sekolah, yang didampingi langsung oleh guru pendamping berkonsep belajar sambil bermain.

Rangkaian aktivitas harian di rumah belajar mencakup sesi membaca selama 15 menit, pendampingan khusus anak yang belum lancar membaca dan menulis, kegiatan mendongeng, permainan edukatif, hingga pemutaran film edukasi bersama. Fasilitas yang disiapkan di antaranya buku-buku bacaan, seperangkat permainan edukatif, tenaga pengajar pendamping, serta porsi makanan ringan bagi anak-anak.

Sejauh ini, program tersebut tercatat telah menjangkau 210 siswa dan diharapkan mampu mengerek keterampilan literasi maupun numerasi mereka.

Pengajar Rumah Belajar Taman Ceria Imer Natalia Lumamuly menyampaikan bahwa siswa yang masih tertinggal dalam penyerapan materi di sekolah formal bakal diarahkan mengikuti kegiatan di Taman Ceria.

"Taman Ceria luar biasa untuk perkembangan anak-anak, karena kalau di sekolah siswanya banyak. Tapi kalau di Taman Ceria, jumlah siswanya lebih sedikit, sehingga proses pembelajaran ke siswa bisa lebih terkontrol dengan baik," kata dia.

Merujuk data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, tingkat buta huruf anak rentang usia 5-17 tahun secara nasional menyentuh 7,10 persen. Angka tersebut terbilang lebih tinggi pada kelompok anak-anak di area pedesaan serta dari golongan 20 persen termiskin.

Provinsi Maluku Utara sendiri mencatatkan persentase di atas rata-rata nasional, yaitu 7,19 persen. Artinya, dari tiap 100 anak di wilayah tersebut, sekitar tujuh anak masih belum menguasai kemampuan membaca dan menulis.

Kondisi geografis Maluku Utara yang didominasi gugusan kepulauan beserta keterbatasan infrastruktur dinilai menjadi penyebab tingginya angka tersebut, sehingga memerlukan kerja sama multipihak, termasuk kontribusi dari perusahaan swasta yang beroperasi di wilayah tersebut.

Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara yang juga menjabat Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Maluku Utara Syaiful Bahry menilai, ketersediaan ruang publik komunal seperti rumah belajar dapat mereduksi tingkat stres anak, mempererat ikatan sosial, sekaligus menumbuhkan optimisme orang tua atas masa depan buah hati mereka.

"Inisiatif ini sangat membantu pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, khususnya anak-anak di desa," kata Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Maluku Utara, Mulyadi Tutupoho.

Manfaat program ini turut dirasakan langsung oleh jajaran orang tua. Salah seorang wali murid, Hamsiah Drakel, mengungkapkan bahwa anak-anaknya selalu datang dengan gembira setiap sore untuk membaca dan bermain di rumah belajar.

"Setiap sore anak-anak di sini datang dengan hati senang. Mereka tidak hanya membaca, tapi juga bermain setelahnya. Saya bisa melihat kegembiraan mereka setiap sore, rasanya seperti stres mereka di rumah hilang ketika belajar dan bermain di sini," tuturnya.

Orang tua lainnya, Nadia Abdullah, menaruh harapan agar keberadaan rumah belajar mampu mengalihkan perhatian anak-anak dari penggunaan gawai secara berlebihan.

"Anak-anak sekarang banyak main HP, jadi kurang fokus belajar. Dengan adanya rumah belajar ini, kami berharap mereka bisa lebih fokus dan punya kegiatan yang lebih bermanfaat," katanya.

Latif menimpali, pihaknya berharap rumah belajar dapat bertransformasi menjadi ruang yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi anak-anak untuk menimba ilmu sekaligus bermain, serta menjadi sarana memperluas wawasan, membentuk karakter, dan membimbing mereka agar bijak mengadopsi teknologi di era modern.

Program Rumah Belajar Harita Nickel sebelumnya juga sukses mengantongi penghargaan Subroto Awards 2025 untuk kategori Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Terinovatif Komoditas Mineral bidang pendidikan.

Di sisi lain, Pengamat kebijakan publik Universitas Khairun Ternate Yetty Tarumadoja menekankan bahwa keberadaan rumah belajar sebagai penopang pendidikan formal bagi anak-anak di wilayah pesisir Pulau Obi tergolong sangat krusial.

Menurutnya, rumah belajar sanggup menjadi ruang belajar kedua yang aman, inklusif, sekaligus pusat pembedayaan masyarakat sehingga membantu menjaga keberlanjutan literasi dan numerasi anak serta menekan ketimpangan pendidikan antara wilayah kepulauan dan daratan di Maluku Utara.

"Kehadirannya diharapkan dapat menjaga keberlanjutan literasi dan numerasi anak, sekaligus menjadi pusat pemberdayaan masyarakat pesisir Pulau Obi agar tidak terjadi kesenjangan pendidikan antara wilayah pulau dan daratan di Maluku Utara," kata Yetty.

Terkini