JAKARTA – Produsen alat berat ternama asal China, LiuGong, resmi mengawali pembangunan fasilitas manufaktur lokal di Karawang, Provinsi Jawa Barat, pada Rabu (22/7/2026) dengan target kapasitas mencapai 5.000 unit tiap tahunnya. Langkah ekspansi ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah di tengah melebarnya jarak antara kebutuhan pasar dan kapasitas produksi alat berat dalam negeri.
Hadir langsung dalam seremoni peletakan batu pertama, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan apresiasi kepada LiuGong lantaran keberadaan pabrik ini dinilai sanggup mempermudah keterjangkauan alat berat, baik bagi proyek pemerintah maupun lini bisnis swasta.
Penanaman modal tersebut juga diproyeksikan memberi dampak positif bagi perekonomian daerah melalui kenaikan pendapatan daerah dan pembukaan peluang kerja.
"Kebutuhan terhadap alat berat merupakan kebutuhan mendasar untuk membangun kemajuan sebuah bangsa, jalan memerlukan alat berat, membuka sawah baru, membuat danau, membuka area pertambangan dan membuka area perkebunan membutuhkan alat berat. Tidak ada satupun pembangunan yang tidak menggunakan alat berat," ujar Dedi dalam pidatonya di upacara tersebut.
Merespons investasi tersebut, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kemenperin RI Setia Diarta menyatakan bahwa ceruk investasi pada industri alat berat domestik masih amat terbuka luas.
Terlebih lagi, daya tampung produksi lokal saat ini belum sanggup mengimbangi melonjaknya permintaan pasar atas berbagai tipe alat berat.
Dari estimasi kebutuhan yang diprediksi menembus 19.000 unit pada tahun ini, Kemenperin mencatat kemampuan manufaktur lokal baru sanggup menyuplai sekitar 10.000 unit alat berat per tahun.
"Produk alat berat merupakan subsektor penting yang perlu dikembangkan di dalam negeri mengingat besarnya kebutuhan alat berat di sektor infrastruktur, perkebunan, kehutanan dan sektor pertambangan, termasuk di dalamnya hilirisasi sumber daya alam," ujar Diarta.
Kompleks manufaktur LiuGong ini berdiri di atas lahan seluas 2,7 hektare di wilayah Karawang Barat, yang nantinya terbagi ke dalam tiga zona utama: area perakitan, area fabrikasi, serta lahan cadangan untuk perluasan di masa mendatang.
Operasional pabrik ini bakal menerapkan sistem otomatisasi hingga 70 persen serta memanfaatkan pasokan energi ramah lingkungan sebesar 30 persen.
Vice Chairman sekaligus Presiden Guangxi LiuGong Machinery Luo Guobing menyampaikan bahwa proyek ini didesain tidak sekadar sebagai fasilitas perakitan biasa, melainkan sebagai wadah industri hijau berbasis teknologi cerdas yang memadukan aktivitas manufaktur, riset dan pengembangan (litbang), pengembangan SDM, serta sinergi lintas industri.
Guna mendukung peningkatan kapasitas SDM lokal, LiuGong saat ini tercatat telah menjalin kemitraan dengan setidaknya delapan perguruan tinggi setempat.