JAKARTA — Target penerapan mandatori bahan bakar minyak (BBM) campuran bahan bakar nabati bioetanol sebesar 10% atau E10 pada 2027 membentur tantangan besar lantaran kapasitas produksi yang dinilai masih sangat jauh dari kebutuhan program.
Managing Director Energy Shift Indonesia Putra Adhiguna menyampaikan bahwa kebutuhan bioetanol guna menopang program E10 diproyeksikan menembus kisaran 1,5 juta kiloliter per tahun.
Angka tersebut melampaui jauh kemampuan kapasitas produksi saat ini yang cuma berkisar 70.000 sampai 100.000 kiloliter per tahun.
Menurut Putra, pemerintah wajib menjamin bahwa program ini tidak menggantungkan pasokan pada etanol impor lantaran bakal bertolak belakang dengan agenda penguatan ketahanan energi nasional.
Ia pun menilai pencampuran bioetanol belum memadai untuk memangkas ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak mentah dan BBM.
"Kalau hanya 10% etanol, pun meski domestik, model tersebut akan terus mendorong pertumbuhan kendaraan BBM yang 90% bensinnya akan harus bertumpu impor. Maka kendaraan listrik juga harus dimaksimalkan," ujarnya, dikutip Senin (27/7/2026).
Di samping persoalan kapasitas produksi, Putra menyoroti pentingnya kepastian pasokan bahan baku supaya tidak memicu aksi pembukaan lahan secara masif maupun mendongkrak risiko deforestasi.
Ia turut mendesak pemerintah agar membeberkan mekanisme pembiayaan program secara transparan, terkhusus mengenai pihak yang bakal menanggung beban tambahan biaya eksekusi di lapangan.
Dari sudut pandang konsumen, Putra mengingatkan bahwa karakteristik bioetanol mengantongi tingkat efisiensi energi yang lebih rendah ketimbang bensin murni, sehingga berpeluang memengaruhi tingkat konsumsi bahan bakar kendaraan.
"Masyarakat penting memahami etanol murni sekitar 30% lebih boros dari bensin biasa, dan pada campuran E10 bisa sekitar 4% lebih boros sehingga harus dipertimbangkan dalam penentuan harga," ujarnya.
Ia mengimbuhkan, untuk jangka panjang pihak pemerintah juga wajib mengantisipasi potensi lonjakan beban subsidi energi seandainya kalkulasi harga bioetanol berada di atas tarif bensin konvensional.
"Subsidi energi berpotensi meningkat mengingat selisih harga, serupa dengan Rp30 triliun hingga Rp50 triliun tambahan di biodiesel," katanya.