Perry Warjiyo Mundur, IHSG Berisiko Tertekan dalam Jangka Pendek

Senin, 27 Juli 2026 | 23:39:31 WIB
IHSG Berpotensi Terkoreksi Jangka Pendek Usai Perry Warjiyo Mundur [FOTO: NET].

JAKARTA — Pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia dinilai berpotensi menjadi amunisi sentimen negatif bagi laju pasar saham.

Pada pagi hari ini pukul 09.19 WIB, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melaju di zona merah dengan melemah 0,64% menuju posisi 6.156.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai dinamika ini timbul bukan dipicu oleh perubahan mendadak pada fundamental ekonomi Indonesia, melainkan lantaran pasar keuangan pada dasarnya menghindari kondisi ketidakpastian, utamanya saat terjadi pergeseran kepemimpinan di bank sentral yang mengemban peran strategis.

Sentimen negatif dari mundurnya Perry Warjiyo kian melengkapi himpitan tekanan dari ranah eksternal. Hendra mencermati, kondisi global saat ini masih dilingkupi tantangan di tengah antisipasi para pelaku pasar menjelang pengumuman suku bunga The Fed (FOMC), tingginya tingkat volatilitas pasar global, hingga eskalasi ketegangan geopolitik yang memicu investor cenderung mengambil opsi wait and see.

"Meski demikian, dampak negatif diperkirakan masih bersifat jangka pendek. Penunjukan Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Gubernur Bank Indonesia memberikan sinyal bahwa kesinambungan kebijakan moneter tetap terjaga," kata Hendra, Senin (27/7/2026).

Hendra memandang Destry merupakan jajaran perumus kebijakan Bank Indonesia sepanjang beberapa tahun belakangan, sehingga pasar cenderung mengkalkulasi tidak bakal ada pergeseran kebijakan yang tajam selama masa transisi berlangsung. 

Persepsi pasar yang terjaga tersebut menurutnya tecermin dari laju rupiah yang relatif stabil di kisaran Rp17.953 per dolar AS.

Di samping itu, Hendra menilai tampuk posisi Gubernur Bank Indonesia tergolong sebagai salah satu jabatan yang amat vital. 

Pasalnya, tiap penentuan suku bunga acuan, kebijakan nilai tukar, pengendalian tingkat inflasi, hingga formulasi kebijakan makroprudensial akan memengaruhi pergerakan rupiah, pasar obligasi, maupun IHSG.

Oleh sebab itu, menurutnya titik fokus utama investor bukan sekadar pertukaran sosok pemimpinnya, melainkan sejauh mana tingkat kredibilitas, independensi, serta konsistensi arah kebijakan Bank Indonesia dapat dipertahankan.

Selama fase transisi bergulir dengan baik dan arah kebijakan moneter tidak melenceng secara signifikan, imbas terhadap pasar diproyeksikan hanya berlangsung sementara.

Sebaliknya, jika mengemuka ketidakpastian mengenai arah kebijakan atau independensi bank sentral, ia menilai potensi volatilitas di pasar keuangan berisiko tereskalasi, utamanya pada nilai tukar rupiah, obligasi pemerintah, beserta saham-saham di sektor perbankan.

Di sisi lain, terdapat amunisi sentimen positif yang berpeluang menahan laju tekanan di pasar saham. Patokan harga minyak mentah Brent yang sebelumnya sempat merangkak mendekati level US$100 per barel kini terkoreksi sekitar 4,5% menuju kisaran US$87 per barel.

Menurutnya, landainya harga minyak ini sanggup meredakan kecemasan atas lonjakan inflasi global, mengikis tekanan terhadap arah suku bunga bank sentral, serta memangkas risiko pembengkakan biaya energi bagi sektor usaha.

Untuk sesi perdagangan hari ini, Hendra memproyeksikan IHSG bakal bergerak cenderung melandai dengan area support di posisi 6.060 dan resistance pada level 6.300. 

Selama IHSG sanggup bertahan di atas kisaran support 6.060, tekanan yang mengemuka diperkirakan sebatas koreksi wajar sebagai bentuk respons atas dinamika sentimen pasar.

"Namun, apabila level tersebut ditembus disertai meningkatnya tekanan jual dan arus keluar dana asing, maka peluang pelemahan yang lebih dalam akan semakin terbuka. Sebaliknya, sentimen positif dari terkoreksinya harga minyak dunia berpotensi membantu meredam tekanan jual sehingga pelemahan IHSG diperkirakan tidak akan terlalu dalam," ujar dia.

Terkini