Emiten Non-Tambang Gencar Akuisisi Perusahaan Batubara

Selasa, 28 Juli 2026 | 21:39:31 WIB
Emiten Non-Tambang Beralih ke Batubara, Begini Prospeknya [FOTO: NET].

JAKARTA - Kendati kerap dilabeli telah menginjak era senja kala, ranah industri pertambangan batubara nyatanya senantiasa menyimpan daya pikat tinggi bagi sebagian emiten. Fenomena ini tecermin dari maraknya tren ekspansi sejumlah emiten non-tambang menuju sektor tersebut.

Satu di antara contohnya yakni PT Singaraja Putra Tbk (SINI) yang baru saja mencaplok saham PT Kemilau Mulia Sakti (KMS), anak usaha PT Petrosea Tbk (PTRO), dengan nilai mencapai Rp 1,73 triliun. 

Seiring perampungan akuisisi tersebut, SINI mematok target volume penjualan batubara konsolidasian merangkak naik secara bertahap jika disandingkan realisasi tahun 2025 yang sebesar 203.057 ton.

Menatap masa depan, KMS yang menguasai aset tambang batubara di wilayah Kalimantan Timur ditargetkan sanggup mendongkrak kapasitas produksinya secara bertahap, berawal dari kisaran 1 juta ton per tahun pada fase awal hingga menembus kapasitas optimal di angka sekitar 5 juta ton per tahun.

Di samping itu, terdapat PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) yang tengah mematangkan aksi rights issue bernilai fantastis mencapai Rp 27,1 triliun. 

Porsi terbesar dari dana segar tersebut atau sebesar Rp 20,82 triliun bakal dimanfaatkan FORU guna mencaplok 49% saham PT Borneo Prima lewat mekanisme transaksi inbreng atau penyetoran modal berupa selain uang.

Aksi akuisisi ini bakal merubah fokus kegiatan usaha utama FORU yang semula bergerak di bidang media, periklanan, serta percetakan menjadi perusahaan holding pertambangan batubara.

PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) pun tak ketinggalan bersiap mencaplok 45% saham PT Trimitra Coal Perkasa (TCP) dengan taksiran nilai transaksi berkisar US$ 100 juta. 

Transaksi pencaplokan ini diproyeksikan tuntas pada kuartal III-2026 mengandalkan skema pertukaran saham (share swap). Untuk itu, MEJA mengonsep aksi korporasi rights issue pada kisaran harga Rp 450--Rp 550 per saham demi menyokong rencana akuisisi tersebut.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi memaparkan, terdapat beberapa iklim pemicu yang menjadikan sektor batubara tetap mengantongi daya pikat tinggi, sehingga sejumlah emiten tanpa rekam jejak pertambangan nekat berekspansi ke sektor ini.

Di antaranya, harga batubara yang bertahan kokoh pada level tinggi atau di atas US$ 100 per ton sebagai imbas kecamuk perang yang memicu lonjakan permintaan di tengah tersendatnya pasokan energi non-batubara. Selain itu, penilaian valuasi aset tambang juga tertekan oleh diskon faktor keberlanjutan, sementara kondisi arus kas riil dari aset tersebut sejatinya masih tergolong solid.

Skema pendanaan akuisisi lewat rights issue turut dinilai lebih ekonomis bagi emiten di tengah penetapan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang bertengger di level 5,75%.

"Sektor batubara tetap menjanjikan dalam jangka menengah atau 3-5 tahun selama transisi energi berjalan lebih lambat daripada ekspektasi," ujar dia, Senin (27/7/2026).

Sederet risiko utama dari aksi akuisisi ini yang patut dicermati emiten meliputi kendala minimnya rekam jejak operasional, potensi molornya revisi Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB), penyesuaian regulasi tarif royalti, hingga pergeseran haluan ESG yang berisiko membatasi akses permodalan internasional.

Wafi menilai ketersediaan sumber daya manusia (SDM) spesialis operasional tambang menjadi bottleneck atau ganjalan terbesar bagi emiten yang baru perdana berekspansi ke sektor batubara.

Jalan keluar yang sanggup ditempuh emiten yakni dengan memboyong jajaran manajemen yang sudah makan asam garam atau memastikan entitas target akuisisi telah ditopang tim operasional yang matang. Di samping itu, restu persetujuan RKAB wajib diamankan oleh emiten sebelum transaksi resmi ditutup.

"Pendanaan harus diperkuat sebelum capital expenditure (capex) besar keluar," imbuh dia.

Secara terpisah, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menyampaikan, sektor batubara masih menyajikan potensi arus kas yang relatif solid, utamanya bagi area tambang yang mengantongi biaya produksi rendah.

Di samping itu, arus permintaan batubara di pasar domestik masih disokong oleh kebutuhan pembangkit listrik, sedangkan permintaan pasar ekspor, khususnya dari beberapa negara kawasan Asia, tergolong masih cukup kokoh kendati laju pertumbuhannya mulai mengendur.

Untuk komoditas batubara metalurgi, prospeknya tak kalah menggiurkan lantaran terserap dalam industri pembuat baja, sehingga mengantongi dinamika permintaan yang berbeda jika dibandingkan batubara termal. Poin-poin inilah yang memicu emiten berbondong-bondong melirik potensi sektor batubara.

Ditambah lagi, langkah ekspansi lewat akuisisi aset tambang juga sanggup menjadi jalan pintas yang lebih melesat ketimbang membangun proyek tambang baru dari nol.

"Emiten dapat langsung memperoleh cadangan, izin usaha, serta produksi yang sudah berjalan, sehingga berpotensi mempercepat kontribusi terhadap pendapatan dan laba," ungkap dia, Rabu (28/7/2026).

Kendati demikian, Nafan menilai deretan risiko yang membayangi emiten sama sekali tidak kecil. Emiten wajib berhadapan dengan kerikil integrasi pascaakuisisi tambang, gejolak fluktuasi harga batubara, perubahan regulasi industri pertambangan, kebutuhan belanja modal yang masif, hingga potensi kenaikan leverage bilamana akuisisi ditopang oleh pinjaman utang.

Selain itu, bagi emiten yang bertolak dari latar belakang sektor berbeda, terdapat risiko eksekusi lantaran karakteristik industri pertambangan teramat kontras jika disandingkan dengan lini bisnis sebelumnya.

Terkini