Rupiah Makin Tertekan, Ditutup ke Level 18.080 per Dolar AS

Selasa, 28 Juli 2026 | 22:57:01 WIB
Rupiah Turun ke Rp18.080 per Dolar AS, Ini Biang Keroknya [FOTO: NET].

JAKARTA - Nilai tukar rupiah pada transaksi pasar spot kembali melesu pada penutupan sesi perdagangan Selasa (28/7/2026). Rupiah ditutup terkoreksi 74 poin atau 0,41 persen menuju ke level Rp 18.080 per dolar Amerika Serikat (AS).

Pelemahan ini melanjutkan rapor merah setelah sehari sebelumnya rupiah dipatok pada posisi Rp 18.000 per dolar AS. Pada awal perdagangan Selasa pagi, rupiah pun sempat dibuka merosot 59 poin menuju posisi Rp 18.068 per dolar AS.

Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mencermati, keputusan pengunduran diri Perry Warjiyo dari takhta Gubernur Bank Indonesia (BI) masih bertindak sebagai salah satu faktor penekan yang membebani alur gerak rupiah.

Menurut pandangannya, suksesi pergantian kepemimpinan di tubuh BI memantik timbulnya spekulasi ketidakpastian di tengah deraan tekanan pada nilai tukar rupiah, fenomena arus modal asing yang hengkang, hingga ketidakjelasan arah suku bunga global.

Walau begitu, penunjukan Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti selaku pelaksana tugas Gubernur BI dipandang sanggup meredam sebagian riak kecemasan para pelaku pasar. 

Para investor saat ini tengah menanti-nanti penetapan figur Gubernur BI definitif. Pelaku pasar menaruh harapan agar alur transisi bergulir mulus serta memunculkan sosok bernilai kredibilitas tinggi yang sanggup mengawal independensi bank sentral.

"Terkait proses suksesi tersebut, pelaku pasar menyerahkan sepenuhnya penunjukan pengganti Gubernur Bank Indonesia kepada mekanisme konstitusional dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pemerintah dan otoritas terkait diharapkan dapat menetapkan figur yang memiliki kredibilitas serta komitmen kuat dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional," ujar Ibrahim.

Di sisi lain, lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings memandang pengunduran diri Perry Warjiyo tidak mendatangkan pengaruh secara langsung atas peringkat utang Indonesia. 

Sovereign Analyst S&P Global Ratings Rain Yin menyampaikan kepada Bloomberg, perkembangan situasi tersebut sejatinya tetap menyimpan potensi menaikkan tingkat risiko bagi prospek kebijakan ekonomi Indonesia ke depan.

Dilihat dari ranah eksternal, sorotan fokus para investor tertuju pada kompas arah kebijakan moneter AS. Federal Reserve diproyeksikan bakal menahan tingkat suku bunga acuannya dalam forum pertemuan pekan ini. 

Berdasarkan kalkulasi CME FedWatch, kans probabilitas atas skenario tersebut bertengger di kisaran 62 persen.

Di luar keputusan suku bunga acuan, para pelaku pasar turut menanti-nanti paparan pernyataan Ketua Federal Reserve Kevin Warsh perihal gambaran inflasi beserta arah kebijakan moneter ke depan.

Para investor juga bakal memelototi rilis deretan data ekonomi krusial Amerika Serikat, yang mencakup laju pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal II hingga Personal Consumption Expenditures (PCE) price index Juni yang menjadi acuan utama indikator inflasi bagi Federal Reserve.

Terkini