JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali menyentuh posisi Rp18.000 per dolar AS. Pada penutupan sesi perdagangan Senin (27/7/2026), mata uang rupiah terdepresiasi sebesar 46 poin menuju Rp18.009 per dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi mengemukakan bahwasanya pihak pasar saat ini memberikan respons negatif atas keputusan mundurnya Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo.
Gelombang sentimen negatif ini menurut penjelasannya bakal kembali menghimpit gerak rupiah pada perdagangan Selasa (28/7/2026).
Ibrahim memproyeksikan rupiah hari ini bakal kembali ditutup melesu pada kisaran rentang Rp18.010 hingga Rp18.060 per dolar AS.
"Pengunduran diri tersebut bersamaan dengan gonjang-ganjing rupiah yang terus melemah akibat tensi geopolitik yang terus memanas di Timur Tengah antara AS dan Iran," kata Ibrahim, Senin (27/7/2026).
Di luar elemen intervensi bank sentral, dorongan sentimen negatif turut bersumber dari kondisi ketahanan fiskal negara. Ibrahim memaparkan bahwasanya posisi rasio utang Indonesia saat ini berada pada kisaran 40% terhadap PDB.
Sementara itu, pihak Trading Economics melaporkan bahwasanya deretan analis pasar keuangan telah melayangkan peringatan bahwa aksi pengunduran diri Gubernur BI yang berlangsung mendadak sanggup memantik kekhawatiran para investor yang sebelumnya memang telah mencemaskan risiko fiskal beserta independensi bank sentral.
"Warjiyo, yang memulai masa jabatan lima tahun keduanya pada 2023, menghadapi tekanan yang kian besar untuk menyelaraskan kebijakan dengan agenda pertumbuhan pemerintah saat nilai tukar rupiah menyentuh rekor terendah pada bulan Juni," tulis laporan tersebut.
Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode Juli 2026, BI menetapkan langkah untuk menahan tingkat suku bunga acuan pada level 5,75%. Ketetapan ini terbilang kontras dari konsensus pasar yang semula mengondisikan kenaikan lanjutan usai kalkulasi total kenaikan sebesar 100 basis poin sejak bulan Mei.
"Di tingkat global, nilai tukar dolar AS melemah seiring turunnya harga minyak setelah meredanya ketegangan antara AS dan Iran, yang turut meredakan kekhawatiran terkait pasokan dan inflasi," tulisnya.