JAKARTA - Emiten pengelola terminal kendaraan PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk. (IPCC) menorehkan pertumbuhan performa operasional yang positif sepanjang paruh pertama semester I/2026.
Merujuk pada siaran resminya Selasa (28/7/2026), operator terminal kendaraan di Indonesia yang berada di bawah naungan PT Pelindo Multi Terminal tersebut membukukan lonjakan volume kargo secara konsolidasi sebesar 13,86% secara tahunan (year-on-year/YoY), disokong oleh langkah transformasi operasional berbasis digitalisasi serta geliat peningkatan aktivitas logistik domestik.
Hingga Juni 2026, Branch Jakarta berdampingan dengan lima Terminal Satelit IPCC melayani tambahan 74.886 unit kendaraan bila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Kenaikan tersebut mencakup pelbagai kategori kargo, mulai dari kendaraan penumpang (completely built-up/CBU), alat berat, hingga armada bus dan truk.
Tak hanya itu, frekuensi kunjungan kapal (shipcalls) yang dilayani IPCC turut melonjak signifikan. Akumulasi kapal yang ditangani menyentuh 1.901 unit hingga akhir Juni 2026 atau tumbuh 18,37% ketimbang 1.606 shipcalls pada semester I/2025.
Peningkatan tersebut mencerminkan kian efisiennya layanan operasional yang disokong sistem digital serta responsif atas kebutuhan pelanggan.
Kenaikan operasional juga teperdata pada hampir seluruh lini bisnis perseroan. Volume kendaraan CBU secara konsolidasi menyentuh 446.406 unit atau menanjak 4,98% dibandingkan kurun yang sama tahun lalu, dengan tambahan mencapai 21.178 unit.
Sektor truk dan bus tampil menjadi penyumbang pertumbuhan tertinggi. Volume bongkar muat mencapai 152.078 unit atau melonjak 53,52% secara tahunan, bertambah sebanyak 53.018 unit ketimbang semester I/2025.
Sementara itu, lini alat berat turut memamerkan tren positif sebesar 4,35%, dari 15.872 unit menjadi 16.562 unit.
Menurut penjelasan manajemen, pertumbuhan yang merata pada berbagai segmen bisnis tersebut mencerminkan efektivitas sistem kontrol operasional, optimasi tata kelola kapasitas terminal, serta praktik good corporate governance yang dieksekusi secara konsisten.
Kendati demikian, IPCC mengakui bahwasanya pertumbuhan operasional tersebut belum sepenuhnya tereskalasi pada kinerja keuangan secara konsolidasi.
Pihak perseroan memaparkan bahwa lonjakan trafik terutama didorong oleh kargo domestik, sedangkan lalu lintas impor masih mengalami penurunan seiring meredupnya serapan permintaan kendaraan impor di pasar global.
Dinamika tersebut turut memengaruhi performa Branch Jakarta yang masih memegang peran sebagai penyumbang utama bisnis IPCC dengan porsi sekitar 87% terhadap total volume kargo perseroan.
Branch Jakarta mengalami tekanan baik dari sisi operasional maupun perolehan pendapatan akibat imbas geopolitik global dan penyesuaian permintaan kendaraan, baik rakitan dalam negeri maupun impor.
Di lain sisi, lima Terminal Satelit yang berkontribusi sekitar 13% dari akumulasi volume kargo justru mencatatkan pergerakan operasional yang sangat solid, yakni mencapai 38,1%.
Akan tetapi, kenaikan tersebut belum sanggup mengompensasi tekanan pendapatan di Branch Jakarta akibat adanya perbandingan skala bisnis dan struktur tarif layanan antara terminal utama dan terminal satelit.
Manajemen IPCC menilai situasi tersebut merupakan tantangan eksternal yang sifatnya sementara. Perseroan bakal terus memperkuat skema mitigasi risiko sekaligus mengeksekusi diversifikasi pilar pertumbuhan di seluruh jejaring terminal demi menjaga keberlanjutan kinerja.
Sikap optimistis IPCC juga terpacu oleh mulainya kebangkitan industri otomotif nasional. Merujuk pada data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), total angka penjualan wholesales kendaraan nasional sepanjang Januari–Juni 2026 menyentuh 398.662 unit atau meningkat 14,34% ketimbang periode yang sama tahun lalu.
Selaras dengan tren positif tersebut, volume ekspor kendaraan CBU yang ditangani IPCC turut terangkat 11,78% menjadi 191.199 unit. Vietnam tercatat sebagai negara destinasi ekspor terbesar sepanjang kurun waktu tersebut.