Kenapa Beras Tetap Berkutu Meski Disimpan Rapat? Ini Kata Pakar

Selasa, 28 Juli 2026 | 01:13:01 WIB
Pakar Ungkap Alasan Kutu Tetap Muncul di Beras yang Tertutup Rapat [FOTO: NET].

JAKARTA - Banyak orang merasa heran lantaran sudah menyimpan beras di dalam wadah kedap udara, namun kutu beras tetap saja bermunculan. Pengamat pangan Elvira Syamsir memaparkan bahwa kehadiran kutu pada beras yang disimpan rapat tak melulu dipicu oleh masuknya serangga dari luar. 

Pada banyak kasus, telur kutu sebenarnya telah bersarang di dalam bulir beras jauh sebelum sampai ke tangan konsumen, sehingga baru menetas usai disimpan beberapa waktu.

"Banyak orang mengira kutu masuk dari luar. Padahal, pada banyak kasus, prosesnya sudah dimulai jauh sebelum beras sampai ke rumah," tulis Elvira lewat akun Instagram @elvira_seputar.pangan pada Jumat (24/7/2026), sebagaimana dikutip dengan izin pengunggah.

Menurut penjelasannya, kutu beras (Sitophilus oryzae) merupakan jenis serangga pemakan biji-bijian yang menyerang komoditas beras, gabah, hingga jagung. Hampir seluruh fase siklus hidupnya berlangsung di dalam butir beras sehingga keberadaannya sukar kasatmata.

Telur Berkembang di Dalam Bulir Beras

Elvira menerangkan bahwa kutu betina bereproduksi dengan melubangi permukaan bulir beras, lalu menaruh sebutir telur di dalamnya sebelum kembali menutup rapi lubang tersebut. 

Selanjutnya, telur akan menetas menjadi larva, berubah menjadi pupa, hingga akhirnya menjadi kutu dewasa. Seluruh tingkatan alur tersebut berjalan di bagian dalam bulir beras.

Setelah alur perkembangan tuntas, kutu dewasa bakal merayap keluar dari dalam bulir beras. Kutu tersebut lantas kembali bertelur pada bulir beras lainnya sehingga siklus daur hidupnya terus berulang.

"Larva dan pupa berkembang di dalam butir beras. Kutu dewasa baru keluar setelah perkembangan selesai," kata Elvira.

Lantaran berproses di dalam bulir beras, keberadaan telur maupun larva tidak sanggup terlihat dari luar. Alhasil, beras yang awalnya tampak bersih saat dibeli bisa mendadak dipenuhi kutu beberapa pekan kemudian.

Berawal Sejak Proses Pascapanen

Elvira menjelaskan bahwa sebelum bertransformasi menjadi beras yang siap diolah, gabah mesti melalui serangkaian tahapan pascapanen, mulai dari pemanenan hingga siap disimpan dan didistribusikan. Urutannya meliputi:

Panen

Pengeringan

Penyimpanan Gabah

Penggilingan

Pembersihan dan sortasi

Menjadi beras

"Selama tahapan ini, serangga dapat menginfestasi apabila kondisi penyimpanan mendukung, terutama bila kadar air dan suhu masih cukup tinggi," kata Elvira.

Kasus Relatif Jarang

Sementara itu, Dosen Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Hari Purwanto, menyampaikan bahwa potensi keberadaan telur kutu yang telah ada sejak fase gabah memang bisa terjadi, kendati kategorinya relatif jarang. Menurutnya, cangkang gabah mengantongi lapisan keras sehingga sukar ditembus oleh kutu.

"Ya. Tapi relatif jarang karena gabah memiliki kulit yang keras sulit ditembus. Kalau gabah retak, kutu beras bisa bertelur di bulir gabah dan ikut masuk ke gudang," tutur Hari saat dihubungi Kompas.com, Selasa (28/7/2026).

Hari memaparkan bahwa langkah penanganan pencegahan idealnya dimulai sejak fase pascapanen sebelum gabah dimasukkan ke gudang penampungan.

"Pencegahan gabah sebelum masuk gudang perlu dikeringkan dengan baik," ucapnya.

Di samping itu, menurut Hari, semestinya terdapat skema kontrol untuk mengecek kondisi beras sebelum masuk ke area gudang penyimpanan.

"Harusnya ada sistem kendali yang memeriksa beras sebelum masuk gudang. Bisa diperiksa manual," kata Hari.

Wadah Tertutup Tetap Diperlukan

Lebih lanjut, Elvira menegaskan bahwa tindakan menyimpan beras di dalam wadah kedap atau tertutup rapat sejatinya tetap mendatangkan manfaat.

"Tetap berguna. Wadah tertutup membantu mencegah kutu dari luar masuk dan mengurangi infestasi baru," ungkapnya.

Kendati demikian, wadah yang tertutup rapat tidak dapat menghentikan perkembangan telur atau larva yang terlanjur berada di dalam bulir beras untuk tumbuh menjadi kutu dewasa.

"Penyimpanan yang baik harus mencegah infestasi dari luar dan menghentikan perkembangan kutu di dalam beras," tulisnya.

Menurut Elvira, koloni kutu beras sanggup memicu beraneka kerusakan, seperti susutnya bobot beras, bulir menjadi berlubang, munculnya serbuk halus, serta menumpuknya kotoran berupa remahan tubuh kutu. 

Jika populasinya terlampau tinggi, beras turut memancarkan aroma kurang sedap. Di samping itu, infestasi kutu mampu merosotkan mutu beras serta memicu tumbuhnya jamur kapang, utamanya bila beras ditaruh dalam kondisi lembap.

Cara Meminimalkan Pertumbuhan Kutu Beras

Guna menekan laju pertumbuhan kutu beras, Elvira menyarankan agar beras disimpan di wadah kedap udara, dipastikan dalam kondisi senantiasa kering, serta ditaruh di lokasi yang sejuk dan tidak lembap.

Ia pun mengimbau agar beras baru tidak dicampur dengan sisa beras lama, wadah penyimpanan dibersihkan sebelum diisi ulang, serta membeli beras sesuai takaran kebutuhan agar tidak tertimbun terlalu lama.

Terkini