BRIN Sebut Riset Harus Jadi Dasar Hilirisasi Tingkatkan Nilai Tambah

Rabu, 29 Juli 2026 | 21:30:31 WIB
BRIN: Penguatan Riset dan Hilirisasi Pacu Pertumbuhan Ekonomi [FOTO: NET].

JAKARTA - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengemukakan bahwasanya kegiatan riset wajib diposisikan sebagai pilar fondasi atau dasar hilirisasi agar mampu melahirkan produk inovasi bernilai tambah tinggi yang berdaya guna dalam memperkuat struktur industri nasional, mendongkrak tingkat daya saing, serta memicu akselerasi pertumbuhan ekonomi.

Ia menegaskan bahwa luaran riset tidak boleh sekadar berhenti pada tataran publikasi karya ilmiah semata, melainkan harus bertransformasi menjadi wujud teknologi terapan, diimplementasikan sebagai inovasi nyata, hingga dikomersialisasikan secara masif menjadi produk komoditas industri.

"Riset harus diarahkan untuk mempercepat hilirisasi agar bisa menghasilkan nilai tambah," kata Arif saat memberikan pembekalan kepada Tim Ekspedisi Patriot 2026 di Jakarta, Rabu (29/7/2026).

Berdasarkan pandangannya, penguatan ekosistem riset beserta inovasi merupakan prasyarat mutlak guna membangun sektor ekonomi riil yang kokoh sehingga sanggup menopang target ambisius pertumbuhan ekonomi nasional.

"Kalau kami ingin menjadi negara (ekonomi terbesar) nomor empat di dunia pada tahun 2050, maka salah satu prasyaratnya adalah stabilitas pertumbuhan ekonomi di kisaran 6 sampai 7 persen. Dan itu hanya bisa terjadi kalau ada kualitas sektor ekonomi riil yang kuat," ujar dia.

Ia menjelaskan bahwasanya siklus proses inovasi bermula dari fase penemuan ilmu pengetahuan mendarat, dielevasikan menjadi teknologi, diaplikasikan sebagai bentuk inovasi, lalu dikomersialisasikan hingga bermuara pada aktivitas industri yang mendatangkan nilai manfaat ekonomi secara langsung.

Arif menuturkan bahwa agenda riset pun harus berpijak dari realitas kebutuhan riil masyarakat supaya teknologi yang diciptakan benar-benar ampuh menuntaskan berbagai problem di lapangan.

"Riset tidak semata-mata berbasis pada imajinasi peneliti. Riset sebaiknya juga harus melihat aspirasi dan kebutuhan dari pengguna kami," ujar dia.

Ia menambahkan bahwa para periset dituntut untuk memahami secara mendalam problem keseharian para petani, nelayan, pelaku dunia usaha, maupun elemen masyarakat sebelum merumuskan riset agar produk penelitian tersebut bisa diadopsi secara luas serta direplikasi di pelbagai wilayah.

Menurut Arif, Indonesia mengantongi modal dasar yang luar biasa besar untuk memperkuat ekosistem riset nasional melalui limpahan kekayaan sumber daya alam yang disinergikan secara apik bersama penguasaan sains, teknologi, serta inovasi.

Sebagai contoh konkrit, hasil riset terbukti telah sukses mendorong diversifikasi komoditas produk turunan minyak kelapa sawit yang kini tidak lagi terbatas sekadar minyak goreng, melainkan merambah ke sektor biodiesel, produk gula generasi ketiga, biomaterial, sampai ragam varian produk industri turunannya.

Di samping itu, komoditas rumput laut potensial diolah menjadi bahan baku karagenan yang bernilai tinggi untuk dimanfaatkan dalam industri sektor dirgantara serta aneka produk berbasis biomaterial modern.

Ia menilai bahwasanya jalinan kolaborasi strategis antara pihak BRIN, institusi perguruan tinggi, jajaran pemerintah daerah, pelaku industri, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta masyarakat luas merupakan kunci utama agar karya riset tidak mangkrak sebagai dokumen di atas kertas, melainkan menjelma menjadi manfaat ekonomi yang konkrit.

"Teknologi-teknologi yang Anda ciptakan itu teknologi yang menjawab kebutuhan dan kemudian disebarkan. Libatkan Kementerian Transmigrasi, libatkan BRIN, libatkan perguruan tinggi untuk menunjukkan bahwa Anda membawa manfaat," kata Arif.

Dalam materi paparannya, Arif membeberkan bahwa posisi peringkat Indonesia dalam indeks inovasi global atau Global Innovation Index saat ini berada di urutan ke-55. 

Dirinya turut memaparkan data jumlah permohonan pendaftaran paten di Indonesia sepanjang tahun 2024 yang berkisar di angka 15.000, jumlah yang terpaut sangat jauh jika dikomparasikan dengan capaian negara China yang menembus kisaran 1,8 juta paten.

Menurut dia, realitas kondisi tersebut sekaligus menjadi tantangan besar bersama untuk terus memperkuat struktur ekosistem inovasi di tanah air.

Merujuk pada catatan database BRIN, Indonesia memiliki lebih dari 4.400 perguruan tinggi yang didukung oleh sekitar 303 ribu tenaga dosen serta hampir menyentuh angka 10 juta mahasiswa, di mana potensi sumber daya tersebut dinilai sebagai modal raksasa dalam mengakselerasi ekosistem riset, pengembangan teknologi, dan inovasi guna menyokong agenda pembangunan nasional.

Arif mengimbuhkan bahwasanya kehadiran Tim Ekspedisi Patriot diharapkan mampu mengemban peran strategis sebagai jembatan penghubung fungsional antara hasil riset teknologi dengan eskalasi kebutuhan riil masyarakat di kawasan transmigrasi, yakni melalui pembangunan simpul kolaborasi, pendampingan inovasi berkelanjutan, serta pengembangan ekosistem yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat.

Terkini