Wamendiktisaintek Soroti Pengangguran dan Dorong Transformasi Vokasi

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:43:31 WIB
Wamendikti Dorong Transformasi Vokasi untuk Jawab Tantangan Kerja [FOTO: NET].

JAKARTA - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan menyatakan penguatan karakter serta relevansi menjadi salah satu fokus utama pembenahan pendidikan vokasi guna menjawab tantangan dunia kerja di Indonesia.

"Ada tiga hal yang selalu menuntut adanya solusi dalam dunia pendidikan, termasuk pendidikan vokasi, yaitu mutu, akses, dan relevansi. Saya ingin mengajak kami semua melakukan introspeksi terhadap tata kelola penyelenggaraan pendidikan vokasi, khususnya terkait relevansi," kata Wamen Fauzan dalam keterangan di Jakarta, Selasa.

Wamendiktisaintek memaparkan bahwa perguruan tinggi vokasi memikul tanggung jawab untuk memastikan para lulusan tak sekadar menguasai keahlian praktis, tetapi juga mengantongi pengalaman belajar yang sejalan dengan kebutuhan dunia industri.

Ia membeberkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2026, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berada di angka 4,68 persen atau setara 7,24 juta orang, disertai 1.050.764 angkatan kerja berpendidikan tinggi yang belum bekerja pada 2025.

Di sisi lain, mengacu pada Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) dalam Statistik Pendidikan Tinggi 2025, Indonesia mempunyai 755 perguruan tinggi vokasi yang mencakup 283 politeknik, 443 akademi, serta 29 akademi komunitas.

Wamendiktisaintek menyoroti situasi ini, sembari menegaskan bahwa perguruan tinggi termasuk jalur vokasi mesti sanggup memberi kepastian bahwa para mahasiswa memperoleh kompetensi yang dicari industri sekaligus mengantongi peluang karier yang lebih baik usai lulus.

"Kalau kami melihat data BPS tentang pengangguran, angka pengangguran yang berlatar belakang pendidikan vokasi masih menjadi tantangan. Ini menjadi tanggung jawab kami bersama, khususnya dalam rangka memperkuat relevansi di dunia industri yang dinamis," ujarnya.

Menurut Fauzan, pembenahan pendidikan tinggi vokasi selaras dengan arahan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, lewat Astacita yang memosisikan pembangunan sumber daya manusia unggul sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045, termasuk melalui penguatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) demi mendongkrak daya saing bangsa.

Dalam lingkup tersebut, pendidikan vokasi memegang peran strategis untuk mengarahkan penguasaan sains dan teknologi menjadi keahlian terapan.

"Pendidikan vokasi berperan penting untuk memberikan kepastian kepada mahasiswa bahwa setelah lulus mereka memiliki kompetensi yang dibutuhkan dan peluang untuk memperoleh pekerjaan," tutur Wamendiktisaintek Fauzan.

Tags

Terkini