Manufaktur dan Konsumsi RT Topang Pertumbuhan Ekonomi RI Triwulan II

Rabu, 05 Agustus 2026 | 00:06:31 WIB
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud [FOTO: NET].

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa capaian angka pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia yang berada di level 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada periode triwulan II tahun 2026 utamanya disokong dan ditopang oleh sektor industri manufaktur atau pengolahan apabila ditinjau dari sisi lapangan usaha, serta komponen konsumsi rumah tangga apabila dilihat dari sisi pengeluaran.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu, menyampaikan bahwa besaran produk domestik bruto (PDB) pada triwulan II 2026 atas dasar harga berlaku (ADHB) sebesar Rp6.552,1 triliun dan atas harga konstan (ADHK) Rp3.576,2 triliun.

Secara lebih mendalam dan terperinci, jika diamati dari sudut pandang sektor lapangan usaha, bidang industri pengolahan atau manufaktur keluar sebagai motor sumber pertumbuhan terbesar dengan menorehkan angka sebesar 0,90 persen, yang didukung secara langsung oleh pertumbuhan sektor tersebut sebesar 4,52 persen (yoy) serta menguasai porsi pangsa atau kontribusi terhadap total PDB sebesar 18,50 persen.

Di samping sektor tersebut, laju pertumbuhan ekonomi nasional turut disokong oleh lapangan usaha sektor perdagangan yang menyumbangkan sumber pertumbuhan sebesar 0,83 persen, sektor konstruksi dengan perolehan sumber pertumbuhan sebesar 0,62 persen, serta sektor informasi dan komunikasi (infokom) yang menyumbang sumber pertumbuhan sebesar 0,48 persen.

Sementara itu, apabila ditinjau berdasarkan komponen sisi pengeluaran, sektor konsumsi rumah tangga bertindak sebagai sumber pendorong pertumbuhan terbesar yakni mencapai angka 2,67 persen, seiring dengan adanya catatan pertumbuhan sebesar 5,06 persen (yoy) serta tetap mendominasi struktur PDB secara keseluruhan dengan mengantongi pangsa sebesar 53,32 persen.

Dinamika laju pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2026 dari sisi pengeluaran ini turut digerakkan oleh komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang menyumbangkan sumber pertumbuhan sebesar 2,06 persen, serta komponen konsumsi pemerintah yang memberikan sumbangsih sumber pertumbuhan sebesar 1,07 persen. Di sisi lain, komponen net ekspor tercatat memberikan andil sumber pertumbuhan dengan nilai minus 0,78 persen.

Sebagai konteks latar belakang makro, tren pertumbuhan perekonomian global pada sepanjang tahun 2026 diproyeksikan akan berada di kisaran angka 3,0 persen. Proyeksi tersebut mengacu pada catatan resmi yang dirilis oleh pihak Dana Moneter Internasional (IMF) di dalam laporan bertajuk World Economic Outlook edisi Juli 2026.

Berdasarkan hasil proyeksi yang dikeluarkan oleh IMF tersebut, tingkat perekonomian di kawasan negara-negara berkembang diperkirakan mampu bertumbuh sebesar 3,8 persen pada tahun 2026 apabila dikomparasikan dengan kondisi tahun 2025, di mana angka ini masih terpantau lebih tinggi jika dibandingkan dengan proyeksi rata-rata global.

Temuan hasil proyeksi dari IMF tersebut sekaligus mengindikasikan bahwa tingkat laju inflasi di negara-negara berkembang pada tahun 2026 ini cenderung berada di posisi yang lebih tinggi ketimbang kondisi perekonomian global secara umum.

Selanjutnya, jika dicermati dari performa negara-negara yang menjadi mitra dagang utama bagi Indonesia, kawasan negara Vietnam dan Malaysia tercatat menunjukkan tren pertumbuhan yang semakin menguat secara tahunan, baik apabila dibandingkan terhadap pencapaian pada triwulan I 2026 maupun pada periode triwulan II 2025.

Negara Singapura dan Korea Selatan pun turut mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang menguat jika disandingkan dengan catatan pada triwulan II 2025, kendati demikian laju pertumbuhan kedua negara tersebut terpantau melambat apabila dibandingkan terhadap perolehan pada triwulan I 2026.

Adapun negara Amerika Serikat (AS) membukukan pertumbuhan yang melambat jika dibandingkan dengan triwulan I 2026 serta tumbuh secara stagnan apabila dikomparasikan dengan periode triwulan II 2025. Sementara itu, Tiongkok mencatatkan pertumbuhan yang melambat baik saat dibandingkan terhadap triwulan I 2026 maupun triwulan II 2025. 

Kendati demikian, secara keseluruhan struktur perekonomian dari beberapa negara mitra dagang utama Indonesia tersebut terpantau masih tetap berada dalam jalur pertumbuhan positif.

Tags

Terkini