Rupiah Menguat ke Rp17.933 per Dolar AS Pasca Data PDB Kuartal II

Rabu, 05 Agustus 2026 | 01:29:32 WIB
mata uang dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah [FOTO: NET].

JAKARTA — Nilai tukar mata uang rupiah mengakhiri perdagangan Rabu (5/8/2026) dengan torehan penguatan yang relatif signifikan di hadapan dolar Amerika Serikat (AS).

Laju positif rupiah sejalan dengan membaiknya persepsi risiko global menyusul terkoreksinya harga minyak, yang pada gilirannya meredam kekhawatiran atas tekanan inflasi akibat dinamika geopolitik. 

Dari dalam negeri, capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2026 yang melampaui estimasi turut mendongkrak optimisme investor terhadap fundamental ekonomi nasional.

Mata uang Garuda menutup sesi perdagangan pada level Rp17.933 per dolar AS, terangkat 94 poin atau setara 0,52%. Pencapaian ini menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan performa paling unggul di kawasan Asia sepanjang hari ini.

Sementara itu, jajaran mata uang Asia yang membukukan kenaikan tertinggi terhadap dolar AS dipimpin oleh peso Filipina yang menguat 0,69%, disusul dolar Taiwan 0,50%, rupiah 0,52%, won Korea Selatan 0,28%, baht Thailand 0,16%, rupee India 0,18%, serta ringgit Malaysia 0,05%. 

Adapun pelemahan terhadap dolar AS hanya dialami oleh sedikit mata uang regional, di mana dolar Singapura terkikis 0,02% dan yuan China cenderung bergerak stabil.

Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai bahwa apresiasi rupiah didorong oleh melandainya tekanan eksternal seiring merosotnya harga minyak mentah dunia di tengah menguatnya asa perdamaian di Timur Tengah.

"Rupiah ditutup menguat cukup besar di level 17.933 terhadap dolar AS oleh menurunnya harga minyak mentah dunia di tengah harapan damai di Timur Tengah. Data PDB kuartal II Indonesia yang lebih kuat dari perkiraan semakin mendukung penguatan rupiah," ujarnya, Rabu (5/8/2026).

Pertumbuhan PDB Indonesia pada kuartal II/2026 mencatatkan ekspansi 3,73% secara kuartalan (quarter-to-quarter), serta tumbuh 5,29% secara tahunan (year-on-year).

Menurut Lukman, para pelaku pasar selanjutnya bakal mencermati sejumlah pengumuman data ekonomi penting dari Amerika Serikat yang berpeluang memengaruhi arah pergerakan dolar AS. 

Beberapa rilis indikator penting yang dinantikan antara lain data ISM Services dan ADP Amerika Serikat yang dijadwalkan meluncur malam ini.

Jika tak ada sentimen negatif dari faktor eksternal, rupiah diproyeksikan masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatannya di rentang Rp17.850-Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan Kamis (6/8/2026).V

Tags

Terkini