PTPP

PTPP Catat Perolehan Kontrak Baru Mencapai Puluhan Triliun di 2025

PTPP Catat Perolehan Kontrak Baru Mencapai Puluhan Triliun di 2025
PTPP Catat Perolehan Kontrak Baru Mencapai Puluhan Triliun di 2025

JAKARTA - Emiten konstruksi BUMN, PT PP (Persero) Tbk. atau PTPP, mencatatkan total kontrak baru senilai Rp24,95 triliun sepanjang 2025. Meskipun mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp27,09 triliun, perusahaan tetap optimistis menghadapi proyek-proyek strategis di berbagai sektor.

Corporate Secretary PTPP, Joko Raharjo, menyampaikan bahwa mayoritas kontrak baru bersumber dari proyek pemerintah, dengan porsi mencapai 45%. Posisi berikutnya diisi oleh proyek BUMN sebesar 35%, sedangkan sektor swasta memberikan kontribusi 20% terhadap total kontrak baru.

Komposisi Proyek Berdasarkan Sektor

Dilihat dari segmentasi usaha, sektor gedung mendominasi portofolio dengan kontribusi 35% terhadap total kontrak. Infrastruktur jalan dan jembatan berada di posisi kedua dengan porsi 16%, diikuti sektor pertambangan 12% dan pembangkit listrik atau power plant 11%.

Selain itu, sektor pelabuhan menyumbang 10% terhadap total kontrak, sementara irigasi memberikan kontribusi 6% dan bendungan 4%. Sektor minyak dan gas tercatat 3%, sedangkan industri dan bandara masing-masing berkontribusi 2% dan 1%.

“PTPP berkomitmen untuk menyelesaikan seluruh proyek sesuai target, standar kualitas, serta mengutamakan keselamatan dan keberlanjutan,” ujar Joko saat dihubungi pada Selasa, 20 Januari 2026. Pernyataan ini menegaskan fokus perusahaan pada prinsip sustainability dalam pelaksanaan proyek-proyek besar.

Proyek Strategis dan Kontribusi Utama

Beberapa proyek strategis menjadi kontributor utama terhadap pencapaian kontrak baru PTPP. Di antaranya adalah pembangunan Combined Cycle Power Plant (PLTGU) Batam-1 120MW senilai Rp2,68 triliun, yang menjadi proyek pembangkit listrik terbesar sepanjang tahun 2025.

Proyek New Priok East Access Phase II senilai Rp2,33 triliun juga menjadi kontributor signifikan, menambah portofolio infrastruktur penting di sektor transportasi. Selain itu, PTPP mengamankan proyek infrastruktur tambang Itacha 2 terkait pembangunan haul road senilai Rp1,93 triliun.

Proyek jalan tol Kataraja Phase II senilai Rp1,35 triliun turut memperkuat portofolio infrastruktur jalan dan jembatan perusahaan. Sementara itu, pembangunan Mandiri Financial Center di kawasan PIK dengan nilai kontrak Rp878,37 miliar menegaskan kehadiran PTPP di sektor gedung komersial.

Proyeksi Kontrak dan Pendapatan Tahun 2026

Menatap tahun 2026, PTPP menargetkan perolehan kontrak baru sekitar Rp23,6 triliun, sedikit menurun dibanding pencapaian 2025. Direktur Utama PTPP, Novel Arsyad, menyebutkan proyeksi pendapatan untuk tahun buku 2026 mencapai Rp16 triliun, dengan evaluasi lebih lanjut terkait target laba bersih perseroan.

“Kontrak tahun depan kami proyeksikan sekitar Rp23,5 triliun,” ujar Novel dalam konferensi pers usai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di Jakarta pada Kamis, 18 Desember 2025. Target ini mencerminkan upaya manajemen untuk menjaga keberlanjutan proyek dan stabilitas finansial perusahaan.

Hingga kuartal III/2025, PTPP mencatat pendapatan sebesar Rp10,73 triliun. Jumlah ini mengalami penurunan 23,33% dibanding periode sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp14 triliun, dipengaruhi oleh penyesuaian proyek dan dinamika pasar konstruksi.

Berikut perolehan 5 kontrak baru terbesar PTPP sepanjang 2025:

Combined Cycle Power Plant (PLTGU) Batam-1 120MW: Rp2,68 triliun

New Priok East Access Phase II: Rp2,33 triliun

Itacha 2 (Provision of Procurement & Construction for Haul Road): Rp1,93 triliun

Kataraja Toll Road Phase II: Rp1,35 triliun

Mandiri Financial Center PIK: Rp878,37 miliar

Porsi proyek pemerintah yang mendominasi menunjukkan fokus perusahaan pada pembangunan infrastruktur nasional. Keberhasilan PTPP mendapatkan kontrak pemerintah diharapkan dapat menjaga keberlanjutan bisnis dan memberikan kontribusi bagi percepatan pembangunan negara.

Manajemen PTPP menekankan pentingnya penyelesaian proyek tepat waktu, sesuai spesifikasi, dan mengedepankan prinsip keselamatan. Hal ini menjadi komitmen perusahaan untuk menjaga reputasi serta meningkatkan kepercayaan klien dan pemangku kepentingan.

Sektor infrastruktur jalan dan jembatan menjadi fokus utama bagi ekspansi PTPP di tahun mendatang. Peningkatan proyek infrastruktur ini diharapkan dapat mendukung konektivitas nasional sekaligus membuka peluang kerja baru di berbagai daerah.

Sementara itu, sektor gedung tetap menjadi pilar utama pendapatan PTPP, terutama proyek komersial seperti pusat perkantoran dan fasilitas publik. Portofolio proyek gedung ini memberikan kontribusi signifikan terhadap stabilitas arus kas dan profitabilitas perusahaan.

Dalam menghadapi persaingan industri konstruksi, PTPP tetap berfokus pada pengelolaan risiko dan efisiensi operasional. Strategi ini diharapkan dapat menjaga margin keuntungan meskipun nilai kontrak baru mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya.

Selain proyek pemerintah dan BUMN, PTPP juga aktif mencari peluang di sektor swasta. Proyek swasta memberikan kontribusi 20% terhadap total kontrak baru dan memungkinkan diversifikasi portofolio untuk mengurangi ketergantungan pada sumber pendanaan tertentu.

PTPP menegaskan bahwa seluruh proyek dilaksanakan dengan mengutamakan sustainability. Penerapan praktik konstruksi ramah lingkungan dan prinsip keselamatan kerja menjadi standar utama dalam setiap proyek yang dijalankan.

Direksi PTPP optimistis bahwa target kontrak baru sebesar Rp23,5 triliun pada 2026 dapat dicapai dengan dukungan sumber daya manusia, teknologi konstruksi modern, dan manajemen proyek yang matang. Hal ini sekaligus memperkuat posisi PTPP sebagai salah satu emiten konstruksi BUMN terkemuka di Indonesia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index