Danantara

Danantara Targetkan Laba BUMN Rp350 Triliun pada 2026 Lewat Hilirisasi dan Konsolidasi

Danantara Targetkan Laba BUMN Rp350 Triliun pada 2026 Lewat Hilirisasi dan Konsolidasi
Danantara Targetkan Laba BUMN Rp350 Triliun pada 2026 Lewat Hilirisasi dan Konsolidasi

JAKARTA - Ambisi peningkatan kinerja badan usaha milik negara memasuki fase yang lebih terukur dengan penetapan target laba besar pada 2026. Langkah ini mencerminkan optimisme Danantara Indonesia terhadap hasil konsolidasi dan transformasi yang sedang berjalan.

Alih-alih hanya mengejar pertumbuhan jangka pendek, Danantara menempatkan laba sebagai indikator keberhasilan restrukturisasi menyeluruh. Target tersebut disusun seiring pelaksanaan puluhan proyek strategis yang dinilai mampu memperkuat fondasi bisnis BUMN.

Danantara Indonesia menargetkan laba badan usaha milik negara mencapai sekitar Rp350 triliun pada 2026. Target ini ditetapkan seiring dengan pelaksanaan puluhan proyek strategis dan percepatan konsolidasi BUMN di berbagai sektor.

Chief Operating Officer BPI Danantara, Dony Oskaria, menyampaikan bahwa agenda kerja tahun 2026 dirancang cukup padat. Fokus utama diarahkan pada proyek hilirisasi dan program transformasi yang menyentuh struktur inti BUMN.

Puluhan Proyek Jadi Penopang Target Laba

Dony menjelaskan bahwa pada 2026 terdapat total 41 proyek yang tengah dikerjakan Danantara. Proyek tersebut terdiri dari 20 proyek hilirisasi dan 21 program transformasi BUMN, termasuk merger dan konsolidasi.

Proyek-proyek ini disusun untuk mendorong efisiensi dan peningkatan nilai tambah dari aset negara. Dengan jumlah yang cukup besar, proyek tersebut diharapkan memberikan dampak signifikan terhadap kinerja keuangan BUMN.

“Untuk tahun 2026, rencana kerja kami menargetkan laba BUMN sekitar Rp350 triliun,” ujar Dony di Jakarta, Rabu (28/01/2026).

Target laba tersebut tidak ditetapkan tanpa dasar perhitungan yang matang. Danantara melihat potensi pertumbuhan dari hasil konsolidasi dan optimalisasi proyek strategis yang mulai menunjukkan progres.

Proyek hilirisasi menjadi salah satu pilar utama dalam strategi peningkatan laba. Hilirisasi dinilai mampu memperpanjang rantai nilai dan meningkatkan pendapatan BUMN secara berkelanjutan.

Hilirisasi dan Transformasi Jadi Fokus Utama

Beberapa proyek hilirisasi yang dijalankan antara lain pengolahan bauksit menjadi alumina. Proyek ini ditargetkan memulai groundbreaking pada awal Februari sebagai penanda dimulainya fase konstruksi.

Selain itu, pengembangan biofuel juga masuk dalam daftar prioritas hilirisasi. Proyek ini diharapkan mampu mendukung ketahanan energi sekaligus memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan.

Sejumlah proyek hilirisasi lainnya turut dijalankan untuk memperkuat sektor industri berbasis sumber daya alam. Langkah ini bertujuan agar BUMN tidak hanya berperan sebagai pengekspor bahan mentah.

Sementara itu, program transformasi BUMN difokuskan pada konsolidasi dan penyehatan perusahaan. Transformasi ini dirancang agar kinerja keuangan BUMN menjadi lebih efisien dan berkelanjutan.

Program merger dan konsolidasi menjadi bagian penting dari agenda tersebut. Dengan struktur yang lebih ramping, BUMN diharapkan mampu meningkatkan daya saing dan profitabilitas.

Transformasi juga mencakup perbaikan tata kelola dan penguatan manajemen risiko. Langkah ini dipandang penting untuk mencegah pemborosan dan meningkatkan kepercayaan pasar.

Kinerja Historis Jadi Dasar Penetapan Target

Dony menjelaskan bahwa secara kinerja historis, laba BUMN pada 2025 secara normalisasi mencapai Rp332 triliun. Angka ini menjadi salah satu dasar perhitungan dalam menetapkan target laba 2026.

Namun, kinerja tersebut tidak terlepas dari langkah korektif yang dilakukan Danantara. Pada 2025, BUMN mencatatkan impairment sebagai bagian dari perbaikan fundamental.

Impairment yang dicatat mencapai Rp55 triliun. Langkah ini dilakukan untuk membersihkan neraca dan mencerminkan kondisi keuangan yang lebih realistis.

“Laba BUMN 2025 secara normalisasi mencapai Rp332 triliun, tetapi setelah impairment, realisasinya berada di kisaran Rp280 triliun hingga Rp295 triliun,” katanya.

Pencatatan impairment ini dinilai sebagai langkah penting meskipun berdampak pada laba jangka pendek. Danantara memandang perbaikan fundamental sebagai fondasi pertumbuhan jangka panjang.

Dengan neraca yang lebih sehat, BUMN diharapkan mampu menjalankan ekspansi secara lebih terukur. Hal ini juga menjadi bekal penting dalam menghadapi tantangan ekonomi global.

Dampak Jangka Panjang Konsolidasi BUMN

Dony menegaskan bahwa konsolidasi dan transformasi BUMN tidak semata-mata bertujuan mengejar laba. Langkah ini juga diarahkan untuk meningkatkan return on asset secara berkelanjutan.

Return on asset yang lebih baik akan mencerminkan efisiensi penggunaan aset negara. Dengan demikian, BUMN dapat memberikan kontribusi yang lebih optimal bagi perekonomian nasional.

Kontribusi tersebut tidak hanya diukur dari besaran laba. Peran BUMN dalam setoran pajak dan pelaksanaan fungsi sosial juga menjadi perhatian utama.

Danantara menilai bahwa BUMN memiliki tanggung jawab strategis dalam mendukung pembangunan nasional. Oleh karena itu, keseimbangan antara profitabilitas dan peran sosial menjadi prinsip utama transformasi.

Proses konsolidasi BUMN ditargetkan dapat diselesaikan pada 2026. Penyelesaian ini diharapkan menjadi titik balik bagi peningkatan kinerja keuangan pada tahun-tahun berikutnya.

Dengan struktur yang lebih efisien, dampak konsolidasi terhadap laba diperkirakan akan semakin terlihat. Danantara optimistis hasil transformasi akan memberikan manfaat jangka panjang.

Target laba Rp350 triliun pada 2026 menjadi simbol arah baru pengelolaan BUMN. Target ini mencerminkan upaya serius dalam membangun BUMN yang sehat, kuat, dan berdaya saing.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index