Kemendikdasmen

Kemendikdasmen Luncurkan Panduan Pembelajaran Darurat Bagi Sekolah Terdampak Bencana 2026

Kemendikdasmen Luncurkan Panduan Pembelajaran Darurat Bagi Sekolah Terdampak Bencana 2026
Kemendikdasmen Luncurkan Panduan Pembelajaran Darurat Bagi Sekolah Terdampak Bencana 2026

JAKARTA - Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikdasmen merilis Panduan Pendidikan Kebencanaan serta Juknis Pembelajaran bagi satuan pendidikan terdampak bencana. Langkah ini dilakukan agar hak belajar murid tetap terpenuhi meski kondisi darurat terjadi.

Kepala BSKAP, Toni Toharudin, menekankan Indonesia merupakan negara rawan bencana, mulai dari gempa bumi, banjir, hingga erupsi gunung berapi. Oleh karena itu, kesiapsiagaan bencana harus diterapkan di semua level pendidikan dan pemerintahan.

Menurut Toni, kesiapsiagaan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat atau daerah. Setiap satuan pendidikan perlu mampu melakukan mitigasi, bertahan, serta pemulihan pasca-bencana agar proses belajar tetap berjalan.

Panduan ini juga bertujuan membantu guru dan tenaga kependidikan menyesuaikan kegiatan belajar. Dengan demikian, pendidikan tidak berhenti meski bencana melanda wilayah tertentu.

Kemandirian Sekolah dalam Menyesuaikan Kurikulum

Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, Laksmi Dewi, menjelaskan satuan pendidikan diberikan kebebasan menyesuaikan kurikulum sesuai kondisi bencana. Poin utama tercantum dalam juknis agar guru dapat merancang pembelajaran yang relevan.

Sekolah tidak diwajibkan menuntaskan seluruh capaian pembelajaran yang biasa diterapkan. Fokus utama diarahkan pada dukungan psikososial, keselamatan diri, mitigasi bencana, serta literasi dan numerasi esensial bagi siswa.

Kebijakan ini memungkinkan sekolah menentukan prioritas materi yang paling penting. Dengan begitu, murid tetap mendapatkan pembelajaran bermakna tanpa terbebani target kurikulum penuh.

Guru diberi keleluasaan memilih metode pembelajaran sesuai kemampuan fasilitas di daerah terdampak. Hal ini membantu menyesuaikan praktik belajar dengan kondisi lapangan yang seringkali tidak ideal.

Asesmen dan Penilaian yang Fleksibel

Kemendikdasmen menerapkan asesmen fleksibel bagi sekolah terdampak bencana. Penilaian hasil belajar dapat dilakukan melalui metode sederhana seperti portofolio, proyek, atau penugasan.

Sekolah tidak diwajibkan mengadakan ujian tertulis kaku di akhir semester. Pendekatan ini membantu guru menilai kemampuan siswa secara adaptif sesuai kondisi nyata di lapangan.

Asesmen fleksibel juga mengurangi tekanan psikologis bagi murid yang mengalami trauma akibat bencana. Dengan demikian, proses evaluasi tetap berjalan tanpa mengorbankan kesehatan mental siswa.

Guru dan tenaga kependidikan dapat menyesuaikan bentuk penilaian dengan situasi lokal. Misalnya, tugas mandiri di rumah atau kelompok kecil yang tetap mematuhi protokol keselamatan.

Metode Adaptif dalam Pembelajaran

Metode adaptif diterapkan agar pembelajaran tetap berlanjut meski fasilitas terbatas. Guru dapat melaksanakan tatap muka terbatas atau pembelajaran mandiri sesuai kondisi sarana dan prasarana.

Pendekatan ini memungkinkan sekolah memanfaatkan ruang, teknologi, atau media yang tersedia. Siswa tetap memperoleh materi penting tanpa harus berkumpul dalam jumlah banyak.

Metode adaptif juga mendorong kreativitas guru dalam menyampaikan materi. Misalnya, melalui modul cetak, media daring sederhana, atau kegiatan praktis di lingkungan sekitar.

Selain itu, pendekatan ini mendukung keselamatan siswa dan guru selama masa darurat. Sekolah tetap menjadi tempat belajar yang aman tanpa mengabaikan protokol keselamatan bencana.

Dukungan Psikososial dan Literasi Esensial

Panduan juga menekankan pentingnya dukungan psikososial bagi murid terdampak bencana. Guru diarahkan untuk memberi perhatian khusus terhadap kondisi emosional dan trauma siswa.

Literasi dan numerasi esensial menjadi prioritas agar kemampuan dasar tetap terjaga. Hal ini memastikan murid tidak tertinggal dalam kompetensi inti meski pembelajaran berlangsung terbatas.

Sekolah diberikan fleksibilitas untuk memadukan materi akademik dengan kegiatan mitigasi bencana. Siswa belajar sambil memahami langkah-langkah keselamatan dan cara menghadapi bencana secara praktis.

Program ini diharapkan membentuk kesadaran dini terhadap bencana. Selain itu, murid tetap terhubung dengan kegiatan belajar yang aman dan bermakna.

Harapan Kemendikdasmen untuk Sekolah Terdampak

Kemendikdasmen berharap panduan ini dapat menjadi acuan praktis bagi sekolah di seluruh Indonesia. Guru dan kepala sekolah memiliki pedoman jelas untuk mengatur pembelajaran darurat.

Dengan penerapan juknis ini, proses belajar tetap berlanjut meski terjadi gempa, banjir, atau erupsi. Sekolah menjadi tempat yang adaptif dan tanggap terhadap situasi darurat.

Toni Toharudin menekankan kesiapsiagaan bencana di sekolah akan memperkuat ketahanan pendidikan. Murid tetap mendapatkan hak belajar yang layak dan berkualitas, bahkan di tengah kondisi sulit.

Panduan ini juga diharapkan mempermudah koordinasi antara pemerintah pusat, daerah, dan satuan pendidikan. Semua pihak dapat bekerja sama untuk memastikan pendidikan tetap berjalan meski bencana terjadi.

Kemendikdasmen menekankan pentingnya kesiapan guru dan tenaga kependidikan. Mereka harus mampu menerapkan strategi adaptif, fleksibel, dan aman agar murid tetap belajar dengan efektif.

Dengan langkah ini, pendidikan di Indonesia menjadi lebih resilien terhadap bencana. Murid tetap memperoleh ilmu, perlindungan, dan dukungan psikososial yang memadai untuk menghadapi situasi darurat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index