JAKARTA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkokoh komitmen untuk menciptakan kelompok lanjut usia (lansia) yang sehat, aktif, mandiri, dan bermartabat, lewat pelaksanaan Indonesia Active Ageing Summit 2026 sebagai bagian dari langkah penguatan layanan kesehatan.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus dalam penjelasan yang divalidasi di Jakarta, Minggu, menuturkan kesuksesan pembangunan tidak cuma dinilai berdasarkan naiknya angka harapan hidup, melainkan juga dari kesiapan warga untuk senantiasa sehat, aktif, serta mempunyai kualitas hidup yang prima sampai usia tua.
"Saat ini Indonesia telah memasuki era ageing population dengan jumlah penduduk lansia mencapai sekitar 34 juta jiwa atau hampir 12 persen dari total populasi. Seiring meningkatnya angka harapan hidup, pemerintah terus memperkuat berbagai program promotif dan preventif untuk mencegah penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama kecacatan dan kematian pada usia lanjut," kata Wamenkes Benjamin.
Dia memaparkan sasaran sekarang ini bukan hanya memperlama usia, melainkan menjamin warga tetap mampu aktif, produktif, serta terhormat di masa tua.
"Kami ingin masyarakat Indonesia hidup lebih panjang dalam keadaan sehat, bukan hidup lebih lama tetapi dalam kondisi sakit," ucapnya.
Menurut dia, mayoritas beban penyakit yang diderita golongan lansia bisa dihindari lewat penerapan pola hidup sehat semenjak usia muda.
Gangguan kesehatan layaknya hipertensi, diabetes, stroke, hingga gagal ginjal, menjadi persoalan besar yang memerlukan perhatian dari seluruh pihak.
“Banyak kasus stroke dan gagal ginjal sebenarnya berawal dari hipertensi dan diabetes yang tidak terkontrol. Karena itu upaya menjaga kesehatan harus dimulai sejak usia produktif melalui pola makan sehat, aktivitas fisik yang cukup, serta pemeriksaan kesehatan secara rutin,” katanya.
Dia turut menggarisbawahi krusialnya memelihara kebugaran tubuh lewat kegiatan simpel, layaknya berjalan kaki atau berolahraga paling sedikit 30 menit sehari selama lima hari dalam seminggu. Kegiatan fisik terbukti efektif menyokong pemeliharaan fungsi organ tubuh, memperlancar aliran darah, serta menjaga kemandirian para lansia.
Pemerintah pun memacu penguatan sistem perawatan jangka panjang (long-term care) yang bertumpu pada keluarga serta komunitas.
Metode tersebut dipandang krusial mengingat kian bertambahnya jumlah lansia yang memerlukan asistensi dan perawatan di kediaman mereka.
“Ukuran kemajuan bangsa bukan hanya seberapa jauh kami melangkah, tetapi juga siapa yang kami lindungi sepanjang perjalanan. Lansia bukan beban, melainkan aset bangsa yang harus dijaga kesehatan, fungsi, dan martabatnya,” kata Wamenkes Benjamin.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes Maria Endang Sumiwi mengutarakan bahwa pihaknya senantiasa melebarkan jangkauan layanan kesehatan yang ramah bagi lansia melalui langkah transformasi layanan primer.
"Hingga saat ini sebanyak 8.911 puskesmas telah menerapkan Integrasi Layanan Primer (ILP) yang melayani seluruh siklus hidup termasuk kelompok lansia. Selain itu, sebanyak 9.013 puskesmas telah menyelenggarakan layanan perawatan jangka panjang dan 7.887 puskesmas telah menjadi puskesmas ramah lansia," katanya.