Saham BACH Resmi ARA, Targetkan Pendapatan Rp3 Triliun pada 2030

Saham BACH Resmi ARA, Targetkan Pendapatan Rp3 Triliun pada 2030
Usai IPO Langsung ARA, BACH Bidik Pendapatan Rp3 Triliun di 2030 [FOTO: NET].

JAKARTA - PT Bach Multi Global Tbk (BACH) mematok target perolehan omset sebesar Rp3 triliun pada tahun 2030 setelah resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (8/7/2026). Target bersangkutan disokong oleh prospek cerah pertumbuhan sektor bisnis sistem kelistrikan (power system) serta sarana infrastruktur telekomunikasi. 

Perusahaan pun mengandalkan jaminan backlog proyek yang sudah diperoleh sekaligus taktik mitigasi risiko fluktuasi nilai tukar lewat penyesuaian harga dan langkah lindung nilai (hedging).

Direktur Utama Bach Multi Global Budi Kurniawan memaparkan bahwa target capaian omset Rp3 triliun tersebut dikategorikan realistis. Pihak emiten mengamati bahwa potret pertumbuhan ekonomi di dalam negeri masih bernilai positif. 

Di samping itu, permintaan pasar terhadap lini bisnis power system serta infrastruktur telekomunikasi terus merangkak naik lantaran telah menjelma menjadi kebutuhan primer masyarakat.

“Untuk pertanyaan terkait dengan target Rp 3 triliun di 2030, kami sangat optimis karena kami melihat juga dari sisi pertumbuhan ekonomi di Indonesia maupun lini bisnis kami di power system, maupun di infrastruktur telekomunikasi yang merupakan kebutuhan dasar masyarakat,” ujar Budi ketika konferensi pers berlangsung selepas pencatatan saham perdana BACH di Gedung BEI.

Budi ikut menaruh rasa optimistis atas capaian rapor keuangan emiten untuk tahun buku 2026. Keyakinan tersebut ditopang oleh kepemilikan backlog proyek serta barisan pesanan yang telah diamankan.

 Kondisi bersangkutan diproyeksikan mampu merawat tren pertumbuhan usaha untuk kurun waktu beberapa tahun ke depan. Di sisi lain, perseroan menaksir torehan laba bersih bakal terus merangkak naik.

“Mungkin dari sisi 2026 ini, kami juga optimis karena kami juga sudah melihat ada backlog yang kami punya, order-order yang kami punya juga. Artinya sampai 2026 kami optimis gitu ya. Lalu untuk bottom line-nya kami optimis juga naik juga gitu ya. Artinya cukup bagus lah kami optimis,” paparnya.

Menyikapi pergerakan fluktuatif nilai tukar mata uang, Budi berpendapat aspek tersebut terhitung sebagai risiko eksternal yang tidak dapat dihindari. 

Oleh sebab itu, perusahaan telah meramu deretan langkah mitigasi, meliputi penaikan nominal harga jual produk hingga menjalankan strategi lindung nilai atas eksposur mata uang asing.

“Jadi mungkin kalau yang pertanyaan kami mitigasinya kalau masalah mata uang sebenarnya itu kan tidak bisa kami hindari ya. Jadi kami caranya itu pertama mungkin harga jual kami tingkatkan. Yang kedua kami juga dengan melakukan hedging kursenya kami,” pungkas dia.

Direktur BACH Hasby Jap mengutarakan bahwa target raihan omset Rp3 triliun di tahun 2030 yang tertera di dalam dokumen prospektus digolongkan moderat. 

Target bersangkutan dikonsep berdasarkan rekam tren pertumbuhan performa operasional perseroan pada kurun beberapa tahun ke belakang. 

Rapor pendapatan milik BACH bertumbuh kisaran 39 persen pada jangka waktu 2023 hingga 2024. Capaian tersebut kembali menanjak mendekati 25 persen pada periode tahun 2024 sampai 2025. 

Bersandarkan performa itu, target ritme pertumbuhan rata-rata kisaran 12 persen per tahun hingga tahun 2030 dinilai masih rasional.

“Jadi tadi seperti disampaikan 12 persen itu sangat moderat ya, kami targetnya ya. Jadi kita harapkan dan cukup optimis untuk bisa mencapai target tersebut,” ucap Hasby.

Guna diketahui bersama, pergerakan saham BACH langsung mengunci batas tertinggi auto rejection atas (ARA) ketika mengawali perdagangan perdana di lantai BEI pada Rabu (8/7/2026).

 Mulai dari pembukaan jam perdagangan pukul 09.00 WIB, saham BACH melesat menuju level ARA dan kokoh bertahan hingga perdagangan sesi kedua.

Sepanjang agenda penawaran umum perdana saham (IPO), BACH melepas sebanyak 615 juta lembar saham baru atau setara dengan 15,06 persen dari jumlah modal ditempatkan dan disetor penuh pasca-IPO, dengan nominal harga Rp442 per saham. 

Lewat pelaksanaan langkah strategis ini, emiten berhasil mengumpulkan dana segar senilai kurang lebih Rp271,83 miliar.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index