JAKARTA - Presiden RI Prabowo Subianto mengakui bahwa sektor pendidikan di Indonesia saat ini masih menghadapi tantangan ketertinggalan yang cukup signifikan.
"Kami paham pendidikan kami itu banyak ketertinggalan, negara kami sangat besar, luas," ujar Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna (SKP) di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (20/7/2026).
Prabowo menyadari bahwa masa depan bangsa sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia sejak dini.
"Kami paham dan mengerti bahwa masa depan ditentukan oleh kualitas manusia kami, anak-anak kami, kualitas fisik, kesehatan, karena itu gizi juga sangat penting, tapi juga kualitas pendidikan," ucapnya.
Guna mengejar ketertinggalan tersebut, pemerintah secara masif mendistribusikan Interactive Flat Panel (IFP) atau papan interaktif digital ke berbagai sekolah di Indonesia. Langkah ini merupakan strategi pemerintah untuk memeratakan akses pendidikan melalui teknologi.
"Kami memiliki 288.000 sekolah, banyak di tempat terpencil, salah satu upaya kami adalah digitalisasi, kami sudah berbagi Interactive Flat Panel, layar pintar di seluruh sekolah Indonesia, satu per sekolah tahun lalu," ungkapnya.
Pemerintah menargetkan penambahan tiga unit IFP per sekolah tahun ini agar dapat digunakan pada semester pertama 2027.
"Tahun ini kami akan tambah tiga per sekolah saya harap di akhir 2026 sudah terkirim tambahan 700.000 panel atau semester pertama 2027," tuturnya. Dengan penggunaan IFP, Prabowo berharap siswa dan guru dapat memperoleh akses materi pembelajaran dengan kualitas terbaik. "Apa artinya ini? Anak-anak kami, guru-guru kami, punya akses untuk materi pembelajaran terbaik," jelas dia.