Rupiah Melemah ke Rp17.977, Dipicu Konflik AS-Iran dan Harga Minyak

Rupiah Melemah ke Rp17.977, Dipicu Konflik AS-Iran dan Harga Minyak
Rupiah Tertekan Konflik AS-Iran, BI Diprediksi Naikkan Suku Bunga [FOTO: NET].

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terpantau melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan hari Senin (20/7/2026). Penurunan nilai mata uang ini dipicu oleh meningkatnya eskalasi konflik geopolitik antara AS dan Iran, yang berdampak pada kenaikan harga minyak dunia serta penguatan indeks dolar AS.

Merujuk data perdagangan, rupiah pada Senin pagi terdepresiasi 56 poin atau 0,31 persen ke level Rp17.977 per dolar AS. Sebagai pembanding, pada sesi perdagangan sebelumnya, rupiah ditutup di angka Rp17.921 per dolar AS.

 Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menyatakan bahwa pelemahan rupiah ini sangat dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik yang terjadi antara AS dan Iran.

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah pada kisaran di Rp17.900- Rp18 ribu dipengaruhi faktor global eskalasi konflik geopolitik yang berakibat pada kenaikan harga minyak dan index dollar yang menguat,” ujarnya kepada ANTARA di Jakarta, Senin.

Eskalasi konflik meningkat setelah Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan dimulainya serangkaian serangan baru terhadap Iran. 

Operasi tersebut diklaim bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz, sekaligus merespons serangan Garda Revolusi Islam terhadap personel militer AS di Yordania. 

Iran kemudian dilaporkan membalas dengan melancarkan serangan drone berskala besar terhadap dua instalasi militer AS di Kuwait. 

Militer Iran menyatakan serangan tersebut menyasar gudang amunisi di Camp Al Adiri, sistem rudal Patriot, serta instalasi radar pertahanan udara di Pangkalan Udara Ali Al Salem.

Ketegangan di Timur Tengah menjadi fokus pasar karena berpotensi mengganggu stabilitas perdagangan serta pasokan energi global. Kondisi ini memicu kenaikan harga minyak dan meningkatkan minat investor terhadap dolar AS sebagai aset safe haven.

Selain faktor global, pelaku pasar turut mengantisipasi kemungkinan perubahan kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).

 Pasar memprediksi BI akan menaikkan suku bunga acuan menjadi 6 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Rabu (22/7/2026) guna mengantisipasi tekanan inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar. “Alasan utama kenaikan suku bunga acuan di antaranya inflasi, nilai rupiah, dan volatility pasar saham seiring dengan review oleh lembaga rating global,” kata Rully.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index