JAKARTA - Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengungkapkan hasil evaluasi di area terdampak banjir Sumatera menunjukkan beberapa wilayah membutuhkan pembenahan tata ruang, termasuk area yang masuk dalam zona penyangga ekologis.
Deputi Bidang Tata Lingkungan dan Sumber Daya Alam Berkelanjutan KLH/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Sigit Reliantoro dalam diskusi di Jakarta, Selasa, menyebutkan peninjauan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) pascabencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mengindikasikan penurunan daya dukung lingkungan.
"Dari segi daya dukung, memang dari segi matra air dia sangat rendah, demikian juga dari segi daya dukung pangan untuk yang laut. Jadi pesisirnya di Aceh dan Sumatera Utara itu sepertinya juga sudah mengalami tekanan yang sangat kuat, sehingga mengalami kerusakan dalam mendukung ketahanan terhadap pangan," jelas Sigit.
Ia menerangkan bahwa perbandingan antara peta kawasan lindung, kawasan hutan, serta data ekosistem mengindikasikan terdapat 59,23 persen wilayah di Aceh yang ketidaksesuaian antara daya dukung dan daya tampung, diikuti Sumatera Utara sebesar 32,14 persen dan Sumatera Barat sebesar 41,67 persen.
"Di Aceh itu paling tidak ada 88 ribu hektare kawasan budidaya yang perlu dihindari untuk pembangunan yang baru. Kemudian juga di Sumatera Utara ada 172 ribu hektare, dan 61 ribu hektare di Sumatera Barat," jelas Sigit.
Adapun area yang tekanan pembangunannya perlu ditekan semaksimal mungkin di Aceh mencakup 2,02 juta hektare, di Sumatera Utara seluas 4,55 juta hektare, serta di Sumatera Barat setinggi 766,99 ribu hektare.
Rekomendasi detail hingga taraf kabupaten/kota buatan KLH/BPLH tersebut telah diserahkan kepada Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Badan Pertanahan Nasional (BPN).
Bukan hanya di bekas lokasi banjir Sumatera, Sigit menyebut langkah serupa sedang diterapkan untuk daerah Jawa Barat dan Bali.
"Kenapa di Jawa Barat? karena kemarin bencana hidrometeorologi mulai dari Bogor, banjir Jakarta, banjir Sukabumi sampai Burangrang yang kemarin ada beberapa desa yang terkena longsor," jelasnya.
Sedangkan untuk provinsi Bali, pemetaan dijalankan lantaran wilayah tersebut beberapa kali dilanda banjir seusai diterpa cuaca ekstrem.