Ada Ekspektasi BI Rate Naik, Rupiah Menguat ke Rp17.891 per Dolar AS

Ada Ekspektasi BI Rate Naik, Rupiah Menguat ke Rp17.891 per Dolar AS
Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.891 per Dolar AS Jelang RDG BI [FOTO: NET].

JAKARTA — Kurs nilai tukar rupiah mengakhiri sesi perdagangan dengan ditutup menguat pada Selasa (21/7/2026).

Apresiasi ini terdorong oleh hadirnya ekspektasi pelaku pasar atas kebijakan Bank Indonesia yang diproyeksikan bakal menaikkan BI Rate dalam agenda Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode Juli 2026.

Merujuk lansiran Trading Economics, nilai mata uang rupiah ditutup terangkat 0,26% atau setara 46,1 poin menuju kisaran Rp17.891 per dolar AS.

Meskipun membukukan penguatan, angka capaian rupiah tersebut sejatinya masih memperlihatkan catatan depresiasi sebesar 10,05% sepanjang periode setahun belakangan.

"Pasar secara luas memperkirakan Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 6,0%," tulis Trading Economics, Selasa (21/7/2026).

Pada gelaran RDG Juni 2026 terdahulu, Bank Sentral Indonesia sempat mengerek BI Rate sebesar 25 basis poin hingga menyentuh 5,75%.

Saat ini, pihak pemerintah sedang mengupayakan langkah penanganan inflasi lantaran angkanya pada Juni lalu sempat menyentuh ambang batas atas sasaran Bank Indonesia pada rentang 1,5% sampai 3,5%.

Langkah penyesuaian naik pada BI rate pun diharapkan mampu memicu stabilitas harga komoditas pangan.

Di sudut lain, daya upaya pemerintah untuk meredam laju inflasi diterpa rintangan lonjakan harga minyak mentah dunia akibat kembali memanasnya tatanan konflik antara AS-Iran.

Arah pergerakan nilai rupiah juga bakal dipengaruhi oleh dinamika iklim perdagangan.

Pihak Trading Economics membeberkan bahwa catatan defisit perdagangan periode Mei 2026 senilai US$1,61 miliar menjadi torehan defisit perdagangan perdana yang dialami dalam jangka waktu enam tahun terakhir.

Di samping itu, dinamika perseteruan global menjadikan Greenback tampil sebagai instrumen lindung nilai yang amat memikat bagi para pemodal.

Pada saat ini, indeks dolar AS (DXY) konsisten bertengger pada level 100,90, biarpun pada perdagangan hari ini, Selasa (21/7), mengakhiri sesi dengan melandai 0,05%.

"Secara global, indeks dolar naik lebih lanjut karena meningkatnya ketegangan AS-Iran menghidupkan kembali kekhawatiran inflasi dan memperkuat pandangan tentang pengetatan kebijakan," tulis rilis laporan tersebut.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index