JAKARTA – PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi menerangkan bahwa fenomena antrean panjang yang mengular di deretan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kota Manado dipicu oleh melonjaknya angka permintaan warga terhadap Biosolar pada beberapa waktu belakangan.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Lilik Hardiyanto, menyampaikan bahwa pihaknya konsisten memantau tingkat konsumsi masyarakat di lapangan sekaligus mengeksekusi penyesuaian alur distribusi apabila diperlukan.
"Kami memahami kondisi antrean di beberapa SPBU di Manado dan Sulawesi Utara. Kami pastikan, dari sisi pasokan stok BBM di Sulawesi Utara dalam kondisi aman dan distribusi ke seluruh SPBU berjalan secara rutin," ujar Lilik, Selasa (21/7/2026).
Sementara itu, Sales Branch Manager I Fuel Sulutgo Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Mohammad Agung Afrizal, menambahkan bahwa tingginya antusiasme warga terhadap jenis Biosolar dipengaruhi oleh perbedaan harga yang cukup timpang jika dibandingkan dengan produk BBM non-subsidi.
"Untuk BBM bersubsidi, Biosolar dijual Rp 6.800 per liter, sedangkan Dexlite sekitar Rp 14.000 per liter. Selisih harga ini membuat masyarakat lebih memilih menggunakan Biosolar," katanya.
Berdasarkan penuturan Agung, kondisi dinamika geopolitik global yang berimbas pada harga minyak mentah dunia turut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi manajemen alur penyaluran BBM.
Kendati demikian, Pertamina terus berupaya mengoptimalkan proses penyaluran, utamanya untuk komoditas BBM bersubsidi yang tata kelolanya dikendalikan langsung oleh pemerintah.
Diterjunkan Petugas "Marshalling" hingga Disiapkannya Stok Demi mengurai penumpukan antrean panjang, Pertamina menerapkan serangkaian langkah taktis, di antaranya memperketat pengawasan penyaluran di SPBU, menempatkan personel marshalling pada titik lokasi berkepadatan tinggi, serta memperkuat koordinasi dengan aparat penegak hukum, Hiswana Migas, dan pemerintah daerah setempat.
Di samping itu, pasokan pasokan dari Fuel Terminal Bitung dipastikan menyuplai sesuai jadwal agar pemenuhan kebutuhan masyarakat dapat konsisten terjaga.
Pertamina juga menempuh strategi pembangunan cadangan stok (build up stock) beserta pemantauan ketat terhadap SPBU yang terdeteksi mengalami kondisi persediaan kritis.
Agung menambahkan, optimalisasi penyaluran dijalankan dengan memastikan SPBU, khususnya yang terletak di sepanjang ruas jalur utama seperti Ring Road, Kairagi, Malalayang, dan Sario, telah mengantongi pasokan Biosolar sejak jam operasional dimulai.
"Sejak SPBU buka, kami upayakan stok Biosolar sudah tersedia sehingga masyarakat tidak perlu menunggu pengiriman dari terminal," ujarnya.
Ia juga menguraikan bahwa petugas marshalling bertugas mengatur barisan antrean agar tetap tertib sekaligus berkoordinasi bersama kepolisian sektor wilayah setempat untuk membantu pemantauan proses penyaluran BBM.
Perketat Sistem QR Code dan Sanksi Bagi SPBU Nakal Di lain sisi, Pertamina menegaskan komitmennya demi mencegah aksi penyalahgunaan Biosolar bersubsidi memanfaatkan optimalisasi sistem digitalisasi penyaluran berbasis QR Code.
"Operator wajib mencocokkan nomor polisi kendaraan dengan QR Code sehingga setiap transaksi dapat tercatat dan dipertanggungjawabkan," kata Agung.
Bilamana dijumpai adanya laporan dugaan praktik penyalahgunaan di area SPBU, Pertamina akan menindaklanjuti dengan pemeriksaan mendalam pada seluruh riwayat data transaksi.
"Jika terbukti terjadi pelanggaran, perusahaan akan memberikan sanksi dan pembinaan kepada SPBU yang bersangkutan," tutup Agung.